Stress mematikan sel syaraf

Secara live, akhirnya saya berhasil membuktikan bahwa stress oksidatif yang dipicu oleh infeksi dinding sel bakteri Gram negatif (lipopolisakarida) dan sitokin pro-inflamasi, diwakili oleh interferon-gamma, mampu membunuh sel syaraf dengan sangat signifikan (lihat gambar di bawah).

(c) Anton Rahmadi dan tim, telah dipresentasikan di FENS dan ICAD

Dalam kondisi stress dipicu oleh faktor eksternal, sel-sel imun akan memproduksi senyawa-senyawa sitokin pro-inflamasi (selain interferon-gamma) yang pada konsentrasi tertentu akan membunuh sel-sel syaraf. Konsentrasi sitokin ini akan semakin terakumulasi sehingga jumlah sel syaraf yang mati semakin banyak dari hari ke hari. Pada hari pengamatan ke-2, reduksi jumlah sel syaraf mencapai >60% yang dibuktikan dengan perhitungan komputer dengan algoritma tertentu (lihat gambar di bawah).


(c) Anton Rahmadi dan tim, telah dipresentasikan di UWS Student Conference

Stress oksidatif ini dapat pula dipicu oleh makanan yang banyak mengandung protein terglikasi (di bakar, panggang, atau masak suhu tinggi), faktor lingkungan dan gaya hidup.

Oleh karena itu, ada beberapa saran agar stress oksidatif ini berkurang:
(1) menyeimbangkan asupan makanan antara yang banyak mengandung protein terglikasi dengan yang banyak mengandung antioksidan.
(2) mengurangi faktor stress akibat lingkungan dari yang paling sederhana seperti memiliki lingkungan kerja yang rapi, memindah tata letak perabot rumah, melihat/memiliki akuarium mini, hingga pergi berekreasi.
(3) dari aspek gaya hidup, stress dapat dikurangi dengan cara memiliki pergaulan yang bersifat saling membangun dan mendukung, menolong sesama, memiliki ambisi yang terukur, dan rajin beribadah.

Comments

Popular posts from this blog

Nilai gizi pada jagung dan turunannya

Kembali ke akar: Penggalan Cerita dari Muara Ancalong

Melanjutkan Tradisi Generasi Emas Smansa