Boikot, asiiik!

Dari jaman kuliahan sampai sekarang, setiap kali ada clash antara kapitalis dengan negara-negara berkembang, pasti ada anjuran boikot. Sekarang pun demikian, saat Amerika yang abstain pada voting-nya DK PBB terhadap resolusi si agresor Israel, seruan boikot pun mengencang kembali.
Ini adalah postingan saya di sebuah milis, yang merupakan another side of a boycott campaign.

Sekedar stress relief sedikit, jangan dimasukin ati ya...

1. Boikotnya pilih-pilih ya?
Kalau di-boycott total bisa-bisa, yang sekolah mungkin gak selesai-selesai kul-nya. Wong notebook-nya pake "Intel", OS-nya "Microsoft", word Processor-nya "Ms Office", Anti-virusnya "Norton" atawa "McAfee" yang kalau ditotal harganya bisa 5 tahun ngopi di Starbucks, atau beli segudang Coca-Cola/Pepsi.
Blum kalau pulangnya yang kudu pake Boeing 767 dari si Kangguru Loncat, bukan Onta :))

Hati-hati ah, karena Allah tidak menyukai Muslim yang tidak sejalan antara perkataan dan perbuatan.

2. Cara positif lainnya:
Jadi inget, ada perdebatan yang bikin senut-senut begini:
What would you choose, to buy a product from those who believe in God, or from others who disbelieve in God?
My answer is: to produce and consume them ourselves!

Saya berfikir, kalau sekedar memboikot itu mudah. Tapi semua keunggulan itu dibangun dari pengetahuan yang baik. Oleh karena itu, kejar pengetahuannya, buat tandingannya. Seperti China dong... dia tidak boikot dengan cara tidak membeli, tapi dengan cara menandingi produk Amrik sono dengan produknya yang lebih murah tapi kualitas mirip-mirip lah.

3. Dilema Lain:
Ada masalah lain dengan resto-resto yang katanya waralaba Amrik itu, mereka rata-rata bersertifikat halal. Dibanding resto-resto waralaba Indonesia yang banyak sekali tidak perduli ama halalnya.
Apa lagi kalau resto-resto below average di pinggir-pinggir jalan itu, yang halalnya gak pasti apalagi thayyib-nya.
Kalau saya sih milih yang pasti-pasti aja. Pusing deh....

Demikian insight-nya. Silakan dicaci-maki :))

Comments

Popular posts from this blog

Nilai gizi pada jagung dan turunannya

Kembali ke akar: Penggalan Cerita dari Muara Ancalong

Melanjutkan Tradisi Generasi Emas Smansa