General Iroh


Photo captured by: www.templodelavatar.com, may subjected to copyright.
Di malam lebaran ini aq berefleksi dengan bercerita tentang seorang tokoh dari film kartun The Legend of Aang. Bukan tokoh utama dan kawan-kawannya, seperti halnya Kenshin dalam Samurai X, tetapi justru tokoh unik dalam peran antagonis. Tokoh ini mungkin menyerupai Kumbakarna dalam hikayat Ramayana.
Namanya adalah Iroh, diposisikan sebagai seorang Jenderal besar anak dari Kaisar kerajaan Api yang telah mangkat. Dalam perjalanan masa lalu meraih kebijaksanaannya, mungkin banyak peristiwa kelam yang sudah dilewati dan dia juga bukan seseorang yang 'bertangan bersih' dalam sejarah peperangan yang diangkat di epik tersebut.
Tokoh Iroh sebagai sang paman lah yang membuat aq tertarik untuk menikmati film ini. Adalah putra mahkota Kerajaan Api yang sedang dalam masa pendewasaan dengan masa lalu penuh dendam dan rasa diremehkan yang berusaha dibimbingnya untuk menjadi manusia yang baik dan berempati.
Tidah terhitung helaan nafas dan rasa ketidaksetujuan sang Jenderal melihat ketidaksabaran Pangeran ini. Rasa ingin diistimewakan, pencapaian dengan instan tanpa melalui proses dan penderitaan, hingga tidak adanya rasa empati dihadapi oleh Iroh dengan senyuman dan kebisuan.
Adalah berbicara pada momen yang tepat, diam pada saat mengungkapkan ketidaksetujuan, serta mendukung upaya pencarian jati diri merupakan karakter Paman yang konsisten ditonjolkan oleh sang Sutradara.
Lalu apa relevansinya dengan diriku ?
Sifat sang Pangeran, dalam banyak hal, mudah ditemui dikalangan pemuda yang kebetulan menjadi pelajar. Sepertinya, aq pun dulu demikian. Proses yang dilewati dan akan menimbulkan 'perang batin' sebelum mencapai sebuah kestabilan baru.
Dalam upaya menjadi sahabat bagi rekan-rekan pelajar yang lebih muda, mungkin aq akan banyak meniru apa yang telah dilakukan sang Jenderal. Mendukung rencana, memberikan guidance yang minimal dan membiarkan mereka menemukan keseimbangan dalam hidupnya, serta mengarahkan agar tidak terjerumus ke arah yang salah mungkin merupakan sikap pengayom yang perlu untuk dimiliki.
Pada intinya, aq akan berupaya untuk tidak memandang para pemuda ini dengan cara pandang yang kumiliki, tetapi lebih ke arah membantu mereka menemukan cara pandang mereka masing-masing. Demikian mungkin yang ingin aq pelajari sebelum aq berada di dunia nyata kembali.

Comments

Popular posts from this blog

Nilai gizi pada jagung dan turunannya

Kembali ke akar: Penggalan Cerita dari Muara Ancalong

Membangun Universitas (3): Menjabarkan Pola Ilmiah Pokok