You must read it: The Three Cups of Tea

Buku ini adalah cerita perjuangan dr. Greg Mortenson, mantan pendaki gunung yang gagal dalam usahanya mencapai puncak K2 yang merupakan gunung tertinggi kedua didunia dengan trek yang paling menantang, tetapi mulai berhasil menggapai puncak-puncak kemanusiaan tertinggi.

Tiga cangkir teh telah mengubah dia yang petualang, penikmat keindahan dunia di puncak-puncak keangkuhan dunia, dimana alam menunjukkan superioritasnya atas mahluk yang lemah ini. Dia pun menemukan suaranya, tujuan hidupnya yang ternyata 12.000 mil jauhnya dari rumahnya yang di Montana itu.

Greg, seorang pria miskin yang menjalani wajib militer dua tahun untuk menebus pinjaman biaya kuliahnya, mewujudkan berdirinya sekolah-sekolah di daerah dataran tinggi Pakistan dan Afganistan. Sekolah-sekolah itu berada di daerah antah-berantah, tempat-tempat yang tidak ada dalam peta-peta modern, mungkin hingga saat ini. Butuh hampir 1o tahun hingga ia mampu membangun sekolah pertamanya dengan uang seorang kapitalis yang mendambakan sebuah pengabdian terakhir bagi manusia dalam hidupnya.

Anda akan takjub membaca kebijaksanaan Haji Ali, seorang saleh dan pemuka kabilah saat ia membela cita-cita dr Greg dengan memberikan 12 kambing jantan, setara separuh kekayaan kampung itu, kepada pemimpin kabilah lain sebagai uang jaminan keamanan. Haji Ali, demikian orang yang sangat dihormatinya, selama ini membuka mushaf Quran, meyakininya sebagai buku terbaik, yang setiap membuka mushaf dalam kondisi suci dan seakan membacanya dengan bergumam, ternyata adalah seorang buta huruf hingga akhir hayatnya! Rahasia inilah yang menyelamatkan hidupnya saat ia diculik oleh sekelompok orang di bagian lain di Pakistan.

Dia yang belajar adat istiadate setempat, shalat dengan cara sunni di perkampungan Syiah, mengerti cara bertayamum, tidak lupa ikut shalat lima waktu walaupun Islam bukan pilihan hidupnya. Kecurigaan tidak terhitung, akan tetapi dia berhasil mendirikan 51 sekolah dan mendapat kepercayaan dari mereka yang penting hingga mereka yang terbuang. Dia juga yang sekilas menceritakan Osama, Taliban, 9/11, dan perang Kashmir dari sisi pandang Pakistanis.

Seorang Amerika yang pemalu, miskin, namun bertekad baja mampu memberikan perubahan kepada masyarakat di pelosok dunia lain. Ia mengisi headline koran-koran Amerika di hari-hari pertama penyerangan Amerika di Iraq dengan judul: Dia, yang memerangi terorisme dengan buku!
Foto dari situs resmi: www.gregmortenson.com/photos.php
Rasanya kurang lengkap membaca cerita perjalanan hidupnya tanpa berriset mengenai metode-metode pengajarannya di daerah terpencil itu. Anda pun perlu mengunjungi situs: www.threecupsoftea.com.

Membaca buku seperti ini, Anda harus meninggalkan prasangka dan kacamata polaritas yang selama ini Anda kenakan. Bagi yang terbiasa dengan ekslusivisme dan superioritas ideologi ataupun cara pandang tertentu, mungkin akan mengernyit mendapatkan beberapa pernyataan awam yang tercantum dibuku ini. Tentu saja, ambillah ibrahnya, tinggalkan apa-apa yang mungkin membuat Anda tidak sependapat berkenaan dengan beragamnya latar belakang kita. Bacalah dengan nurani dan kejernihan, temukan inspirasi besar didalamnya, terlepas dari keunikan yang mungkin Anda temukan dari sisi gaya bahasanya.

Buku ini mendapatkan penghargaan Best Seller dari The New York Times, terbit dengan tebal lebih dari 600 halaman (edisi Indonesia). Edisi Indonesianya sendiri sudah dicetak dua kali di akhir tahun 2008, sementara edisi aslinya keluar pada tahun 2006.

Sangat inspiratif, sehingga Anda pun merasa perlu menjadi seorang Greg 'Sahib' bagi masyarakat yang Anda pilih sendiri!

Rekomendasi 5/5
Resensi lainnya tentang buku ini:
1. Kalipaksi
2. Sholahuddin
3. Catatanhadi
4. Singabaya-store

Comments

Popular posts from this blog

Nilai gizi pada jagung dan turunannya

Kembali ke akar: Penggalan Cerita dari Muara Ancalong

Melanjutkan Tradisi Generasi Emas Smansa