Pelajaran Penting dari Krisis Finansial Dunia

Terkadang tidak hanya cukup dengan teguran implisit, kita pun memerlukan jeweran terkait perbuatan-perbuatan kita sendiri di atas muka bumi ini. Mungkin ini kiranya yang terjadi dalam dunia finansial saat ini.

Bidang finansial, atau bidang yang menggeluti perputaran uang sebagai akibat dari perdagangan dan ekonomi merupakan satu bidang yang saat ini sedang sakit. Demam yang dihadapi oleh negara yang dianggap laing makmur di dunia saat ini, Amerika, menyebar dengan cepat ke seantero jagat, tidak terkecuali Indonesia.

Apabila di Amerika krisisnya merambah sektor riil, di Indonesia pun begitu. Harga-harga produk pertanian yang menjadi penopang devisa selain migas menjadi ambruk dengan persentase-persentase yang fantastis, tapi menyakitkan. Krisis ini menjadi nyata bagi para petani, pengusaha agribisnis, dan pekerja yang serta merta kehilangan mata pencahariannya dari sektor agribisnis.

Beberapa pelajaran penting dari krisis finansial yang saat ini berlangsung dapat kita petik:

1. Jangan terlalu bergantung dengan konsumsi satu negara, sekalipun dia yang termakmur di dunia. Terbukti tidak ada imunitas atas penurunan daya beli masyarakat Amerika yang pada akhirnya menyeret kita, sebagai pihak yang terlalu menggantungkan ekspornya ke sana.

2. Kita lupa untuk berfokus secara sungguh-sungguh menciptakan kemakmuran masyarakat kita sendiri. Secara perlahan tapi pasti, kita perlu meningkatkan pendapatan dan peluang-peluang kerja, sehingga masyarakat kita memiliki daya beli lebih baik.

3. Semakmur apapun kondisi sebuah negara (bukan hanya yang menganut sistem kapitalis), apabila masyarakatnya tamak dan melepaskan etosnya, maka kehancuran pasti akan terjadi. Hampir semua ekonom sepakat, titik tolak kehancuran ekonomi di Amerika bukan semata karena ideologi kapitalisme itu sendiri, tapi secara khusus karena masyarakatnya too greedy. Masyarakatnya yang tidak mampu diberikan fasilitas kredit seperti mereka-mereka yang mampu bayar. Sementara para pengambil keputusannya, berlomba-lomba mengeruk keuntungan secara tidak wajar dari perusahaan dengan berbagai paket-paket perlindungan yang sungguh luar biasa.

4. Pacu industri berbasis ekonomi riil. Perhatikan instrumen insentif bisnis lebih dari inflasi. Ketersediaan listrik, likuiditas untuk kredit investasi, bunga yang kecil, hingga regulasi yang mudah dan hukuan berat bagi pejabatnya yang korup.

5. Berani untuk pake sistem bagi hasil dan bukan bunga. Sistem bagi hasil berarti memacu semua (termasuk pemilik modal) untuk bekerja keras. Tidak ada kemakmuran instan dari sekedar menjual kertas-kertas yang sejurus kemudian mungkin dicampakkan banyak orang ataupun memberikan dana lalu ongkang-ongkang kaki.

Comments

Popular posts from this blog

Nilai gizi pada jagung dan turunannya

Kembali ke akar: Penggalan Cerita dari Muara Ancalong

Melanjutkan Tradisi Generasi Emas Smansa