Sudut kota yang (masih) layak dikunjungi - 3

Stadiun Madya Sempaja

Lokasi ini memang cukup jauh dari rumahku, tapi minggu ini petualangan bersepedaku sampai juga kesini. Tempatnya sendiri cukup nyaman, dan lumayan bebas banjir. Lokasinya memang diperuntukkan untuk kompleks olah raga, jadi tentunya setiap hari pasti ditemui orang-orang lalu lalang sekedar berjoging ataupun bersepeda di seputaran GOR-nya.

Bila Anda adalah penduduk lama seperti saya, maka saat berkunjung ke tempat ini di Minggu pagi, pasti ada saja kolega yang berada disana. Ini yang membuat tempat ini menyenangkan. Suasana pagi hari yang hangat, relatif bersih, tapi juga bisa bertemu kolega-kolega berserta keluarganya yang kebetulan berada di sana di saat bersamaan.




Opini saya:
  1. Untuk lapangan parkir, tempat ini sangat lapang, tidak ada kebut-kebutan, sehingga anak kecilpun dapat bersepeda dengan aman.
  2. Lingkungannya bersih, tidak banyak pedagang dorongan yang berpotensi menyampah.
  3. Sayangnya tempat ini bukan tempat rekreasi, tetapi tempat berolah raga. Jadi pagi hari (hingga pukul 10.00) dan sore hari (mulai pukul 16.00) adalah waktu yang tepat untuk berkunjung ke sini.
  4. Untuk fotografi? seandainya GOR bisa bermandikan cahaya di malam hari, mungkin ini bisa jadi obyek menarik sebagai salah satu landmark kota Samarinda.
Sebagai contoh, saya mau ambilkan salah satu koleksi Stadium Kriket yang ukurannya hampir sama dengan GOR sempaja ini:

Rekomendasi untuk wisata:

Kebersihan: 4/5
Kerapian (termasuk fungsi fasilitas umum): 3.5/5
Parkir: 5/5
Jadi obyek foto: 2.5/5
Keamanan: 4/5
Keseluruhan: 3.5/5

Comments

ence said…
wheww rupanya tempat saya sering olahraga ini keren juga ya ak, sy aja g nyadar.
Btw tapi hati2 kalo sore2 pak alnya sering ada anak2 (SMP or SMA gt)yang kalo naek mtr kayak-yang-punya-jalan-itu-mbahnya-di-somalia-sono.
Sambel banget alnya membahaykan orang lain.
Anonymous said…
This comment has been removed by a blog administrator.

Popular posts from this blog

Nilai gizi pada jagung dan turunannya

Kembali ke akar: Penggalan Cerita dari Muara Ancalong

Melanjutkan Tradisi Generasi Emas Smansa