Kick Andi: kini dalam buku


Satu lagi karya anak bangsa yang layak anda simak. Ia berbeda karena mampu mengemas idealisme, obyektivitas jurnalistik dan kecerdasan emosi. Tak salah apabila judul buku ini adalah Kick Andi: Menonton dengan Hati. Saya memberinya nilai 4 dari 5.


”Pah sini pah, cepetan!” Begitu istriku berteriak saat acara Kick Andi ditayangkan MetroTV beberapa hari lalu. Tema Kick Andi tersebut adalah untuk memperingati 2 tahun tayangannya, yang secara sederhana dihadiri oleh Wapres Jusuf Kalla dan banyak pengusaha yang telah mendukung acara ini baik dari sisi sponsorship hingga memberi solusi atas episode-episode yang ditayangkan.
Luar biasa! Si Buyung dan Suster Apung merupaka dua episode yang sangat menyentuh rasa kemanusiaan kita bersama. Betapa asumsi yang kita bangun di masyarakat adalah keliru: Orang terhormat adalah orang yang kaya-raya dan tidak peduli dari mana kekayaan tersebut berasal. Untuk itu, orang cacat (buta dan jompo) dikucilkan karena mereka tidak berarti secara ekonomi buat keluarganya, malah memberatkan. Namun, setelah diangkat dalam tayangan Kick Andi, semua berupaya menjadi saudara, sebab mereka dianggap telah beruntung, menjadi kaya akibat uluran tangan para dermawan yang terketuk hatinya. Apa lacur ? Sekarang usaha sapu lidi mereka tidak laku lagi, sebab mereka dianggap telah menjadi orang kaya yang tidak lagi perlu diperhatikan. Bagi sebagian orang, mereka adalah sasaran empuk yang terus dicari untuk ditipu. Inilah sekelumit pandangan pribadiku, yang belum bisa untuk ’tidak menghakimi’ siapapun atas ide-ide dan perbuatan orang lain.

Episode Suster Apung pun begitu menyindir para abdi bangsa (baca: PNS) yang terus menuntut peningkatan kesejahteraan tanpa dibarengi upaya dengan energi yang sama untuk meningkatkan kualitas pelayanan mereka. Betapa tidaklah cukup seandainya Satya Lencana Karya Satya malah kalau perlu bintang Mahaputra disematkan atas jasa pengabdiannya yang lebih dari 25 tahun: menjadi PTT tanpa diangkat, berjuang dengan segala upayanya sendiri di daerah nan terpencil dan terlupakan untuk menyelamatkan mungkin sudah puluhan ribu nyawa orang lain di sana.

Karena tayangan-tayangan tersebut pulalah, Andi F Noya berhasil menarik minat Jusuf Kalla untuk didaulat me-launcing buku pertama Kick Andi. Sebuah buku yang kuramalkan akan jadi Best Seller, sekalipun mungkin penjualannya belum tentu dapat menyaingi ’Laskar Pelangi’ yang sungguh luar biasa.

Di buku terbitan Maret, 2008, tersebut, terdapat banyak episode kontroversial yang dianggap tabu, ditutup-tutupi, hingga diasumsikan sebagai sejarah kelam yang mempermalukan bangsa, misalnya Orang-Orang Buangan; tragedi di Yogya Plaza, hingga tragedi kemanusiaan yang merupakan imbas dari pemberontakan PKI. Banyak pro dan kontra hingga intimidasi yang dialamatkan kepada tim Kick Andi, tetapi mereka tetap berani menampilkannya dengan cita rasa jurnalistik yang tinggi: obyektif, memberitakan dengan kacamata pengamat yang tidak menghakimi.

’Tidak menghakimi’ mungkin kata kunci dari tayangan-tayangan serupa infotainment ini tetap eksis disamping mengangkat topik-topik yang menggugah hati nurani kita bersama. Tapi, ditengah ’kebodohan’ yang diciptakan bersama, berapa gelintir pasangan mata yang menonton acara ini, bahkan mungkin nanti membaca bukunya ?

Percaya tidak percaya, beberapa pengemar fanatik ’membajak’ tayangan ini dengan memasukkannya di situs streaming internet seperti youtube.com. Tapi inilah yang menyebabkan tayangan ini dapat ditonton Indonesians dan Indonesianists di luar negeri, termasuk saya kala itu.

