The needs for Attention

Setiap orang pasti merasa ingin untuk diperhatikan oleh orang lain. Ini terjadi baik di usia tua, muda, terlebih lagi balita yang mulai bisa bercakap dan menggali ilmu. Atensi yang dituntut juga beragam, dimulai dari sekedar merasa bahwa dia memiliki teman hingga pada taraf ingin menjadi the centre of life orang lain.

Kehausan akan perhatian yang berlebihan terkadang mengganggu orang yang kita tuju, apalagi biasanya orang dengan tipe-tipe seperti ini merasa telah mengenal orang lain hanya dengan 1-2 menit bertemu, atau dengan 1-2 kali berkirim surat. Repot, karena setiap kali kita akan diminta pendapat untuk sesuatu yang sebenarnya tidak perlu dijawab.

Kebetulan, dari satu dua orang yang pernah dijumpai, saya mendapatkan salah satu simptom dalam 'penyakit' ini biasanya adalah menggunakan media komunikasi massal. Opini disajikan mengambang yang memancing respons balik, sepele, tetapi juga tidak penting. Atau mengirimkan sesuatu yang bias dengan tendensi pribadi: misalnya analisis bukan ilmiah di blog saya ini untuk dijadikan topik diskusi bagi orang lain :)

Sebagian komunitas menganggap ca-per (cari perhatian) merupakan bentuk ketidakdewasaan emosional, dimana eksistensinya merasa diragukan apabila tidak diakui dengan tiadanya balasan dari perkataan yang dilontarkan. Kok jadi susah ya.... Orang seperti ini biasanya merasa kesepian, sepi seakan-akan dia hidup sendiri. Pada awalnya dia merasa the centre of life bagi orang lain. Namun, pada saat itu tercabut, dia akan melontarkan pendapat-pendapat sehingga orang lain mengetahui seberapa berpotensinya dia. Apabila targeted community yang dituju tidak juga memberikan respons, maka yang dikirim adalah pertanyaan demi pertanyaan, sekedar mendapatkan balasan untuk memuaskan dahaga akan keinginannya menjalin komunikasi.

Saya menganggap pendekatan terbaik adalah memiliki sandaran vertikal kepada Yang Kuasa, dimana keluh kesah disampaikan tanpa perlu 'menyusahkan' atau setidaknya tidak 'menuntut perhatian' orang lain. Tapi, merubah kecenderungan seperti ini memakan waktu cukup lama lho.. Dimulai dari menyadari bahwa setiap orang memiliki masalah, dan boleh jadi lebih susah dibandingkan apa yang dia miliki.

Kematangan emosional yang lebih jauh tidak akan mungkin dicapai apabila tidak ada upaya untuk menyadarkan, terutama malah dari individunya sendiri, bahwa apa yang dilakukan selama ini menyusahkan bagi orang lain. Apabila sebagian masyarakat sungkan untuk mengungkapkan, biasanya mereka justru akan semakin jauh dan semakin 'jengkel' dan menganggap dia tidak mengerti dengan sinyal halus ini.

Berbahagia untuk menjadi orang yang tidak penting menuntut kedewasaan emosional.. bukan gelar


Menjadi sahabat, menjalin komunikasi dan menuntut perhatian hingga taraf mampu benar-benar disukai oleh orang lain, justru dimulai dengan mulai mendengar permasalahan orang lain, menganalisa emotional needs-nya, dan menjawabnya dengan tidak menyinggung perasaan orang lain.

Ah, postingan hari ini kok jadi abstrak dan sukar dipahami ya... Sejujurnya, ini merupakan `uneq-uneq`ku saja.

Comments

Popular posts from this blog

Nilai gizi pada jagung dan turunannya

Kembali ke akar: Penggalan Cerita dari Muara Ancalong

Membangun Universitas (3): Menjabarkan Pola Ilmiah Pokok