Adakah mahasiswa yang tolol?

Kata terakhir sungguh menarik, karena telah banyak diucapkan para petinggi di negeri ini. Ucapan yang sama pernah terlontar dari mulut ketua BPK saat Khairiansyah, mantan auditor BPK bersama KPK menjebak Mulyana, anggota KPU. Lagi-lagi, istilah yang berkonotasi pada kebodohan yang sangat ini terucap dari pimpinan sebuah perguruan tinggi ternama di Kalimantan Timur terhadap mahasiswa-mahasiswa yang bersemangat mengkritisi kebijakannya. Apabila pimpinan sebuah institusi akademik yang mengedepankan analisis berbasis ilmiah dan empiris memiliki statement demikian, tentunya bahasannya apakah memang ada mahasiswa yang “tolol” ?

Lantas, dengan menilai “benar” ungkapan Guru Besar tersebut, maka kita perlu mencari reasoning berupa opini-opini pendukung terjadinya pembentukan “kesimpulan” tersebut.

Opini pertama yang paling sering dijadikan alasan pembenaran: input mahasiswa yang rendah.


Kata orang ahli rekayasa (terjemahan bebas: Engineer, Insinyur), sebaik apapun proses pengolahan di suatu tempat produksi, toh kualitas outputnya tidak akan bisa ditingkatkan. Semua bergantung dari inputnya. Input bermutu tinggi akan menghasilkan output yang juga bermutu tinggi. Adalah Sigmund Freud yang mengungkapkan bahwa kepribadian itu muncul sebagai akibat pengalaman di usia dini.
Stop! Saya tidak percaya akan hal ini, disebabkan satu dua hal. Mahasiswa bukan barang. Mereka adalah mahluk hidup yang sedang mengalami proses pertumbuhan. Fase perkembangan otaknya belum berhenti, karena usianya yang belia masih memungkinkan jaringan otak untuk berkembang. Lagi pula, setiap hari dalam tubuh manusia lebih 10 juta sel tubuh berganti, yang artinya ada 10 juta kemungkinan “warna” baru itu terbentuk!

Saya lebih menyukai metafora mereka adalah intan yang belum diasah. Betul sekali, memang ada berlian yang nilai karatnya tinggi, ada juga yang rendah. Namun, berlian tetaplah berlian, nilainya tidak sama dengan buah-buahan atau kayu, yang apabila didiamkan, lama kelamaan akan busuk dan terurai. Berlian, sekalipun yang rendah karatnya, apabila diasah oleh orang yang tepat, dengan sabar dan tekun, tentu hasilnya mengkilat luar biasa. Kita tidak hanya melihat besar kecilnya karat berlian, tetapi juga melihat siapa yang mengasahnya, bagaimana bentuk-bentuk asahannya (tentu merupakan output prosesnya).

Begitu pula mahasiswa. Kita tidak hanya melihat hasil keluarannya, tapi juga prosesnya (iklim institusinya) dan siapa yang mengasahnya (para pengajarnya). Oleh karena itu, saya percaya input mahasiswa yang rendah bukan alasan untuk mengatakan ada mahasiswa yang “tolol”.

Opini kedua yang juga sering terdengar menjadi alasan: iklim akademik yang belum terbentuk.


Dalam satu dua kunjungan saya ke kebun kelapa sawit, para pengusaha mulai memanen 50% kapasitas produksi (dan sangat mungkin belum 100% kualitas produksi) di usia tanam lima tahun. Bagaimana cara agar kebun itu produktif sesuai harapan? Dipupuk, disiangi, dipagari agar tidak dijamah hama babi, dilatih pekerjanya, hingga ditanami bibit yang unggul.

Berbekal perumpamaan ini, bagaimana sebuah institusi perguruan tinggi memupuk, menyiangi, memagari, melatih pekerjanya dan menanami “lahannya” agar panen sesuai kualitas dan kuantitas yang diharapkan? Kalau ada yang salah dengan kualitas outputnya (contoh: mahasiswa yang “tolol”?), apakah bukan berarti ada kemungkinan masalah dengan “lahan”-nya, cara “menyiangi”-nya, “pupuk”-nya, “pekerja”-nya ataupun kemungkinan terakhir: bibit mahasiswanya yang sudah kita bahas di poin sebelumnya.
Berkoheren dengan hal ini, adalah perpustakaan sebagai jantung perguruan tinggi yang cenderung dilupakan. Berapa sering mahasiswa terpapar ilmu-ilmu yang tersimpan di perpustakaan, di jurnal-jurnal ilmiah, bahkan di lembar-lembar internet? Sejauh mana para staf pengajar memberikan stimulan dan atraktan ladang-ladang bunga yang segar dan beraneka ragam agar lebah-lebah (metafora mahasiswa) hinggap dan mengumpulkan serbuh sari untuk kemudian diolah menjadi madu (ilmu yang bermanfaat, Ilman Nafi’an)? Oleh karena itu, rekayasalah perpustakaan dengan ruang baca yang nyaman, berpenyejuk, tidak berdebu, berkursi empuk, berlampu terang, berparkiran aman, buka 24 jam, hingga akses internet yang kencang ke situs-situs ilmiah. Itulah iklim, lahan, dan pupuk supernya.

