Retrospeksi akhir tahun

"Saya memberikan kesempatan bergabung, karena saya percaya Anda bisa mendukung program-program menuju institusi yang semakin baik, sebagaimana diamanatkan oleh pimpinan kita". -- sebuah dialog sore yang mengawali proses retrospeksi.

Para mahasiswa THP mendengarkan, mencermati dan memberi catatan terhadap presentasi rekan mereka.

Dua hari terakhir merupakan saat melihat ke belakang untuk melangkah lebih lanjut di masa depan. Tahun 2014 adalah titik tolak penting dalam proses internasionalisasi institusi, dimana strategi yang diterapkan adalah memberikan kebanggaan dan semangat bahwa kita bisa. Beberapa program sudah digelontorkan, tapi rasanya masih terlalu awal untuk melihat suatu hasil.

Menapaki jalan sebagai pengajar bukan sekedar mencari gemerlap prestasi akademik pribadi atau kelompok, juga membangun komunitas. Kata orang, ini adalah pilihan hidup. Banyak hal baru yang harus dipelajari dan dimengerti, karena amanat itu dibebankan para sesepuh untuk ditunaikan.

"Saya sudah berumur, untuk itulah Anda disini, meneruskan cita-cita internasionalisasi. Kaderisasi, hingga satu saat Anda siap berperan secara strategis. Mimpi ini sudah dipendam sangat lama, yaitu menyinergikan langkah-langkah antar bagian dalam proses internasionalisasi institusi ini"  -- sebuah dialog pagi ini yang menyebabkan hati ini terpekur cukup lama.

Tahun depan Masyarakat Ekonomi ASEAN sudah di depan mata. Tantangan yang dihadapi adik-adikku sungguh berbeda. Seorang mahasiswa menyampaikan: "Ya itu Pak, pesan Bapakku di (Muara) Wahau. Belajar mengerti bahasa Inggris, agar kita mengerti dan tidak gampang dibodohi orang asing". Bahkan orang tua-orang tua di pedalaman pun risau memikirkan generasi penerus mereka. Harapan itu tinggi menjulang.

Ruang boleh kurang kursi, tapi semangat mengikuti praktikum terlihat disana.

Diakui, mendidik generasi muda di daerah sendiri memang memerlukan keterampilan yang sama sekali berbeda. Ini bukan sekedar pemahaman akademik. Pemahaman dan kemampuan "berbahasa" yang sama dengan adik-adikku ini adalah sebuah tantangan yang besar. Pengertian dan disiplin tidak hanya diminta, lebih dari itu, dicontohkan. Yang tertinggal bukan untuk ditinggalkan. Yang didepan bukan untuk jalan sendiri.

Tahun 2015, apabila diberi umur panjang, terbentang peluang menyinergikan dua, tiga, atau empat langkah. Itu berarti diri ini harus semakin belajar untuk mendengar, memahami, dan mengajak banyak pihak untuk mendapatkan peluang-peluang yang selama ini belum tersentuh.

Fasilitas laboratorium komputasi mungkin minim, tapi semangat belajar terlihat jelas.

Dulu sekali saya pernah ditanya: "mengapa pulang ?". Saat itu jawaban terlihat naif: "apabila sukses di sini adalah sebuah kewajaran. Tetapi, apabila sukses di sana yang tantangannya empat kali lipat lebih susah, maka kepuasan akan berbeda". Sore hari saya mendapat kunjungan seorang ketua organisasi, "Pak, ini sudah dikonsepkan, siap untuk dilaksanakan. Mohon perkenan tandatangannya". Ada intonasi semangat disana, sebuah gesture yang diinginkan dari generasi penerus bangsa ini.

"Suatu saat kita pasti akan mati, tetapi institusi mungkin tetap hidup bergenerasi lamanya. Oleh karena itu, tinggalkan perselisihan, bangun institusi ini bersama". --- suatu pesan seorang dekan dalam sesi dialog bersama di ruang lengkung itu. 

"Tinggalkan legacy yang baik, karena usianya lebih panjang dibanding umur ini. Tetapi, jangan atas nama institusi, menerima beban yang berlebihan. Kesehatan, keluarga, dan kualitas tidaklah layak untuk dikorbankan. Hidup itu ibarat sebatang lilin, jangan Anda bakar di dua sisi sekaligus" --- pesan orang tua di Bogor.

"Saat bertemu kelak, saya yakin Anda boleh jadi juga ada di sana, karena itulah sunnatullah bagi orang-orang yang bekerja keras. Tetap semangat, berhati-hati melangkah, dan terus berkarya." --- pesan seorang pimpinan universitas dalam sesi dialog privat di dini hari.

"Jagalah karakter, karena itu akan jadi nilai-nilaimu. Jagalah nilai-nilai, karena itu akan jadi takdirmu" -- dua bait terakhir dari pesan orang tua di Bogor.

~Samarinda, 12/12/14~

Comments

Popular posts from this blog

Nilai gizi pada jagung dan turunannya

Kembali ke akar: Penggalan Cerita dari Muara Ancalong

Melanjutkan Tradisi Generasi Emas Smansa