Pandangan Mata dari Seminar Nasional PATPI 2008 di Palembang

Seminar ini dilaksanakan mulai 14 Oktober hingga 16 Oktober 2008, dengan jumlah peserta berkisar 300 ahli teknologi pangan dan bidang-bidang yang terkait dalam teknologi pangan, praktisi industri pangan, mahasiswa serta pemerhati pangan. Topik yang diangkat seputar peningkatan kualitas pangan dalam upaya memperluas akses pasar pangan nasional. Seminar ini dibuka langsung oleh Menteri Pertanian Indonesia serta dihadiri oleh pelaksana tugas Gubernur Sumatera Selatan.

 

Situasi di Ruang Seminar PATPI sebelum pembukaan

Keynote speakers
Menteri Pertanian menekankan enam program di bidang pertanian, diantaranya adalah peningkatan hasil produksi dan kualitas produksi pangan Indonesia. Sementara Gubernur Sumatera Selatan menantang para ahli pangan untuk meningkatkan mutu produk lokal asli Indonesia, seperti Pempek Palembang yang telah terkenal hingga ke luar negeri.

 

Menteri Pertanian membuka kegiatan Seminar

Salah satu dari dua orang pembicara dari luar negeri yang diundang, Prof. Winfried Strohas dari Jerman, mengungkapkan bahwa kebutuhan protein dunia bisa dipenuhi dengan mengembangkan myco protein yang berasal dari jamur Fusarium sp. Bioteknologi, Rekayasa kimia, serta pengetahuan tentang bahan tambahan pangan akan menjadi tulang punggung pemenuhan kebutuhan pangan dunia, khususnya protein.

Sementara itu, Prof Abd. Karim Alias dari Malaysia menyatakan bahwa untuk memenuhi kebutuhan pangan halal terkait proses produksi modern, maka para ahli pangan muslim harus mencari alternatif-alternatif spesifik pengganti gelatin yang saat ini lebih banyak berasal dari babi. Prof Karim mengemukakan, ikan bisa menjadi alternatif sumber gelatin untuk keperluan-keperluan khusus.

Di malam pembukaan, semua peserta diundang untuk acara makan malam bersama Gubernur Sumatera Selatan di rumah dinasnya yang cukup dekat dari lokasi pelaksanaan seminar.

 

Ketua PATPI periode 2006-2008 didaulat untuk bernyanyi

 

Prof. Abd. Karim mendapat bunga plastik dari penggemar saat bernyanyi

Keamanan Pangan
Tampil di hari berikutnya, Prof Endang S Rahayu dari UGM menyajikan informasi bahwa 90% dari sumber penyakit berasal dari makanan, padahal menurut data BPOM Indonesia, lebih 60% dari penjaja makanan skala kecil, termasuk didalamnya pengasong dan pedagang kaki lima, tidak memperhatikan keamanan pangan produk yang dijualnya. Prof. Winiati dari IPB sekaligus dari perwakilan BPOM dalam forum diskusi teknis menyebutkan, 75% mengetahui bahwa ada anak-anak sekolah yang menderita mencret, sakit perut, dan gejala-gejala keracunan makanan.

Diskusi teknis

Secara umum, topik keamanan pangan masih merupakan bahasan yang popular diangkat oleh para pemakalah yang berasal dari Indonesia dan Malaysia. Beberapa peneliti IPB misalnya, menampilkan bagaimana meningkatkan keamanan mutu biologis kaskas ayam yang dijual di pasar tradisional maupun supermarket, pelapisan dan pencelupan tahu menggunakn edible coating dan asam asetat glasial. Aplikasi sanitiser berbasis kitosan untuk produk pertanian juga diangkat oleh salah seorang pemakalah.

Peneliti dari UGM menampilkan cara produksi tahu semi otomatis yang melibatkan ekstraksi dingin dan pasteurisasi. Sementara penelitian lain mengangkat tema kemampuan pengikatan Aflatoksin B1 oleh dinding sel dari Bakteri Asam Laktat tertentu. Peneliti UNPAD menyampaikan informasi seputar aspek keamanan produk daging giling yang dijual di hypermarket, sementara banyak peneliti lainnya juga menangkat topik-topik keamanan pangan.

Seminar PATPI kali ini juga diikuti dengan Kongres PATPI yang akan menyegarkan kepengurusan PATPI untuk masa kepengurusan dua tahun ke depan.
Posted by Picasa

Comments

Popular posts from this blog

Nilai gizi pada jagung dan turunannya

Kembali ke akar: Penggalan Cerita dari Muara Ancalong

Melanjutkan Tradisi Generasi Emas Smansa