Seri 1: Pangan Transgenik

MENGENAL PANGAN TRANSGENIK

oleh Anton Rahmadi
ditulis tahun 2006 untuk konsumsi publik melalui koran lokal

Setelah kasus formalin, kembali dunia pangan Indonesia diintroduksi dengan istilah baru lainnya. Istilah yang kali ini dikedepankan adalah pangan transgenik. Produk hasil rekayasa genetika ini menyimpan segudang masalah, diantaranya ada yang berdampak pada kesehatan manusia.

Perjalanan suatu bahan pangan hingga disebut sebagai pangan transgenik sebenarnya cukup panjang, dan tentunya telah mengalami proses penelitian yang cukup lama. Akan tetapi, pro dan kontra masih saja terjadi, karena sebenarnya, pangan transgenik ini menyimpan bahaya yang cukup besar. Dapatkan dibayangkan bahwa kedelai yang kita makan, sebagian penyusunnya berasal dari bakteri ?

Kemajuan teknologi dan penelitian telah mencapai struktur terkecil dari unsur penyusun mahluk hidup, yaitu gen. Gen inilah factor terkecil mengapa fisiologis manusia, hewan, dan tumbuhan dapat dibedakan. Manusia bermata biru, hidung mancung, berpenyakit jantung, semua dikarenakan adanya gen yang spesifik. Informasi yang unik pada setiap spesies disimpan dalam jalinan DNA dan sifat ini diturunkan ke generasi selanjutnya.

Pada tahapan selanjutnya, karakterisasi gen telah mampu menghasilkan urut-urutan tertentu yang menghasilkan sifat unik suatu spesies mahluk hidup. Urut-urutan ini kemudian secara sederhana dapat disimpan dalam wujud plasmid. Plasmid ini dapat dipindah-pindahkan ke organisme lain, sehingga memiliki sifat unik yang sama dari spesies asalnya.

Dulu, kawin silang dikenal sebagai salah satu upaya untuk memperbaiki keturunan. Namun, kawin silang ini masih terbatas pada spesies yang memiliki kedekatan, misalnya antar varietas. Rekayasa genetika jauh lebih canggih dibandingkan proses kawin silang, karena plasmid dapat dipindah-pindahkan tanpa memperdulikan taksonomi atau kedekatan spesies.

Pada awalnya, proses rekayasa genetika dilakukan untuk menciptakan mahluk yang sempurna. Dalam bidang pertanian misalnya, diciptakan kedelai yang tahan tanah asam, tahan hama, tingkat produksi tinggi, bulir yang baik dan seragam. Dalam bidang industri medis, diciptakan mikroba yang mampu menghasilkan rennet untuk bahan baku keju, insulin untuk penderita diabetes.
Dikarenakan gen akan diturunkan ke generasi selanjutnya, perubahan genetika ini bersifat permanen pada mahluk hidup tersebut. Tentu saja dalam jumlah yang besar keseimbangan alam akan berubah. Belum lagi kalau terjadi kawin silang dengan spesies yang dekat kekerabatannya. Secara sederhananya, proses rekayasa genetika dari yang terkendali berubah menjadi tidak terkontrol lagi.

Bahaya yang tersimpan di dalam pangan transgenik tentu saja tidak langsung tampak, tetapi baru akan tampak setelah puluhan tahun berlalu. Bahkan, ada kabar bahwa di negara-negara tertentu, hewan yang dekat kekerabatannya dengan manusia digunakan untuk memproduksi organ tubuh manusia, semisal klep jantung.

Kebanyakan industri pertanian dan medis negara maju telah menggunakan rekayasa genetika di dalam proses produksinya, Karena di negera mereka sendiri, aturan pemasaran pangan transgenik sangat ketat, negara berkembang menjadi pasar potensial mereka. Kabarnya, kedelai yang diimpor dari Amerika sebagian besar merupakan hasil rekayasa genetika. Begitu pula dengan jagung, tomat, dan apel.
Oleh karena itu, langkah Departemen Pertanian bekerja sama dengan BPOM dalam upaya melakukan inventarisasi pangan transgenik menjadi awal yang baik. Masyarakat juga setidaknya belajar untuk mengenali produk-produk transgenik, tidak cuek kemudian latah seperti halnya kasus formalin pada tahu atau ikan asin.

Kabar baiknya, produk lokal Indonesia umumnya masih jauh dari sentuhan rekayasa genetika, sehingga lebih aman dikonsumsi. Menggunakan produk lokal, menjadi solusi yang baik, disamping juga menghemat devisa negara akibat impor.
Kedelai impor bisa digantikan dengan kedelai lokal ataupun sorgum, begitu juga dengan produk-produk pertanian lainnya. Untuk kepentingan medispun tersedia alternatif-alternatif lainnya yang bisa dieksplorasi oleh para peneliti.
Hanya saja, sekali lagi, pemerintah selain menciptakan kehebohan, harus menyediakan solusinya, misalnya dengan memberikan insentif dengan skema tertentu kepada dunia pertanian untuk memproduksi hasil pertanian yang memenuhi kebutuhan nasional. Sebagai penutup, siapa bilang bidang pertanian tidak menarik untuk dieksplorasi ?

Comments

Popular posts from this blog

Nilai gizi pada jagung dan turunannya

Kembali ke akar: Penggalan Cerita dari Muara Ancalong

Membangun Universitas (3): Menjabarkan Pola Ilmiah Pokok