Kilasan Peranan Wanita Indonesia

Menyoal penghargaan atas kaum hawa, Indonesia sepertinya lebih unggul. Bagaimana tidak, dalam setahun terdapat dua hari yang khusus diperingati atas peranan kaum ibu.
Hari kartini yang jatuh di bulan April memiliki esensi kebangkitan kaum wanita dan upaya mereka untuk berkontribusi lebih banyak di masyarakat. Berbeda dengan hari kartini, Hari ibu yang berada di bulan Desember, memiliki esensi peranan kaum wanita dalam kesejahteraan keluarga dan keharmonisan rumah tangga. Berbicara mengenai peranan peranan perempuan yang begitu luas, agrikultur dan pendidikan adalah dua hal yang tidak terpisahkan. Bahkan jika ditilik secara jujur, dominasi kaum hawa di kedua bidang ini telah berlangsung sangat lama sekalipun mungkin hanya sedikit dibicarakan.

Berkaca ke beberapa dekade silam, peran wanita dalam pertanian tidak dapat disangsikan. Sebagai contoh, mereka membantu menyemai padi di sawah, sementara para laki-laki membajak sawah dengan peralatan sederhana berbasis tenaga hewani. Membantu memanen padi, termasuk menumbuk padi menggunakan lesung dan alu merupakan contoh klise lainnya. Kepandaian wanita dalam bertani dahulu sering kita lihat di layar televisi, setidaknya di zaman orde baru, pada acara lomba kelompencapir misalnya.

Dahulu, setidaknya apa yang masih dialami dua generasi sebelum penulis, fungsi utama perempuan adalah menjaga, mendidik anak-anak selama ditinggal para suami di ladang/sawah. Diantara mereka, ada yang memiliki kemampuan membaca huruf arab yang dengan sukarela mengajarkan anak-anak mereka dan tetangga untuk dapat mengaji, menghafal al-qur’an. Saat itu, tidak semua anak bangsa dapat ataupun diizinkan bersekolah.

Dalam upaya merebut kemerdekaan, profesi mereka juga mulai merubah.
Selain menjadi pendidik generasi muda, juga beban perekonomian keluarga semakin banyak dipikul oleh kaum wanita. Tidak lain karena para laki-laki pada saat itu semakin banyak yang turut mengangkat sejata secara serentak melawan penjajah. Tugas lain yang tidak kalah pentingnya adalah menjadi sukarelawan paramedis, bahkan tidak sedikit yang turut bertempur membela bangsa berdampingan bersama rekan-rekannya, kaum pria.

Berlanjut ke era setelah kemerdekaan, utamanya setelah angin persaman gender semakin berhembus dan menempati salah satu kebijakan yang krusial, wanita semakin berperan di hampir semua bidang, meluas, bukan hanya bidang pertanian dan pendidikan informal. Faktor utama yang mendukung kemajuan peranan wanita adalah semakin beragamnya bidang yang dapat digeluti kaum hawa dikarenakan stabilitas keamanan yang semakin baik hingga sisi politis yang semakin mengakui martabat wanita di pentas yang dulunya dikuasai kaum adam.

Ditengah hiruk-pikuk pembangunan, apabila kita kembali ke pedesaan dan pelosok Indonesia, peranan wanita yang tidak pernah lekang adalah tetap menjadi tulang punggung sektor pertanian. Di saat kaum muda laki-laki bermigrasi mencari penghidupan di kota-kota sekitar, kaum wanita, tua dan muda, tetap setia bergumul dengan sawah dan ladang. Bagi yang beruntung, memiliki lahan sendiri, namun banyak pula yang bekerja menjadi buruh upah di sawah-ladang para juragan tanah. Di saat itulah mereka menjadi rentan terhadap eksploitasi dan penekanan dari pihak-pihak yang hanya ingin mengeruk keuntungan pribadi.

Dari abad ke abad, pengaruh kaum wanita sebagai pendidik tidak pernah terabaikan. Akan tetapi, transformasi peranan wanita di bangku sekolah terus berkembang dan berubah. Dahulu, di masa pra kemerdekaan, dimana pendidikan diselenggarakan dengan pola tradisional-informal, anak-anak dititipkan pada para wanita pendidik di rumah mereka, di saat waktu luang menanti orang tua-orang tua mereka selesai bercocok tanam. Saat ini para perempuan banyak berkecimpung di pendidikan formal, tanggung jawab moral dan etika pun semakin berat dari sekedar mengajar di masa luang. Tuntutan perkembangan jaman dijawab dengan sikap profesionalisme dalam mengajar. Profesi guru mungkin merupakan salah satu cita-cita favorit kaum wanita dewasa ini, selain menjadi pekerja kantoran.

Bagi wanita yang kurang mendapatkan pendidikan yang layak sekaligus kurang beruntung karena tidak mendapatkan pekerjaan yang layak dalam bidang pertanian, sebagaian diantaranya tertarik dengan iming-iming kemakmuran dari negeri orang. Keberangkatan mereka yang lebih didasari atas kenekatan sekaligus bukti pengorbanan mereka agar generasi muda penerus mereka dapat lebih makmur, berujung pada eksploitasi tenaga mereka di luar negeri. Tentunya ini merupakan sebuah potret buram nasib perempuan bangsa ini.

Sebagai penutup, kita harus mengakui bahwa figur-figur wanita disini adalah pejuang. Secara sadar kita semua memiliki musuh bersama: kemiskinan, keterbelakangan pendidikan, yang ironisnya banyak sekali terdampak pada wanita Indonesia dikarenakan masih adanya patronisme, sebuah kungkungan budaya yang menganggap laki-laki lebih berhak menikmati kejayaan dunia ? Berdasarkan sejarah yang panjang dan kontribusi yang sangat besar oleh kaum kartini, saya rasa sudah saatnya anggapan tersebut sirna.

Comments

Popular posts from this blog

Nilai gizi pada jagung dan turunannya

Kembali ke akar: Penggalan Cerita dari Muara Ancalong

Membangun Universitas (3): Menjabarkan Pola Ilmiah Pokok