Bakteri Asam Laktat juga mampu mengikat toksin jamur

Bakteri asam laktat mungkin merupakan salah satu mahluk kesayangan Tuhan. Betapa banyak manfaat yang diberikan bakteri ini untuk kehidupan (ekologi hingga pangan!). Perkembangan terbaru dari tim-tim riset di IPB dan UGM seputar BAL ini adalah penelitian mengenai kemampuan pengikatan BAL terhadap toksin-toksin jamur. Berikut penjelasannya (tapi ini bukan ringkasan hasil penelitian mereka lho!).

Gambar: Schoolsciences.co.uk menampilkan sel aktual BAL yang dipotret dengan SGM

BAL menghambat mikotoksin
Aflatoksin dan mikotoksin lainnya dapat didegradasi secara fisik, kimiawi, ataupun biologis (Park, 1993). Pendekatan fisik meliputi pemanasan, penggunaan sinar ultra violet, atau radiasi menggunakan ion. Akan tetapi, sejauh ini upaya pengurangan aflatoksin secara fisik dianggap tidak efektif. Penggunaan klorin, senyawa pengoksidasi dan senyawa yang mampu menghidrolisis mikotoksin memerlukan proses perlakuan yang mahal dan sangat memungkinkan hilangnya komponen nutrisi lainnya. Dalam metode biologis Marth and Doyle (1979) melaporkan bahwa banyak mikroorganisme termasuk bakteri, kapang, kamir mampu menyerap sebagian kecil dari Aflatoksin dari bahan pangan. Akan tetapi, penanganan secara biologis ini belum memiliki metode praktis untuk dapat digunakan.

Berkenaan dengan keberadaan bakteri asam laktat, Line dan Brackett (1995) menyebutkan beberapa strain dari Lactobacillus, selain berkemampuan menghambat biosintesis pembentukan mikotoksin, juga mampu mengikat mikotoksin pada dinding selnya hingga 60% dari konsentrasi mikotoksin yang diberikan pada medium bufer fosfat (PBS) (Shetty dan Jespersen, 2006; Gourama, 1997). Konsentrasi optimum bakteri asam laktat yang mampu digunakan untuk mengikat mikotoksin secara efektif berkisar 10 pangkat 9 cfu/mL (Fuchs et al, 2008; Shetty dan Jespersen, 2006; El Nezami et al, 1998).

Faktor-faktor yang menentukan kemampuan penyerapan mikotoksin oleh bakteri asam laktat adalah: (1) nilai pH, dimana semakin rendah pH semakin efektif penyerapan dilakukan, (2) konsentrasi BAL, dimana semakin tinggi konsentrasi semakin efektif penyerapan dilakukan, (3) strain BAL, beberapa galur bakteri asam laktat seperti L. plantarum, L. acidophilus, L. rhamnosus, L. bulgaricus memiliki kemampuan pengikatan hingga lebih dari 60% (4) konsentrasi awal mikotoksin, dimana pada cemaran 5 ppb hampir semua mikotoksin mampu diserap oleh bakteri asam laktat, (6) kadar substrat penghambat proses pengikatan seperti urea, dimana semakin sedikit konsentrasi substrat penghambat semakin tinggi peluang pengikatan mikotoksin. (Simanjuntak, 2008; Fuchs et al, 2008; Shetty dan Jespersen, 2006; El Nezami et al, 1998; Gourama, 1997).

Comments

Popular posts from this blog

Nilai gizi pada jagung dan turunannya

Kembali ke akar: Penggalan Cerita dari Muara Ancalong

Melanjutkan Tradisi Generasi Emas Smansa