Membangun Universitas (1): Prinsip-prinsip prioritas menuju universitas yang maju

Disclaimer: Tulisan ini merupakan sebuah catatan kecil perjalanan yang tidak sempurna dalam upaya mendukung peningkatan pendidikan di tempat mengabdi saat ini. Sharing ini untuk mengingatkan diri, siapa tahu juga bermanfaat bagi kolega yang menapaki jalan serupa.

Universitas, sebuah institusi perguruan tinggi, dibangun tidak sekali jadi. Butuh bergenerasi lamanya untuk menjadikan pilar inovasi dan problem solver masalah bangsa dapat menjalankan fungsinya dengan lancar.  Parameter-parameter kesuksesan sebuah perguruan tinggi yang diadopsi dari riset  Academic Ranking of World Universities (ARWU) terhadap standar kualitas perguruan tinggi, diperoleh empat indikator utama kesuksesan sebuah universitas: (1) kualitas pendidikan yang ditentukan dari seberapa banyak lulusannya yang mampu berprestasi di ajang nasional, internasional, maupun menjadi mandiri; (2) kualitas fakultas atau program studi yang ditentukan dari kualifikasi tenaga pengajar, prestasi tenaga pengajar di ajang nasional dan internasional, akreditasi, dan implementasi kurikulum yang terstandar; (3) kualitas riset yang ditentukan oleh jumlah publikasi yang diterbitkan setiap tahunnya di jurnal kategori A dan A+, jumlah sitasi yang didapatkan; (4) performa per capita yang dihitung berdasarkan performa rata-rata dari semua tenaga pengajar, misalnya H-index rata-rata tenaga pengajar, sitasi rata-rata per pengajar per tahun, jumlah publikasi rata-rata tenaga pengajar setiap tahun. 

Untuk mendukung semua ini, tentunya diperlukan upaya-upaya yang tidak sedikit. Beberapa hal yang krusial dan penting dalam langkah percepatan membangun universitas (atau dalam taraf lebih kecil adalah program studi maupun fakultas) adalah:

Konsistensi terhadap implementasi dari visi dan misi pemimpin. Adalah penting untuk memiliki pemimpin yang visioner dengan misi-misi yang jelas disertai parameter keberhasilan yang jelas pula. Faktor klasik yang paling menentukan adalah komitmen menjalankan visi dan misi tersebut, karena melangkah dan menyesuaikan langkah bersama untuk mencapai visi dan misi ini di tingkat perguruan tinggi adalah tidak mudah.  Perguruan tinggi adalah tempat creme de la creme individu-individu terdidik dengan segala kelebihan yang dimiliki oleh masing-masing individu tersebut.  Penyesuaian langkah dan komitmen untuk menerapkan visi dan misi tidak akan terwujud dengan lancar tanpa dukungan semua pihak.

Konsolidasi internal yang baik dan terus menerus. Memiliki sasaran strategis, sasaran program, dan sasaran kegiatan yang jelas beserta indikator-indikator pencapaian yang merupakan pengejawantahan visi dan misi tentunya merupakan sebuah keuntungan strategis yang dimilili universitas. Akan tetapi, perlu terus menerus dilakukan konsolidasi internal sehingga irama dan gerak masing-masing unit maupun individu dalam universitas dapat terus terjaga untuk menuju perguruan tinggi yang berkualitas sebagaimana disampaikan dalam riset ARWU tersebut. Konsolidasi internal akan memotong overhead cost, inefficiency, dan loss of opportunity yang mungkin terjadi, sehingga dalam kurun waktu yang lebih singkat, perguruan tinggi tersebut dapat mencapai hasil yang lebih baik.  Ini berarti, universitas perlu untuk merangkul semua stakeholders perguruan tinggi, baik internal maupun eksternal. Ini juga berarti, perlu ada jembatan-jembatan komunikasi antar "kubu", sehingga gerakan universitas tidak bagaikan upaya menggerakan kaki-kaki dinosaurus. Meminjam istilah yang sering disampaikan Stephen R. Covey, win-win solution, always seeking for third alternative dan high morality leadership  merupakan langkah yang terus diupayakan untuk dapat dipraktikan sehari-hari untuk memperoleh benefit dari the speed of trust in organisation.

Adaptif, responsif, dan berfokus pada masa depan. Isitilah ini dipinjam dari misi sebuah fakultas yang ada di lingkungan kerja kami. Memang benar, universitas adalah pilar inovasi dan tingkat tertinggi institusi pendidikan yang ada (tertiary education). Untuk itu, peranan program studi, fakultas, dan kemudian universitas harus terus selalu ditingkatkan dan berada pada sisi tertajam dari perkembangan pengetahuan (sharpest edge of knowledge acquisition and creation).  Untuk itu, tyda pernah ada kata berpuas diri bagi universitas terhadap pencapaian-pencapaian yang telah diperoleh. Apabila suatu program studi telah berhasil menyelenggarakan seminar nasional, maka setidaknya prestasi tersebut dipertahankan, atau malah ditingkatkan menjadi penyelenggaraan seminar internasional.  Apabila akreditasi sudah baik, maka harus terus ditingkatkan menjadi unggul. Intinya, pencapaian harus seiring dengan semangat idealis untuk terus berubah ke arah yang lebih baik.  Tentunya semangat ini harus terus menerus ditularkan pada generasi muda, baik staf pengajar muda maupun mahasiswa yang menjadi tulang punggung penentu iklim perubahan universitas.

Sebagai penutup, pepatah kuno mengatakan: tidak ada kesuksesan yang instan.  Reputasi merupakan buah dari karakter, karakter merupakan buah dari usaha, usaha merupakan buah dari semangat dan pemikiran untuk terus maju dan berkembang.

(bersambung ke bagian 2)



Comments

Popular posts from this blog

Nilai gizi pada jagung dan turunannya

Kembali ke akar: Penggalan Cerita dari Muara Ancalong

Melanjutkan Tradisi Generasi Emas Smansa