Kembali ke buku. Semalam, di saat dating bersama istri, kami menemukan buku ini di sebuah toko. Karya tulis dengan sampul Andi F Noya dengan rambutnya yang khas dan mata melotot ini merupakan buku pertama yang bisa menyebabkan kami ’bertengkar’ tentang siapa dulu yang membacanya, he.. he..
Apa yang tertulis di buku, sepertinya mirip dengan cerita yang disajikan di setiap episode tv-nya. Terkadang, untuk menjaga substansi yang mungkin dapat menyebabkan timbulnya intepretasi lain, sekalipun dari penulis bukunya, wawancara ditulis bulat-bulat bagaikan tape-script. Biarkan pemirsa yang menentukan sikap mereka. Belajar untuk percaya terhadap orang lain, tanpa perlu mengintimidasi, mengindoktrinasi image, ataupun memanipulasi suara para pemirsa. Sungguh inilah beda nyata dari tayangan gosip yang begitu didewakan ratingnya. Saya teringat ucapan seseorang akan hal ini: Orang kecil akan membicarakan orang lain, orang biasa akan membicarakan peristiwa, tetapi orang luar biasa akan membicarakan ide/solusi. Jadi, sasaran apakah yang akan diambil Kick Andi ? Kelihatannya kita semua telah melihat kemana tujuan tayangan tersebut.

Terlepas dari upaya menuliskan karya ”Menonton dengan Hati” ini, dari sisi editorial, masih terdapat beberapa kesalahan. Mungkin tidak mengganggu substansi, tapi sangat mengganggu citra yang ingin ditimbulkan kepada pemirsanya, sebagai buku jurnalistik yang bermutu tinggi. Diantaranya: penulisan nama dalam penjelasan foto pada episode Bullying: Fifi ataukah Vivi ? Kesalahan lainnya adalah ambigu berapa tahun pengabdian Suster Apung: 26 ataukah 28 tahun? Ada satu paragraf yang menjelaskan bahwa Suser Apung memberikan infus ’basi’ kepada pasiennya yang seakan-akan terulang dengan kata-kata yang hampir serupa, sehingga menimbulkan kesan kesalahan editorial. Satu lagi kesalahan yang kecil tapi mengganggu saat menjelaskan pengertian caping sebagai topi berbentuk limas, bukankah deskripsinya lebih cocok sebagai kerucut ? Agak disayangkan memang, mengingat perfeksionisme adalah salah satu unsur yang diusung sebagai keunggulan tayangan Kick Andi dan dijelaskan dalam bab-bab pengantar buku ini.

Secara umum bagiku, kualitas buku ini dapat disetarakan dengan buku-buku inspiratif lainnya karya Gede Prama, Anthony Dio Martin, dan Andrea Hinata. Sekali membaca, tidak akan lepas sebelum tamat! Kalau disuruh menilai buku ini, maka saya akan berikan empat bintang dari lima. Satu kekurangan mencolok buku ini yang sebenarnya bisa menambah jumlah penilaian setengah bintang lagi: Kurang Tebal sekalipun jumlah halamannya sudah 271 halaman, he.. he..

Salute Kick Andi & keep alive !

Comments

Anonymous said…
Bung Anton.
Wah, Anda rupanya penggemar abis Kick Andy Metro TV, sampai-sampai buku yang saya tulis tentang acara itu pun Anda lumat.

Terimakasih atas berbagai kritik yang Anda ungkapkan atas buku tersebut di blog ini. So, pasti kritik dan saran Anda akan saya masukkan dalam hati dan otak kanan saya, sehingga ke depan saya lebih hati-hati dan teliti.

Sungguh, saya tidak menyangka buku tersebut mendapat respon begitu banyak dari para pecinta buku di Indonesia. Minggu (6 April 2008) lalu saya pun bersama Andy Noya berkesempatan tampil dalam acara Proresensi di RRI Pro2 FM. Respon positif pun berdatangan dari para pendengar, sehingga memotivasi saya untuk berkarya lebih baik lagi.

Persisnya acara tersebut seperti apa silakan lihat di http://gantyo.blogspot.com

Sekali lagi, terimakasih atas respon Anda. Sukses untuk kita semua.

Salam persahabatan
Gantyo Koespradono
Sqvalkic said…
Wah dapet respons langsung dari sang Penulis.
Bukunya memang bagus Mas, sebagus acaranya. Semoga karyanya semakin luar biasa !

Popular posts from this blog

Nilai gizi pada jagung dan turunannya

Kembali ke akar: Penggalan Cerita dari Muara Ancalong

Melanjutkan Tradisi Generasi Emas Smansa