Menulis (entah pendapat yang ke berapa kalinya)

Menulis merupakan budaya. Jarang sekali ada sebuah peradaban besar tanpa adanya kebiasaan untuk menyimpan pengetahuan dalam bentuk tulisan, gambar, atau sejenisnya. Menulis juga merupakan salah satu keunggulan manusia dari mahluk lainnya. Dalam taraf kebudayaan, bermanfaat-tidaknya sebuah generasi dimulai dari berapa banyak ilmu pengetahuan yang mampu dikembangkan, disimpan, dan disumbangkan bagi peradaban. Oleh karena itu, superioritas sebuah peradaban sangat ditentukan oleh seberapa mutu dan kualitas tulisan yang dihasilkan dalam perjalanan sejarahnya.
Di lain hal, untuk menulis, diperlukan kecakapan verbal yang baik. Banyak yang mengatakan, menulis merupakan kepandaian tersendiri yang terpisah dari kepandaian berhitung, berimajinasi, dan berkreasi. Kemampuan menulis, dalam banyak literatur ilmiah, dikatakan merupakan bagian dari otak bagian depan manusia yang berhubungan dengan kecakapan bahasa. Tetapi, menulis tidak dapat disamakan begitu saja dengan kemampuan bertutur. Bahasa yang digunakan haruslah tersusun dalam struktur tertentu dan mengalir.
Pertanyaan yang timbul adalah seberapa lama waktu yang diperlukan seseorang untuk menulis sebuah esai yang berkualitas? Atau seberapa besar persiapan yang diperlukan sehingga nilai sebuah tulisan menjadi baik?
Pertanyaan pertama berhubungan dengan kemampuan sang otak untuk mengolah informasi, menyusunnya menjadi rangkaian-rangkain logis terstruktur. Kaidah penulisan juga merupakan sebuah kendala, dimana ada aturan, tetapi ada juga variasi. Semakin banyak variasi dalam menulis, semakin menyenangkan sebuah tulisan untuk dibaca.
Menulis, meskipun diajarkan di tingkat dasar pendidikan formal, ternyata merupakan kendala sebagian besar pelajar. Bukan karena fakta yang kurang banyak untuk dijadikan dasar tulisan, tetapi lebih merupakan kesulitan untuk mengungkapkan sesuatu. Tulisan juga merupakan perpaduan antara emosi dan intelegensi. Gaya selingkung dalam penulisan amat ditentukan oleh suasana pada saat menulis, sehingga ada baiknya untuk melakukan koreksi terhadap sebuah tulisan dalam waktu yang berbeda.
Belajar mengungkapkan, terkadang menghadapi dilema antara kemampuan, keinginan, agenda, maupun keengganan dikarenakan berbagai faktor ketidakesusuaian. Aq pernah menemukan seorang teman yang enggan mengungkapkan fakta bahwa peternakan babi menduduki peringkat 4 dalam pasokan daging di pasaran untuk suatu daerah sekitar akhir tahun 1990-an. Keengganan mengungkapkan fakta tersebut, menurut analisis aq, dikarenakan dia adalah seorang penganut agama tertentu yang taat, dimana babi bukan sesuatu yang diperbolehkan untuk dikonsumsi.
Bias, adalah ungkapan yang tepat untuk hal ini. Dalam kasus lain, dikarenakan faktor politis, banyak sekali tragedi kemanusiaan mengalami pembohongan statistik, dimana angka korban selalu lebih kecil dari angka sebenarnya. Sekali lagi, sebuah tulisan merupakan ide yang menarik untuk mengkaji kecenderungan dari sebuah komunitas yang diwakilinya.
Dalam ilmu jurnalistik malah ada istilah "frame of thinking" yang diupayakan untuk dipertegas sehingga mampu menggiring opini pembaca ke sebuah domain yang disukai sang wartawan. Inilah the power of writing.

The time

Bagi saya, menulis 1000 kata dalam bahasa ibu, tidak memakan waktu yang lama. Kisaran sebanyak itu dapat dicapai dalam waktu 1/2 - 1 jam. Sementara untuk bahasa sekunder, angka sebanyak itu dapat dicapai dalam waktu dua kali lipatnya.
Sekalipun menjadi hambatan bagi banyak orang, menulis dapat dipelajari. Salah satu upaya untuk mempersingkat waktu menulis adalah dengan banyak membaca. Penguasaan pengetahuan akan menambah wawasan, meningkatkan cakupan pandang, dan memperluas wacana yang mampu dibahas. Dalam sebuah kuliah dikatakan menulis merupakan fungsi waktu dari membaca, mengerti, dan mengungkapkan ide dalam bahasa sendiri.

Oh ya, sekarang bukan lagi jamannya untuk mengutip tulisan "as is" dari sebuah buku. Pendapat seseorang akan sangat dihargai dengan mencoba mengungkapkan sesuatu dalam pengertian individual. Oleh karena itu, sebuah tulisan, sekalipun ilmiah, merupakan opini yang tidak mutlak kebenarannya.

Comments

Popular posts from this blog

Nilai gizi pada jagung dan turunannya

Kembali ke akar: Penggalan Cerita dari Muara Ancalong

Membangun Universitas (3): Menjabarkan Pola Ilmiah Pokok