Eksistensi

Pernahkah Anda bertanya, apa benar diri ini hidup? Atau ini hanya ilusi? Bahkan ada juga yang bertanya, apa benar diri ini bangun? Atau kita hanya tidur panjang, dan semua yang terjadi ternyata hanya dalam mimpi.

Kalau mengetik, mengaji, berbicara dengan orang lain, berbuat sesuatu semua bisa terjadi dalam ilusi, lantas apa yang mampu membuktikan bahwa kita hidup, kita bangun?

Dalam taraf pertumbuhan seseorang, saya merasa setiap manusia pasti pernah merasakan dirinya mulai mempertanyakan eksistensinya. Eksistensi yang dimaksud bukan karena tidak pernah berkarya, berbuat yang benar. Melainkan, pertanyaan itu timbul sebagai refleksi, pencarian sesuatu elemen yang hilang. Elemen identitas diri, elemen tujuan hidup kita.

Kata orang, perbedaan antara ilusi dan kenyataan di dalam otak hanya sebatas pindah dari satu locus ke locus lain yang letaknya tidak berjauhan. Jadi, segala sesuatu yang terjadi dalam kehidupan kita itu realita ataukah ilusi? Seberapa kita bisa mengenali mana realita dan mana ilusi? Saya banyak bertanya, mana yang betul-betul nyata, saat realita pun sebenarnya bisa jadi hanya gangguan ilusi kita.

Ah, kata-kata sendiri sangat terbatas. Sebenarnya saya ingin bertanya lebih dalam, tapi susah mencari kata-katanya.

Begini. Saat di depan publik, saya bertanya: apakah ini nyata? Atau ternyata fisik saya sebenarnya sedang terkapar di dasar jurang, dan ternyata ilusi saya saja yang menimbulkan kebahagiaan semu. Atau disaat bersamaan ternyata pikiran saya terbang, padahal nyatanya saya terbaring koma?

Bukankah kita semua pernah bermimpi kalau kita sedang begini, sedang begitu. Ternyata kita terbangun dan menyadari kita bermimpi. Kemudian kita berbuat sesuatu dan lainnya. Ternyata kita terbangun lagi dan menyadari kita bermimpi. Terus menerus sedemikian sehingga kita bermimpi bahwa kita bermimpi.

Jadi? Yang mana ilusi, yang mana kenyataan?

Untuk sementara saya berpegang dengan ucapan seorang Arif. Saya mendapatkan jawaban singkat: kita tidak mungkin sedang bermimpi/berilusi, kalau kita senantiasa bersyukur. Ya, ternyata tindakan bersyukur itulah yang menyebabkan kita hidup dalam dunia nyata, bukan dunia ilusif.

Comments

Popular posts from this blog

Nilai gizi pada jagung dan turunannya

Kembali ke akar: Penggalan Cerita dari Muara Ancalong

Melanjutkan Tradisi Generasi Emas Smansa