Antara Tiga I’tibar Ramadhan 1429 H dan Yusuf Mansyur

Lama tidak menulis blog, mungkin salah satunya dikarenakan malas. Di lain sisi, mungkin juga disebabkan tidak ada hal yang dirasakan penting untuk dicatat. Bagi saya, sejujur mungkin, awalnya aku merasa Ramadhan tahun ini kurang sakral dan kurang berkesan, apalagi bila dibandingkan dengan bulan yang sama tahun lalu.
Tahun lalu, banyak kegiatan sosial yang bisa diikuti, yang menambah nikmatnya mengarungi bulan puasa. Menjadi panitia berbuka puasa setiap Jum’at ketika bersekolah di negeri lain, misalnya. Berani menjadi apa saja dalam kepanitiaan tersebut, dari seksi masak, angkat-angkat barang, hingga membuka-tutup taklim. Sebuah kegiatan yang sudah sangat jarang dilakukan sejak belasan tahun silam.

Awal Puasa
Tahun ini, awal-awal Ramadhan terasa hambar. Hari pertama, dimana kampus diliburkan dari aktivitas perkuliahan, diisi dengan berbenah di ruang kantor. Agak heran memang, semangat berbenah malah muncul di hari pertama bulan puasa. Banyak sekali tumpukan kertas hasil pekerjaan mahasiswa yang dibuang karena sudah lewat masanya. Lantai pun tak luput untuk dipel hingga kinclong.

Malam harinya, kamar tidur pun dibereskan. Dibersihkan sebersih-bersihnya, semua bagian yang memungkinkan terdapat deposit debu disedot dan disapu dengan kain basah. Filter AC tidak luput dicuci dan disikat bersih. Begitu pula kasur dijemur dan dikebut keesokan harinya. Kain-kain gorden dicuci hingga bersih di hari kedua bulan Ramadhan.

Yang jelas, di awal Ramadhan, ada semangat untuk berbenah. Dimulai dari pembenahan fisik lingkungan tempat aku paling banyak menghabiskan waktuku, ruang kantor dan kamar tidur.

Berbenah diri
Hingga dua pertiga hari-hari yang kulewati di bulan suci tersebut, aku jauh dari keluargaku. Istri dan kedua anak perempuanku tinggal di Bogor. Aku suka membandingkannya dengan tahun sebelumnya, dimana waktu itu hampir tidak ada kemungkinan aku bersua dengan mereka karena sedang bersekolah di luar. Dua puluh hari tersebut aku rencanakan untuk berbenah diri, bermuhasabah bahasa kerennya.
Tapi rencana tinggal rencana. Rasa-rasanya Ramadhan tahun ini tidaklah kulewati sekhusyu tahun lalu. Mungkin ini disebabkan aku masih tersangkut satu dua urusan dunia yang memiliki tingkat stress tinggi. Membantu sebuah pekerjaan yang sebenarnya aku tidak inginkan, bukan dikarenakan pekerjaan tersebut tidak baik, tetapi lebih dikarenakan pekerjaan ini seperti tidak berujung. Tidak tampak penyelesaian ataupun gambaran waktu penyelesaian yang pasti.

I’tibar pertama
Pagi itu, tanggal 16 Ramadhan 1429 H, setelah dua malam kulewati dengan cukup tersiksa akibat persiapan sebuah pelatihan dan penyakitku yang jadwal kambuhnya selalu di malam hari. Melewati dua malam itu dengan program “Packet Tracer” (Program simulasi Cisco Router dan Switch) pemberian seorang teman dan dipusingkan dengan kencangnya suara lagu yang diputar Ayah (ya, Ayahku sudah cukup berumur, dia beralasan, apabila tidak mendengar “keributan” maka dia akan mengantuk dan malas beraktivitas), secara samar aku mendengar dua kali pengumuman dari Masjid di dekat rumah.

Tak lama masuklah sang Ayah dengan memberi kabar SMS bahwa seorang tetangga meninggal dunia. Sosok yang meninggalkan negeri fana’ ini yang membuat kaget. Bagiku dia adalah salah satu tetangga yang sangat kuhargai sebagai teman diskusi, orang yang tidak pernah kulihat atau kudengar berambisi pada pencapaian dunia melalui jalan yang salah ataupun meragukan. Pribadi yang apabila bertemu di Masjid selalu duduk di dekat posisi imam, dan menariknya selalu mengambil tempat di sebelah kiri belakang imam.

Kaget, kecewa, sedikit marah karena tidak ada kabar berita sakitnya. Tahu-tahu sudah tiada. Orang ini pernah berdiskusi serius setidaknya dua sesi. Dua sesi yang merupakan beberapa momen bertukar pikiran yang paling berbekas dalam hatiku. Islam warna warni atau Islam pelangi adalah topik diskusi pertama yang berlangsung di kediamannya beberapa tahun silam. Sedangkan pembicaraan kedua berkisar tentang makrifat, bagaimana pendapat masing-masing tentang khusyu dan “sosok” Tuhan saat mencoba menggapainya dalam shalat.

Kehilangan beliau begitu berarti. Hari itu kami mengantarnya hingga ke liang lahat. Satu waktu dimana aku pun menyempatkan berdoa di sisi makam Ibunda. Kebetulan, makam mereka berada di satu lokasi, di dekat perumahan yang kami tinggali. Dengan tiadanya Beliau, aku terpacu untuk berusaha shalat tepat waktu. Satu amalan yang susah sekali untuk aku jaga konsistensinya.

