Sekilas Enterobacter sakazakii

Anton Rahmadi,
Food Microbiologist, Universitas Mulawarman, Samarinda.
Tulisan ini merupakan ulasan pribadi.

Bogor Agricultural University published their research conducted in 2006. They highlighted 20% of the infant milk formulae were infected with Enterobacter sakazakii. The infant foods were also reported to be infected, giving 40% of the sample populations. The publication was severly hit infant milk industries in Indonesia. However the milk industries are still questioning about the research reliability and state that the current productions are not susceptible to the infection of E. sakazakii.

E. sakazakii adalah satu jenis bakteria yang pada tahun 1980 dipisahkan dari spesies Enterobacter cloacae, berdasarkan unsur genetik penyusunnya (Nazarowec-White dan Farber, 1997). E. sakazakii menjadi perhatian karena tingkat mortalitas yang tinggi (40-80%) pada bayi yang baru lahir (0-6 bulan), terutama sekali bayi prematur atau yang memiliki imunitas lebih rendah dari rata-rata bayi-bayi lainnya.
Ekologi E. sakazakii
Sebagaimana genus Enterobacter lainnya, E. sakazakii ini merupakan bakteri yang berkoloni di dalam saluran pencernaan manusia dewasa (Iversen, Druggan, dan Forsythe, 2004). Spesies Enterobacter ini dapat ditemukan diproduk pangan lain selain susu formula: keju, daging, sayuran, biji-bijian, kondimen dan bumbu-bumbuan (Iversen dan Forsythe, 2003; Kim et al, 2008).
E. sakazakii berkembang dengan optimal pada kisaran suhu 30-40°C. Waktu regenerasi bakteri ini terjadi setiap 40 menit jika diinkubasi pada suhu 23°C, yang tentunya akan sedikit lebih cepat pada suhu optimum pertumbuhannya.
Selain bersiffat invasif, E. sakazakii juga memproduksi toksin (endotoxin) yang juga berbahaya bagi mamalia yang baru laihr dan belum memiliki sistem kekebalan yang baik (Townsend et al, 2007).
Permasalahan yang terjadi
Keberadaan E. sakazakii ini di produk susu formula menjadi mencuat dan menjadi medium kontaminasi yang dominan karena produk ini pada umumnya dikenal sebagai produk yang aman untuk langsung dikonsumsi bayi tanpa memerlukan pemrosesan lebih lanjut. Dalam hal ini, susu bayi biasanya hanya dicampur air hangat panas-panas kuku (suhu < 70°C), yang tidak cukup untuk mematikan bakteri ini.
Pertumbuhan E. sakazakii dilaporkan dapat direduksi dengan penggunaan sanitizer pada produk buah-buahan, serta penyimpanan pada suhu dingin (Kim, Ryu, dan Buechat, 2006). Penggunaan sanitizer dan penyimpanan pada suhu dingin merupakan hal yang tidak umum pada produk susu bubuk. Susu bubuk disimpan dalam kaleng, ataupun plastik multi-lapisan untuk konsumsi hanya 1-4 hari, diasumsikan relatif aman karena kadar airnya yang rendah. Dalam proses produksi pun, susu bubuk diasumsikan aman karena pengemasan dilakukan secara aseptik.
Asumsi-asumsi inilah yang sebenarnya harus ditilik kembali (Kandhal et al, 2004).
Saran yang dapat diikuti:
1. Bagi pengguna rumahan: Bila sebelumnya susu bayi cukup dicampur dengan air hangat, maka sekarang cobalah menggunakan air panas (100°C) selama 1-2 menit untuk mereduksi jumlah koloni hidup bakteri.
2. Masih bagi pengguna rumahan: waspada terhadap gejala demam dan diare yang merupakan indikasi infeksi, apapun mikroorganismenya, bukan hanya E. sakazakii.
3. Konsultasikan dengan dokter/tenaga medis terhadap penggunaan susu formula bagi bayi berusia 0-6 bulan, terutama sekali bayi lahir prematur atau yang memiliki daya tahan lemah.
4. Bagi industri: Melakukan evaluasi terhadap proses produksi susu formula bayi secara menyeluruh. Hal ini dimungkinkan dengan memasukkan E. sakazakii dalam sistem monitoring, terutama HACCP yang telah ada.

Kesimpulan
Apa yang terjadi di Indonesia, sebenarnya terjadi pula secara global. Ekspose yang dilakukan oleh Tim Peneliti di IPB hanya merupakan bagian kecil dari riset serupa di seluruh dunia. Semua tentunya dengan asumsi: menciptakan dunia yang lebih baik untuk kita semua di masa yang akan datang.

Viva ilmu mikrobiologi.

Keterangan Referensi:
Referensi diambil dari jurnal-jurnal terkemuka seperti Food Microbiology, International Journal of Food Microbiology, Food Chemistry, Journal of Microbiological Methods and The Lancet.

Anda dapat menghubungi email saya untuk mendapatkan referensi-referensi di atas.

Comments

Popular posts from this blog

Nilai gizi pada jagung dan turunannya

Kembali ke akar: Penggalan Cerita dari Muara Ancalong

Membangun Universitas (3): Menjabarkan Pola Ilmiah Pokok