Copyleft: melatih semangat filantropi

--Knowledge is power. When science meet information, both are indispensible to reach the summit.---

Saat ini, siapa sih yang tidak kepingin jadi techno-worker atau setidaknya memiliki kemapuan tersebut? Sayangnya keinginan tidak sebanding dengan niat dan usaha yang dilakukan untuk mencapai asa tersebut. Berbagai dalih dikemukakan, dan intinya sih bermuara ke ketidaksamaan akses yang diperoleh.
Di pihak yang mampu, keduanya adalah senjata yang sangat handal untuk mendapatkan apapun yang diinginkan, mulai dari material, gelar, hingga kedudukan. Oleh karenanya banyak ungkapan: mengapa saya harus membaginya, padahal saya bisa menjualnya ? Dunia industri saat ini masih berada pada tataran ini. Tak lain karena adanya "hukum" ekonomi bahwa kepentingan manusia terlalu besar untuk dipuaskan oleh cadangan sumber daya yang ada. Tidak terlampau salah memang, the concept of scarcity memang merupakan konsep yang dianut banyak sekali orang.
Diantara banyak sekali orang, beberapa individu memulai gerakan menyediakan segala sesuatunya secara bebas. Bebas dalam makna yang sungguh luas: bebas menggunakan, memodifikasi, memaketkan, dan mendistribusikan kembali. Konsep ini, dalam dunia piranti lunak, dikenal dengan Free Software Foundation.
Salut buat mereka yang mulai belajar merasa "cukup" dengan apa yang dimiliki, spirit yang hilang akibat tertanamnya nilai-nilai eksploitasi kemanusiaan saat ini. Di Indonesia, pengetahuan secuil apapun menjadi ajang mata pencaharian; tukang ojek dengan pengetahuan seluk beluk jalan tikus di Jakarta, supir taksi dengan pengetahuan mengenal rute-rute singkat dan sekaligus memutar, dokter praktik dengan pengetahuan akan gejala penyakit dan pengobatannya, ahli komputer dengan pengetahuan instalasi dan pemeliharaan sistem, dan begitu banyak contoh lainnya.
Yang tidak sehat adalah "apabila yang satu memakan yang lain". Kita mengehendaki agat supir taksi atau tukan ojek jujur dalam tarif, namun kita juga memaki dokter yang memberikan resep obat paten "extra mahal". Kita menghujat dosen yang berproyek sehingga tidak pernah memberikan kuliah, ataupun dosen yang rajin memberi kuliah tapi mewajibkan membeli diktat yang dibuatnya...
Itulah segelintir contoh "the power of knowledge" ditangan segelintir manusia dalam tiap-tiap profesinya.
Bersikap dermawan, menolong orang lain adalah sebuah pembelajaran dan tidak akan muncul secara instan. Senyum tidak bisa dibeli, apalagi kebaikan orang. Saya dan istri pernah ditolong di tengah jalan oleh pengguna jalan yang lain karena motor kami mogok di tanjakan sebuah gunung yang tinggi. Saya hanya bisa mendoakan keselamatan mereka saat tidak ada dari mereka yang mau untuk "dibayar".
Memberikan pertolongan kepada orang lain saat mereka membutuhkan dengan kemampuan yang kita miliki, itulah yang disebut sebagai filantropi.
Dulu, kita mengenal istilah guru tanpa tanda jasa... istilah yang saat ini patut dipertanyakan, setelah muncul cerita sang anak yang sekian lama ingin diperhatikan oleh orang tuanya yang guru, tetapi tidak peka. Dipenghujung cerita, sang anak memecah celengannya dan memiliki ide untuk membayar orang tuanya sendiri dengan tabungannya agar bisa bersama dirinya satu jam saja... layaknya anak-anak lain yang diles privat oleh sang orang tua.
Filantropi, semangat ini sebenarnya masih banyak, namun juga dihitung luar biasa. Misalnya memberikan parsel kepada atasan, berharap agar pamrihnya dibalas dengan kemudahan berkarir dan sejenisnya. Ah, inilah ekonomi yang dibentuk oleh kita sendiri... jangan salahkan budaya orang lain untuk hal ini.

Nah sekarang, apa yang saya mampu -- dilingkup para pengajar mampukan untuk berbuat...
Menulis.. Ilmu yang diperoleh apabila disimpan sendiri maka tidak akan berkembang. Sudah terlampau banyak contoh, semakin banyak menulis, menyebarkan ilmunya, semakin terbuka rezeki dan malah, ketakutan akan jatuh miskin akibat membagi ilmu semakin hilang.
Sebuah konsep yang terbalik dari sekedar "menjual ilmu", melainkan mengembangkan ilmu. Ketakutan akan orang lain lebih berkembang, ilmu (tulisan, dan karya-karya ilmiah) dibajak, tidak mendapat proyek, dan sebagainya hanyalah ketakutan semu.
Menulis membawa dampak luar biasa. Banyak orang menjadi sering berpergian ke luar daerah hingga mendapat kesempatan berpergian ke luar negeri akibat menulis. Tidak perlu menghitung, apakah tulisan tersebut memberikan dampak ekonomi langsung saat mengirimkannya... yang jelas, menulis dalam kualitas yang mampu dipertanggungjawabkan adalah prequisite yang harus dipenuhi terlebih dahulu.

Dalam hal memajukan masyarakat yang sudah sangat jauh terbelakang, menyebarkan ilmu merupakan ladang beramal sekaligus ladang berkarya. Oleh karena itu benarlah perkataan seorang yang sungguh bijak:
"sampaikanlah ilmu walau itu terlihat sepele"

Memulai menjadi filantropi, bisa dengan memulai menulis dengan ketelitian tinggi dan konsisten. Menulis sedikit membawa keuntungan dua hal: memperbanyak teman dan mengingatkan diri kita akan ilmu tersebut. Oleh karena itu, jangan ragu dan jangan tutup-tutupi perkembangan dengan tidak menyebarkan ilmu yang kita miliki. Be copyleft... agar semua menjadi matahari sementara Anda menjadi bulannya. Bulan yang semakin terang karena semakin banyak matahari yang bersinar...

Tidak perlu menutup-nutupi ilmu, apalagi ia juga didapatkan dengan cara kita belajar dari orang yang mengerti dan gratis. Gratis dalam makna yang luas, beasiswa misalnya... bukankan tidak ada pengorbanan selain waktu untuk mengkopi (memahami--mungkin) ilmu tersebut. Menyusun serpihan yang terserak diberbagai jurnal, kemudian mengklaimnya sebagai sesuatu yang kita temukan dan merasa berhak atas gelar yang diperoleh dengan cara seperti itu...? AH... saya terlampau jauh sepertinya...

Comments

Popular posts from this blog

Nilai gizi pada jagung dan turunannya

Kembali ke akar: Penggalan Cerita dari Muara Ancalong

Membangun Universitas (3): Menjabarkan Pola Ilmiah Pokok