I’tibar kedua
Aku tahu bahwa tubuhku tidak sebaik tubuh-tubuh orang lain. Aku punya sedikit kelainan, bentuk paru-paru yang cenderung menyempit ditambah sesak nafas yang pasti muncul saat kondisi badanku jauh menurun.

Semenjak memasuki bulan Ramadhan, aku merasa ragu apakah akan bisa menuntaskan puasa dengan baik dan tidak ada hari yang terpaksa ditinggalkan. Nyatanya memang ada dua hari yang harus aku ganti karena sakitku. Sakit yang aku bawa akibat ambisi ingin terlibat di suatu pekerjaan yang menurutku sangat menantang.

Pekerjaan tersebut, terlepas dari bayarannya yang cukup besar, ternyata membawa stress yang sangat tinggi. Membuat hidupku kacau balau, yang dampaknya terasa hingga saat ini (dua bulan setelah kegiatan itu selesai). Setiap hari sekurangnya 20 jam aku terpapar stress. Membantu proses koordinasi, turut berupaya semaksimal tubuh ini bisa dipaksa untuk mensukseskan acara terbesar yang pernah berlangsung di kotaku. Hari terakhir, atau di saat penutupan acara tersebut, aku jatuh sakit.

Sakit yang baru aku akui sebulan setelahnya. Jangankan olah raga, tidur cukup, makan sehat, shalat yang terbilang mudah (dari sisi waktu dan tenaga) pun banyak tercecer. Mungkin sakitku dipanjangkan hingga saat ini agar mengingatkanku akan batas-batas yang bisa dicapai manusia. Tidak ada yang namanya manusia super, segala yang diinginkannya tercapai dengan mengorbankan kesehatan tubuhnya.

Mendapatkan uang 10 juta dalam sebulan ternyata bukan berkah, malah jadi bencana. Stress yang sangat tinggi, keretakan hubungan sesama teman, hingga hidup yang tersiksa di dua bulan berikutnya akibat sakit yang terus mendera setiap malam atau waktu-waktu tertentu.

Mencoba menarik hikmahnya, setiap kali perasaan sakit itu mendera, aku berinisiatif mengambil wudlu setelah meminum obat. Mencoba menjalankan shalat malam, kegiatan yang lama sekali tidak pernah kukerjakan secara konsisten.

I’tibar ketiga
Rupanya Allah masih merasa kurang dalam memberikan aku peringatan. Sebuah peringatan keras Dia sampaikan seusai menjalankan Jum’at terakhir di bulan suci yang telah lewat ini. Secara tidak jelas bagaimana awalnya, pinggangku terkilir. Satu uratku terjepit diantara tulang belakang. Luar biasa, Allah Maha Besar. Satu urat terjepit ringan sudah cukup membuat manusia tidak lagi bisa berjalan, duduk, bahkan sekedar membalikkan badan saat tidur-tiduran.

Untuk melangkah sejauh 10 meter, sekedar buang air kecil pun tidak bisa. Hingga aku terpaksa merangkak! Keesokan paginya malah aku harus buang air kecil di kamar menggunakan ember.

Tapi Allah memang sepertinya ingin menunjukkan kekuasaannya. Di saat kesakitan yang sangat mendera pinggangku ditambah sesaknya nafasku yang belum reda pula dua bulan terakhir, shalatku malah tepat waktu dan lebih khusyu. Hampir sebagus waktu dulu, dulu sekali.

Lepas Ramadhan
Ini hari keempat di bulan Syawal, dua hari semenjak aku membaca buku-buku Ustadz Yusuf Mansyur, terutama setelah membaca bukunya yang pertama: Mencari Tuhan yang Hilang. Aku menyadari bahwa Allah telah datang kepadaku dengan setidaknya tiga peringatan di atas.

Semoga aku selalu ingat pelajaran Ramadhan tahun ini. Allahuma ini dzalamtu nafsi dzulman katsiran, Subhanaka, ya Allah, waqina adzaban Nar.

Catatan tersendiri tentang Yusuf Mansyur
Setahun silam, saat ada sebuah tabligh di luar negeri, aku berkesempatan menghadiri Seminar tentang keajaiban sedekah yang dibawakan beliau. Di hari itu aku seperti tersadar, mengapa aku, yang menurutku tidak masuk hitungan orang-orang pintar atau layak bersekolah di luar negeri, bisa mendapatkan kesempatan tersebut. Ya, itu adalah bagian dari kekayaan Allah yang diberikan tunai saat hambanya ikhlas membantu orang lain untuk keluar dari kesulitannya, dan ikut memberikan solusi.
Sebelumnya, aku memang sudah sangat percaya bahwa Allah adalah Yang Maha Memberi. Tapi setelah mendengar ceramah Beliau, aku semakin yakin, bahwa memang Allah Maha Pemurah dalam membalas kebaikan hambanya.

Bahwa Allah menjadikan sekolahku sebagai sesuatu yang berkah. Menjauhkan ku dari kekhawatiran tidak bisa menjaga diri di negeri orang. Membuatku sakit dan malas saat diajak ke tempat-tempat yang dimurkai-Nya saat aku berada disana. Serta membuat diriku mudah dan mampu menyelesaikan segala kewajibanku saat menuntut ilmu. Bahkan, membalas semua harta yang aku berikan di jalan-Nya saat itu dengan balasan (yang apabila dihitung-hitung) jauh lebih besar dan lebih cepat dari apa yang diibrahkan Ustadz Yusuf Mansyur dalam buku terbarunya “The Miracle of Giving”.

Comments

Popular posts from this blog

Nilai gizi pada jagung dan turunannya

Kembali ke akar: Penggalan Cerita dari Muara Ancalong

Membangun Universitas (3): Menjabarkan Pola Ilmiah Pokok