Golput, politikus, dan sepatu

Pertama sekali, saya kagum dengan GW Bush. Bukan karena orangnya, negaranya, apalagi kebijakannya yang dikecam habis-habisan dipenjuru dunia, tapi karena sepatu. Anda sudah bisa tebak, jalan ceritanya bakal kemana, tapi sayangnya saya tidak mau mengulang-ulang berita di media. Saya hanya membayangkan, apabila iklim demokrasi Indonesia separah Bush dilempar sepatu, mungkin para demonstran di seputaran Medan Merdeka minimal bisa masuk penjara semua.

Tapi kita patut berfikir ulang. Beruntung dilemparnya pakai sepatu, karena artinya masih bisa beli sepatu yang representatif untuk bertemu presiden. Bayangkan masyarakat yang bertahun-tahun terjebak lumpur. Seluruh mata pencaharian, harta dan masa depannya hancur lebur karena keserakahan pengusaha (note: konferensi geologi di Afrika menyatakan bahwa kasus Lapindo sebagian besar diakibatkan karena kelalaian perusahaan pengeboran). Mau ngelempar pake apa? Karena mereka beli sepatu pun tidak bisa. Beberapa tahun silam, Presiden kita dihadiahi "buah tangan" lumpur di dalam botol, rupanya sindiran ini tidak kena.

Sindirannya dikeraskan sedikit, lewat teriakan-teriakan yang menggelegar sampai membuat pusing. Ah, pusing karena ribut-ributnya kan cuman sehari itu. Mereka yang berteriak sudah nggak tahu lagi pusingnya mau dikemanakan. Tidak punya apa-apa lagi, bahkan dibandingkan dengan membuka kotak pandora pun tidak bisa. Ya, mereka bahkan tidak punya optimisme, harapan.

Atau jangan-jangan pusing, karena suara hati berkata "begini/begitu", tapi tidak berani untuk melakukannya?

Politikus
Beralih ke politikus. Seandainya mereka merasakan panasnya jalanan, bertarung mendapatkan 10-20 ribu rupiah sehari untuk rezeki yang halal, lantas mendengar berita politikus korupsi multi milyaran rupiah, sudah begitu cengangas-cengenges seakan manusia paling tidak berdosa, apakah ini tidak memunculkan korsleting amarah?

Malu rasanya lihat berita-berita di TV Indonesia. Isinya demo, penolakan sana-sini, korupsi, berbagai ketidakpedulian yang semakin ditunjukkan pemimpin/politikus. Kasihan anak-anak kita!

Satu, dua kali mungkin adalah oknum. Justru sekarang, yang tampak sbagai oknum adalah politikus yang jujur. Artinya, amarah yang dipendam masyarakat benar-benar nyaris tidak terbendung lagi. Belum kalau melihat yang tidak bisa masak atau berjualan karena bahan bakarnya tidak ada.... Sedikit perkara, pasti akan muncul demo, anarki, dan berbagai kekerasan sebagai simbol bahwa masyarakat dalam kondisi frustasi.

Bagaimana tidak frustasi, jika pemimpin yang mereka coblos sekarang berbalik tidak bersahabat. Akibatnya? Masyarakat jadi pragmatis. Mereka juga mau menikmati hasil korupsi pejabat dan politikus. Caranya? Setiap kali dimintai tolong, pasti harus ada imbalannya.

Dulu.. dulu sekali, menerima imbalan sebagai balasan pertolongan spontan rasanya masih tabu. Sekarang? Bayar dulu baru ditolong.
Demikian materialistisnya sehingga kemanusiaan pun jadi santapan. Sekantung darah harus ditebus berjuta-juta karena yang digunakan adalah hubungan supply-demand. Masuk rumah sakit ditanya dulu kerja dimana, uang depositnya berapa.. dan sebagainya.

Golput
Maka, jangan salahkan masyarakat untuk bergolput. Itu adalah upaya ketidaksukaan yang ditunjukkan dengan cara paling damai, diam, tidak banyak omong, tapi bukan pula NATO (no action, talk only).

Bagi telinga-telinga dan mata-mata serta hidung-hidung yang sudah kebal tersebut, bukalah sedikit celah panggilan jiwa (conscience) untuk mendengarkan darah-darah yang mengalir akibat demo, tindakan anarki, tindakan opresif, maupun TKI yang mencari sedikit penghidupan. Apabila politikus merasa terganggu karena tidak ada yang milih, alias angka golput semakin tinggi, berkacalah pada wajah-wajah sendu korban kebijakan dan tidakan ignorance kalian.

Jangan karena ketakutan kehilangan pemilih, agama jadi tameng. Ulama dipaksa untuk mengharamkan golput. Kalaupun golput diharamkan, rasanya lebih baik golput (saya gak tahu apakah Tuhan mengenakan dosa ke saya atau tidak) dibanding memilih pemimpin yang track record ataupun itikadnya buruk.

Comments

Popular posts from this blog

Nilai gizi pada jagung dan turunannya

Kembali ke akar: Penggalan Cerita dari Muara Ancalong

Melanjutkan Tradisi Generasi Emas Smansa