Pengabaian Keselamatan

Pernah terlintas apa yang terjadi apabila truk bocor dan penuh berisi soda cair kemudian di las dan meledak ? Atau petugas kebersihan yang terjatuh dari lantai lima gedung bertingkat bersama gondolanya ? Contoh lain adalah beberapa personil perusahaan penyalur minyak yang terkena ledakan setelah berupaya mengatasi kebocoran pada salah satu pipanya. Ini adalah sekelumit gambaran betapa pentingnya safety awareness atau kesadaran akan keselamatan dilakukan secara individual. Boleh jadi di truk berisi soda cair tidak ada peringatan tertulis mengenai bahaya ledakan apabila tangki berada dalam kondisi panas. Atau mungkin hanya ada peringatan tidak langsung, seperti : "Dilarang Merokok" atau hanya "Tangki ini berisi benda cair berbahaya dan dapat meledak".
Kejadian seorang pengelas memperbaiki truk dalam keadaan tangki berisi penuh muatan soda cair merupakan sebuah contoh unnecessary error atau malah ignorance. Terlalu banyak peristiwa yang melibatkan pengabaian keselamatan individual yang terjadi di masyarakat.
Praktek mitigasi untuk meningkatkan keselamatan individu sebenarnya dapat dipraktekkan dengan mudah: secara rutin melakukan sosialisasi dengan mengundang mereka-mereka yang bekerja dengan resiko tinggi. Ini mungkin telah dilakukan oleh perusahaan. Bagi yang bekerja secara wirausaha mungkin diperlukan usaha khusus melalui tayangan televisi. Lewat sinetron, misalnya, dibuat dengan lebih berbobot dengan memasukkan sedikit saja unsur pendidikan akan keselamatan.
Langkah kedua tentunya dengan tetap mengingatkan bahwa pekerjaan beresiko tinggi membutuhkan perlengkapan pengaman yang tentunya harus selalu dikenakan saat bekerja. Mengenakan pakaian seperti ini mungkin tidak nyaman, akan tetapi cukup untuk mengurangi resiko saat kecelakaan terjadi. Bagi tukang las, peralatan pengaman wajah, sarung tangan asbes dan baju pelindung berunsur asbes tentunya akan sangat mengurangi dampak kecelakaan apabila terjadi ledakan. Tapi, apabila ini adalah usaha kecil, apakah peralatan pengaman ini mampu untuk dibeli ? Inilah lingkaran-lingkaran rumit yang harus diputus secara sistematis. Contohnya, mewajibkan penggunaan peralatan keamanan dan menyediakan peralatan dengan harga bersubsidi ataupun dibayar dengan sistem kredit bagi usaha-usaha sejenis ini.
Mengatur usaha dari sejumlah 200 juta lebih penduduk memang tidaklah mudah, apalagi mengingatkan mereka untuk selalu memperhatikan keselamatan dalam bekerja. Istilah yang sering ditemui adalah: mencukupi kebutuhan pokok saja susah, apalagi dibebani dengan kewajiban memenuhi standar kerja. Namun sikap permisif ini sebenarnya malah berbahaya, karena semakin banyak kejadian sejenis, semakin tinggi beban sosial masyarakat. Satu orang yang cacat dan tidak mampu bekerja kembali akibat kecelakaan, dampaknya bisa merembet pada kesejahteraan keluarga.
Ataukah memang masyarakat kita menganggap hal ini biasa di saat 4,1 juta balita mengalami gizi buruk karena kemiskinan ? Di saat mungkin masyarakat berfikir bagaimana mendulang uang sebanyak-banyaknya agar kebutuhan mereka dapat tercapai tanpa berfikir jauh untuk masa depan ?

Comments

Popular posts from this blog

Nilai gizi pada jagung dan turunannya

Kembali ke akar: Penggalan Cerita dari Muara Ancalong

Melanjutkan Tradisi Generasi Emas Smansa