Sekedar pintar tidaklah cukup


Hari ini mungkin adalah yang terberat bagiku secara emosional. Seorang kawan bercakap tentang intrik yang dilakukan rekan lainnya.
Aq tahu, membicarakan orang tidak seharusnya terjadi. Namun apabila yang menjadi subyek adalah tingkah laku yang bersangkutan yang tidak menghargai orang lain, maka keadaam menjadi serba salah.
Adalah menjadi pintar merupakan cita-cita semua orang. Akan tetapi kepintaran bukan ditunjukkan hanya dengan tingginya pendidikan, sehingga merendahkan orang yang berpendidikan lebih rendah. Kepintaran bukan berarti pendapat yang mungkin benar dari satu sisi harus dipaksakan untuk orang lain. Bukan, itu bukan esensi menjadi pintar.
Pandai artinya berguna bagi orang lain dengan ukuran penilaian subyektif pengamat, bukan pelaku. Jadi kemampuan bersosial menjadi penting, bukan hanya kealiman yang egois.

Dua tahun yang silam semua ingat saat terjadi perdebatan apakah perlu diberikan kesempatan kedua atau tidak. Hasilnya memang dengan berat perlu. Tapi agaknya kondisi sekarang mengatakan, tidak ada perubahan yang diharapkan. Kepercayaan terhadap sesama dan penghargaan atas pendapat orang lain juga tidak kunjung ditampakkan. Peristiwa ini menyiratkan kelelahan pengharapan setiap individu yang berinteraksi dengannya.
Saat kesabaran itu habis, tentunya tragedi akan kembali berulang.
Jadi, pintar saja tidak cukup, tapi harus dibarengi kepiawaian memgeksekusinya.

Comments

Popular posts from this blog

Nilai gizi pada jagung dan turunannya

Kembali ke akar: Penggalan Cerita dari Muara Ancalong

Melanjutkan Tradisi Generasi Emas Smansa