Lalu, adakah penghargaan dan subsidi biaya penelitian untuk peneliti mahasiswa dengan hasil ataupun proposal terbaik ? Adakah kompetisi, berhadiah sepeda motor misalnya, sehingga mereka semua bersemangat untuk menjadi mahasiswa teladan? Kalau perguruan tinggi di Kaltim ini menggunakan rekening untuk menampung SPP mahasiswa di sebuah bank, mintalah agar mereka mensponsori kompetisi ini. Sama-sama untung, sumber dana pun tidak perlu dipusingkan.

Jadi, sekalipun semangat masyarakat untuk menghutankan kembali Kaltim yang gundul, jangan jadikan perguruan tinggi sebagai rimba. Tempat dimana mahasiswa dibiarkan tersesat, tahu-tahu bisa keluar dengan selembar kertas, bahwa mereka sudah menjelajahi belantara pendidikan tinggi dengan “selamat”. Tidaklah cukup sekedar selamat saja, tapi kita-kita yang bekerja di perguruan tinggi harus menyediakan fasilitas dan memastikan agar mereka tidak bercap “tolol”.

Refleksi tentang makna kritis, sebuah wacana untuk mahasiswa.


Kritis merupakah kata sifat. Apabila dikenakan pada subyek, dalam hal ini mahasiswa, maka mahasiswa kritis artinya mahasiswa yang mampu mengutarakan pendapatnya secara obyektif dan mandiri terhadap suatu permasalahan. Kritis juga berarti pendapatnya tersebut merupakan buah pemikiran yang dalam, hasil observasi yang berulang kali perlu mengalami pengecekan kesahihannya. Fakta dan pengetahuan yang sahih menghasilkan pemikiran yang sahih, pada akhirnya memunculkan ucapan dan perbuatan yang salih.

Sebagai manusia muda yang noda-noda kotornya mungkin lebih sedikit dan lebih mudah mengakses nurani fitrahnya, juga diajarkan untuk menghormati orang-orang yang terlebih dahulu hidup, bahkan menghargai orang-orang yang berilmu dan mengajarkan ilmu mereka. Akan tetapi, lagi-lagi dengan semangat kritis, menghargai tidak sama dengan tunduk secara buta. Apalagi menerima opini sebagai aksioma seperti yang sering saya amati saat mahasiswa-mahasiswa mendengarkan dosennya di ruang kuliah.
Oleh karena itu, setiap premis yang masuk, dalam tataran akademis, ujilah dengan metode yang sahih, secara repetitif, sehingga derajat kesalahannya menjadi rendah. Tidak ada pendapat yang mutlak benar atau salah. Dalam tataran akademis pula, sampaikan opini Anda dengan salih. Sudah diketahui bersama, tanpa kesalihan dari penyampai yang “tidak sederajat”, pendapat yang sahih boleh jadi tidak diterima (walaupun nurani samar-samar mungkin membenarkannya).

Sekalipun ada prinsip kebenaran adalah kebenaran, siapapun yang mengatakannya, namun proses perubahan yang diharapkan butuh proses. Proses pula yang menjadikan dunia ini dalam enam masa. Hampir tidak ada perubahan yang tidak dimulai dalam sebuah sekuens proses. Untuk itulah perlu belajar, karena saat itu mahasiswa dilatih konsistensinya, ditempa motivasinya, dan difasilitasi untuk selalu kritis dan berkreasi. Terakhir, tidak ada mahasiswa yang tiba-tiba jenius ataupun “tolol” tanpa proses. Yang ada adalah mereka yang ndablek (baca: mau menang sendiri, egois), malas (terutama malas memperbaiki diri sendiri), ataupun meremehkan orang lain (dengan melanggar kesantunan misalnya).

Pada akhirnya, berhasil tidaknya pendidikan terpulang pada masing-masing pribadi mahasiswanya.


Penutup

Gede Prama berkata ucapan dan perbuatan merupakan buah kebiasaan (sifat). Sifat sendiri dibentuk dari pemikiran dan perenungan, sehingga Beliau menyarankan untuk memperbaiki pemikiran dan perenungan sehingga end product-nya pun lebih baik. Yusuf Mansyur bilang, bagaimana bisa berharap output yang baik, kalau inputnya “abu-abu” bahkan “hitam”. Tentunya saya tidak bisa berkata ada mahasiswa yang tolol, sebab kita telah mengusahakan lahan, cara menyiangi, pupuk, pekerja dan stimulan/atraktannya dengan sebaik-baiknya. Atau jangan-jangan memang ada yang perlu perbaikan?

Comments

Anonymous said…
Terlalu banyak sebab apalagi alasan mengapa mahasiswa di Indonesia kurang berkualitas....

Popular posts from this blog

Nilai gizi pada jagung dan turunannya

Kembali ke akar: Penggalan Cerita dari Muara Ancalong

Membangun Universitas (3): Menjabarkan Pola Ilmiah Pokok