Keripik Buah Bakau/Mangrove untuk Osteoporosis, benarkah?

Telah sampai informasi kepada saya bahwa di beberapa lokasi yang kaya akan tanaman bakau, masyarakatnya mencoba mengolah buah Mangrove (Avicennia sp) untuk dijadikan makanan berupa keripik. Mereka mengklaim kasiat keripik ini adalah membantu mencegah osteoporosis. Pertanyaannya apakah benar?

Sekilas tanaman bakau

Pohon bakau adalah tanaman yang mampu tumbuh di rawa-rawa, air payau, ataupun perairan pantai yang mengalami pasang surut. Tanaman ini pada umumnya digunakan untuk mempertahankan lansekap pantai dari tergerus ombak atau abrasi. Ekosistem bakau juga sangat disukai oleh hewan-hewan perairan, sehingga lazim ditemukan udang, ikan bandeng, bahkan terkadang monyet, bekantan, hingga buaya ikut hidup dalam ekosistem ini.
Tanaman bakau memproduksi buah sebagai salah satu cara perkembangbiakannya. Buah terletak di bagian pucuk-pucuk daun. Buah inilah yang kemudian dimanfaatkan masyarakat untuk dibuat keripik

Proses pembuatan keripik bakau

Buah bakau rasanya pahit dan gatal karena kandungan tannin dan senyawa antinutrisi (ada yang bilang serupa alelopati pada rerumputan) yang sangat tinggi. Untuk itu buah bakau direbus terlebih dahulu lalu direndam selama beberapa hari. Perebusan dan perendaman akan mengurangi kadar tannin dan senyawa antinutrisi dengan secara kimiawi dan biologis. Jika perebusan akan merusak struktur kimia tannin dan senyawa antinutrisi, maka perendaman berhari-hari akan mengeluarkan komponen tersebut dari sel ke dalam air rendaman. Tapi sangat mungkin tumbuh pula mikroba yang ikut menyerap tannin dan komponen antinutrisinya.
Buah lalu dipotong-potong dan dikeringkan untuk dijadikan kerupuk.

Klaim osteoporosis pada buah bakau

Tidak tahu dari mana asalnya klaim ini. Apakah tradisional ataukah bukan. Tetapi yang jelas dengan proses kerja tersebut, kita bisa melihat kemungkinan beberapa komponen mineral yang mungkin mampu mendukung klaim ini.

Ca (Kalsium)
Buah bakau adalah tanaman yang secara genetis mampu menyerap mineral dari dalam tanah dalam jumlah yang tinggi. Kadar Ca dalam tanaman bisa mencapai angka 12 mikrogram per gram tanaman. Ini berlaku juga pada buahnya. Efektifitas persebaran mineral berkisar antara 70-90% pada tanaman bakau.
Kalsium adalah unsur penyusun tulang. Terapi Ca sangat dianjurkan bagi manula untuk menghindari osteoporosis atau tulang keropos.

Cd (Kadmium)
Komponen Cd termasuk dalam kategori logam berat. Dalam beberapa penelitian, Cd dalam jumlah sedikit akan membantu meningkatkan kemampuan sintesis Ca ke dalam tulang. Dalam beberapa penelitian di perairan Australia, Cd terdapat dalam jumlah tertentu di tanaman bakau. Oleh karena itu, keberadaan Cd dalam tanaman bakau bersifat sinergistik terhadap penyerapan Ca ke dalam tulang.

Peroksidase (enzim/antioksidan)
Dalam penelitian yang lain, kadar peroksidase akan meningkat seiring dengan peningkatan kadar mineral dalam tanaman bakau. Peroksidase pada umumnya menyerang radikal bebas terutama hidrogen peroksida. Sementara, radikal bebas berpengaruh menurunkan penyerapan Ca seperti yang terdapat pada para perokok. Tetapi efek peroksidase dari tanaman bakau ini perlu dikaji lebih lanjut.

Kandungan pro kesehatan lainnya adalah terdapatnya asam lemak tak jenuh omega-6, omega-9, dan omega-7 dalam konsentrasi tinggi (7-12%) pada daun tembakau. Kandungan asam lemak tak jenuh ini juga penting dan telah diketahui sebagai nilai positif bagi kesehatan manusia.

Apakah benar semua positif ?

Nah sekarang kita akan melihat sisi yang paling berbahaya dari tanaman bakau.

Tanaman bioremediasi
Tanaman ini ternyata bersifat bioremediasi, alias berkemampuan menyerap logam-logam berat dalam jumlah yang sangat tinggi dari sedimen yang ditumbuhinya.
Logam berat seperti Pb dan Cd dalam jumlah besar akan menyebabkan penyakit degeneratif, termasuk menurunkan vitalitas tubuh, merusak hati dan ginjal, serta berperan dalam menurunkan kecerdasan atau fungsi otak. Cd yang disebutkan berefek positif terhadap osteoporosis dalam jumlah kecil, pada konsentrasi yang tinggi malah menyebabkan tulang menjadi rapuh (osteomalasia/ricketsia).

Seberapa signifikan kandungan Pb pada sel-sel tanaman bakau? Kalau secara teori bisa mencapai 800 mikrogram per gram tanaman, namun pada beberapa spesies (Avicennia sp) terutama di akar, kadar Pb bisa mencapai 1200 mikrogram per gram. Apa jadinya kalau kita memakan buah bakau dengan kadar Pb yang tinggi? Silakan cermati sendiri.

Zn (Seng)
Telah banyak penelitian mencantumkan bahwa keberadaan seng akan menurunkan sintesis Ca dalam tubuh. Sementara Zn dalam tanaman bakau mampu mencapai kadar 500 mikrogram per gram tanaman padahal kadar Ca yang mampu diserap tanaman bakau berkisar pada angka puluhan saja.


Lalu?
Semua bergantung dari lokasi pengambilan buah bakau. Apabila daerahnya tercemar logam berat, maka boleh jadi keripik buah bakau malah berbahaya bagi tubuh, walaupun efek awalnya berlaku positif (ingat kasus Raja China Huang Di yang meminum Pb untuk meningkatkan vitalitas tetapi akhirnya meracuni dirinya sendiri?)

Rekomendasi

Terlepas dari kajian awal ini, perlu dilakukan kajian lebih mendalam terlebih dahulu mengenai keamanan buah bakau untuk dikonsumsi. Untuk sementara waktu, mengingat bukti-bukti yang ada, keripik bakau perlu diwaspadai dan kalau bisa dihindari untuk dikonsumsi.

Comments

Popular posts from this blog

Nilai gizi pada jagung dan turunannya

Kembali ke akar: Penggalan Cerita dari Muara Ancalong

Melanjutkan Tradisi Generasi Emas Smansa