Sory Mister, but you dont have dignity!

Muak rasanya melihat pejabat-pejabat, selebriti partai, elit parlementer yang tersenyum didepan kamera saat sudah tertangkap tangan atau terindikasi kuat korupsi. Dulu, sebelum jamannya KPK yang ditakuti itu ada, dengan jumawa mereka datang dan tidak berapa lama melengos pergi tanpa pernah dipanggil punggawa hukum kembali.

Senyum mereka yang tertayang di televisi, rasa-rasanya mirip dengan pahlawan kesiangan mengaku Mujahid muslim. Hanya saja, yang terakhir membunuh secara fisik dan menyebarkan teror psikologis "rasa takut", yang berbuat korupsi sebenarnya pun serupa. Mereka membunuh perlahan, dengan menyebabkan ketidakadilan dan kesengsaraan, menyebabkan berkurangnya akses masyarakat miskin terhadap kualitas hidup mereka yang memang sudah hampir-hampir tidak manusiawi lagi. Menebarkan teror berupa "rasa sengsara" yang implikasinya sesungguhnya jauh lebih kejam dari komplotan tukang bom yang akan dihukum mati itu.

Di Australia, presiden direktur Qantas mengundurkan diri setelah dua insiden, yang kalau terjadi di Indonesia, termasuk hal "kecil": terkoyaknya lambung pesawat dan meledaknya ban pesawat. Di Jepang, tak terhitung politisi yang harakiri setelah perilaku curang mereka diungkap di media massa. Padahal besarannya jauh lebih kecil dari milyaran uang yang diterima kawan-kawan seprofesi di Indonesia.

Saya setuju apabila besaran korupsi sudah mencapai angka tertentu, sebutlah 10 milyar, maka pelakunya perlu dihukum mati. Alasannya sederhana: 10 milyar apabila dibagikan untuk Bantuan Langsung Tunai (BLT) setara dengan jumlah 100.000 KK yang berhak menerima BLT tersebut dalam 1 bulan (asumsi 1 KK menerima Rp. 100.000/bulan).

Tarolah 30% dari penerima BLT tersebut memiliki balita gizi kurang. Maka sebenarnya sang koruptor telah memutus akses untuk berkehidupan layak dari 30.000 anak bangsa, yang kemudian jumlah ini menjadi beban ekonomi bangsa akibat perkembangan otak/fisik yang abnormal.

Korupsi itu sama dengan mencuri, pelakunya disebut maling atau kerennya koruptor. Sudah seharusnya bangsa ini tahu malu, mundur apabila terindikasi korupsi, tidak perlu senyum-senyum di depan kamera. Sudah tidak ada artinya, karena integritas Anda sudah hilang. Kejadian ini mirip fabel raja berbaju tembus pandang ! Rakyat bertepuktangan, tersenyum, tertunduk, atau terdiam karena malu dan tidak berani berkata sebenarnya.

Bagi partai yang anggotanya melaporkan perilaku korupsi kepada lembaga yang kini "sangar" bagaikan Singa itu, juga jangan jumawa. Karena diujung-ujung sana, anggota pertai kalian juga sama saja.

So... don't smile, because you don't have our respect anymore. Politic without respect is nonsense..

Comments

Popular posts from this blog

Nilai gizi pada jagung dan turunannya

Kembali ke akar: Penggalan Cerita dari Muara Ancalong

Membangun Universitas (3): Menjabarkan Pola Ilmiah Pokok