Belajar menangani wartawan

Di bulan ini, secara kebetulan saya mendapatkan kesempatan untuk berinteraksi banyak dengan wartawan. Interaksi tersebut bukan dalam artian sebagai bagian dari wartawan, tetapi lebih ke arah, saya bekerja pada sebuah obyek berita yang kritis dan dapat menjadi makanan empuk wartawan.
Terhitung dua-tiga kali seminggu ini saya mendapat permintaan klarifikasi dan penjelasan dari wartawan, terkait pekerjaan saya.

Menangani wartawan (media cetak) memang butuh kepala dingin. Setiap kata yang keluar direkam dan dapat dengan mudah dikritisi untuk dijadikan berita. Untuk itu, penjelasan harus disampaikan dalam makna denotatif, dengan bahasa yang mudah dicerna, serta memang sesuai dengan kenyataan yang ada. Terkadang, kita harus menahan celetukan-celetukan rekan-rekan lain agar tidak sampai ada kesan perbedaan pendapat diantara tim sekerja.

Berbicara mengenai wartawan, sebenarnya saya juga mampu memberitakan apa yang terjadi selama berinteraksi dengan mereka, lengkap dengan hal positif dan negatifnya, tentunya di media seperti blog ini. Tentunya, eviden bisa dari rekaman percakapan dengan mereka juga dong...

Pada pokoknya, sikronisasi dengan tim sekerja, serta menyampaikan sesuai yang kita harapkan dengan bahasa mudah dan tidak mengundang konfrontasi adalah cara terbaik menghadapi wartawan.

Comments

saya yakin pak anton akan sukses di pekerjaan temporary di pon ini. maju terus pak, semangat terus, pantang mundur...

jangan lupa libatkan juga sebanyak mungkin rekan2 seperjuangan di samarinda. ini agar pon juga lebih dirasa dimiliki oleh orang2 lokal, tidak hanya jadi proyeknya orang luar kaltim...

Popular posts from this blog

Nilai gizi pada jagung dan turunannya

Kembali ke akar: Penggalan Cerita dari Muara Ancalong

Membangun Universitas (3): Menjabarkan Pola Ilmiah Pokok