Menilik kembali maksud untuk berkomentar

Dalam keseharian, aksi dan reaksi merupakan dua mekanisme mayoritas yang dilakukan setiap individu. Melontarkan ide dan memberikan argumen atas ide orang lain adalah bagian dari aksi dan reaksi tersebut.Terkadang aq menyadari, "the unnecessary comment" bisa muncul akibat selip lidah, atau memang karena kita salah mengerti atau memaknai ide dan ucapan orang lain. Pada saat ini, aq harus mengakui bahwa mengucapkan maaf karena sudah salah berkomentar menjadi hal yang berat.
Sebagai contoh, beberapa pemimpin melakukan kesalahan kecil dengan berlebihan memberikan respons atas ucapan orang lain, yang kemudian dibahas dan dibesar-besarkan oleh media sebagai ketidaksabaran dalam menghadapi perbedaan pendapat atau "ada hidden agenda" dari perkataannya tersebut. Stimulus ucapan, dibalas dengan respons ucapan, dapat memicu reaksi pihak pertama ataupun pihak-pihak yang sebenarnya tidak berkepentingan.
Lalu, di level rakyat, ucapan seorang Anton (yang hanya segelintir orang tahu) pun dapat menyebabkan banyak orang tersinggung, walaupun makna yang diharapkannya bukan demikian. Oleh karena itu, sebelum berkomentar, kita mesti mempertimbangkan maksud berkomentar, cara menyampaikan, dan satu hal yang penting bagaimana menyampaikannya.
Bukan maksud hati melatih diri menjadi politikus, tetapi keberhati-hatian harus dilakukan mengingat pepatah mengatakan "lidah lebih tajam dari pedang". Berbicara mengenai pepatah, banyak sekali ucapan orang-orang bijak jaman dahulu yang berkaitan dengan respons terhadap sebuah aksi, misalnya "jika pedang meyebabkan luka fisik, maka lidah menyebabkan luka di hati (bahkan dalam banyak kasus sampai dibawa mati)", "diam itu emas", dan "tiada gading yang tidak retak".
Dalam dua pepatah yang terakhir, mengomentari sesuatu yang berujung kepada debat, akhirnya tidak menyelesaikan masalah atau justru malah memperkeruh masalah. Bahkan, karena tidak ada manusia yang sempurna, apapun yang disampaikan, boleh jadi diterima dengan persepsi yang berbeda oleh orang lain.
Kata para ahli psikologi, berlatih untuk mendengarkan merupakan hal yang tersulit dalam kehidupan. Namun dengan mendengarkan, atau "by the power of observation", sesorang akan mampu memberikan komentar yang tepat atas ucapan orang lain. Dalam banyak hal malah, menjaga ucapan orang lain agar tidak bocor kepada pihak-pihak lainnya merupakan bagian dari cara berkomunikasi dan berkomentar yang diharapkan di masyarakat (apa benar masyarakat sudah tidak senang gosip ?).
Berkomentar dengan memberikan contoh pribadi, bagi bangsa timur, dianggap merupakan cara menonjolkan diri, dan terkadang "irritating" bagi orang yang mendengarkannya. Ditengah masyarakat, dan kadang-kadang diri sendiri, merasa tidak rela mengapa orang lain yang maju bukan saya, ucapan yang mengandung pesan "contohlah saya" atau "saya bisa mencapai sampai segini", biasanya akan dibalas dengan pencapaian-pencapaian yang lebih tinggi dari orang lain dan dari sisi yang sebenarnya tidak berhubungan secara logis dengan materi pembicaraan saat itu.
Lalu, bagaimana aq harus belajar memperbaiki "komentar". Yang akan kucoba dalam 1-2 bulan ke depan, (oleh karena itu aq tulis di blogku sebagai pengingat), adalah mencoba untuk menarik nafas satu atau dua kali sebelum memberikan komentar. Memberikan jeda waktu berfikir 1-2 detik kepada otak untuk memikirkan kembali, apakah berkomentar atau cukup dengan tersenyum.
Apabila ternyata sang otak memutuskan untuk memberikan komentar, akan aq usahakan menarik 1-2 nafas lagi untuk menyusun kata-kata yang seperti apa yang harus keluar dari mulut (atau tulisan) ini.
Sanggup melakukannya Anton ? bismillah.

Comments

Popular posts from this blog

Nilai gizi pada jagung dan turunannya

Kembali ke akar: Penggalan Cerita dari Muara Ancalong

Membangun Universitas (3): Menjabarkan Pola Ilmiah Pokok