Memasak? mengapa tidak

Bagi sebagian orang, memasak adalah sebuah pekerjaan yang rumit, menyita tenaga dan waktu. Boleh jadi penggemar kuliner lebih menyenangi produk akhirnya, mengetahui cara membuatnya, mengenal bahan-bahannya, dan tahu tentang kualitas produk berkaitan dengan bahan, proses, dan tetek bengeknya, tetapi tidak pernah mencoba memasaknya sendiri!
Memasak, bagiku yang sekarang berada diperantauan, adalah satu hal yang sangat penting. Penting karena mampu menghemat kantong. Soal rasa? kata temanku, selama tidak menyebabkan sakit perut, berarti masakannya sudah benar.. :) :)
Memasak sering sekali dianggap keahlian wajib bagi wanita (terutama kultur Asia), namun ada seorang pedangang kelontong di sebuah blok dekat rumah yang mengatakan: koki yang hebat dan terkenal itu malah kebanyakan laki-laki.. nah lho. Aq sendiri berpendapat memasak bukan isu gender, melainkan sebuah hobi dan keterampilan. Menjahit, menyulam, angkat besi, bermain game komputer, semuanya, menurutku, bukan merupakan masalah gender. Aq lebih berpendapat kalau mereka adalah "a matter of preference".
Lalu, seberapa perlunya seseorang melangkapi keahlian memasaknya? Kalau bagiku, memasak bisa mendatangkan banyak teman, setidaknya dengan saling bertukar masakan, resep, bahkan saling demo masak kalau perlu! Aq sangat tertarik dengan masakan khas dari benua lain, misalnya budaya Asia tengah, Asia timur, dan Eropa. Walaupun harus lebih berhati-hati, mengingat tidak semua bahan makanan bisa aq konsumsi.

Sebagai contoh, egg roll, makanan ini sangat populer di Thailand, Vietnam, dan mungkin China. Ternyata yang dimaksud dengan egg roll itu mirip-mirip dengan lumpia di Indonesia. Kebab, contoh yang lain lagi, sangat populer, sebenarnya menyerupai burger tetapi menggunakan roti yang ceper dan lebar sehingga bisa digulung. Keisitimewaan kebab adalah adanya sayuran hummus, yang kalau aq bilang rasanya mirip seledri, tapi ada sedikit rasa khas daun pakis. Kalau dari budaya barat, mungkin yang populer adalah custard. Kalau bicara soal kemiripan, si custard ini mirip dengan isi dari kue sus lho.. jadi ternyata gak beda-beda amat.

Aq merasa beruntung karena lidahku bisa mencicipi hampir semua cita rasa, tanpa ada masalah, kecuali mungkin intoleran terhadap seafood. Beberapa teman yang pernah kujumpai, tidak bisa memakan pizza, ada lagi yang tidak bisa makan kecuali bumbu padang.. dan banyak sekali yang menganggap tidak makan kalau tidak mengkonsumsi nasi.

Kembali soal masak, salah satu kesenangan dalam memasak adalah melihat orang lain makan dengan lahap masakan kita... Jadi selain berhemat, mengenyangkan, memperoleh banyak teman, kita juga dapat beramal dengan cara yang simpel, yaitu memasak.

Kalau begitu, mengapa tidak mencoba untuk belajar memasak sekarang ?

Comments

Popular posts from this blog

Nilai gizi pada jagung dan turunannya

Kembali ke akar: Penggalan Cerita dari Muara Ancalong

Membangun Universitas (3): Menjabarkan Pola Ilmiah Pokok