Kelinci Percobaan dalam Pendidikan

Konsep utama dalam pendidikan adalah menciptakan generasi yang lebih baik. Normatif ini tentu saja harus dijabarkan dalam kriteria-kritera yang lebih kuantitatif, misalnya kemampuan berbahasa, membaca, memahami, mengutarakan kembali dan merangkum informasi.
Dalam tataran kemampuan berkomunikasi tersebut, tentu saja, diperlukan kesalihan berfikir dan obyektivitas. Parsialitas yang berangkat dari cita-cita, ide, hingga obsesi, tentu akan mempengaruhi pola bertutur baik lisan maupun non-lisan.

Beberapa hal umum yang ditemui dalam pendidikan adalah ketidaksabaran pengajar. Banyak ditemukan sang Pengajar tidak mampu menyelami kemampuan anak didiknya, tidak mau mengerti bahwa setiap manusia adalah unik dalam menerima, menyerap, dan menyebarkan suatu ilmu. Kecenderungan ini menyebabkan timbulnya rasa kecewa dan marah kepada anak didik akan 'ketidakmampuan' dia dalam mengikuti pola pikir sang pengajar.

Padahal, hampir semua kecenderungan manusia adalah 'berbuat untuk kebaikan' dan 'mengerjakan yang benar secara benar'. Bagaimana bisa mengerjakan sesuatu yang benar apabila 'yang benar'-nya tidak pernah diajarkan. Logika mana yang bisa menerima orang yang tidak tahu akan mengerjakan segala sesuatunya dengan benar ?

Inilah pekerjaan sebenarnya dari pendidik. Terlepas dari kurikulum yang terus berganti dan nyaris menjadi sampah dalam ranah idealitas, sang guru harus berangkat dari prinsip utama pendidikan. Kemampuan untuk melihat potensi, kesabaran dalam menghadapi perbedaan kemampuan, dan kemampuan dalam mencari celah untuk mengembangkan tiap-tiap individu menjadi insan-insan yang unik, berjalan dalam kebenaran untuk menuju Sang Kebenaran, itulah yang disebut sebagai guru.

Dalam kenyataannya, ungkapan satu dalam seribu sering ditemukan berkaitan dengan permasalahan ini. Yang ada, murid menjadi obyek trial and error untuk menemukan style yang dapat diterima dalam mengajar. Lebih parah, rasa frustasi, kekesalan individual sering dilampiaskan dalam kelas. Akibatnya mereka bukan belajar karena semangat, melainkan karena takut kepada sang pengajar. Ilmu pun menjadi tumbal, sebab turut dibenci oleh murid.

Adapula yang menjadikan mengajar menjadi prioritas kesekian, padahal dimana-mana mengenalkan dirinya adalah guru. Guru kok lebih sering ditemui di arena politik, pasar, bisnis, dsb ?

Bagi guru, ini adalah ladang perjuangan Anda. Bahwa konsistensi dalam menciptakan generasi yang lebih baiklah yang akan dikenang, dihargai oleh komunitas, bekas murid, bahkan oleh Sang Pemberi Rahmat. Sebaliknya, meninggalkan kelas atau memberikan pengajaran yang kurang layak juga akan mendapat balasan yang setimpal.

Bagi murid, silakan Anda protes apabila sang guru berbuat kesalahan. Protes tidak sama dengan melanggar etika. Ah, normatif lain yang mengungkung kemampuan berkembangmu.. Sebuah perangkat kualitatif lain yang tidak jelas (karena diset secara individual), yang kebanyakan digunakan untuk melebarkan jurang guru dan murid.

Oleh karena itu, refleksi akhir tahun ini mengajak aq untuk memurnikan tujuan hidup untuk tetap konsisten dalam dunia pendidikan.

Comments

Popular posts from this blog

Nilai gizi pada jagung dan turunannya

Kembali ke akar: Penggalan Cerita dari Muara Ancalong

Membangun Universitas (3): Menjabarkan Pola Ilmiah Pokok