Menyiapkan Diri Bersekolah Ke Luar Negeri

Sebuah cita-cita
Rasanya, tidak ada tenaga pengajar di perguruan tinggi yang tidak mau sekolah hingga jenjang tertinggi yaitu Doktoral. Semua mau mendapat gelar yang konon katanya bergengsi itu. Apalagi, apabila gelar tersebut diperoleh di luar negeri.  Akan tetapi, banyak staf mungkin belum menyadari bahwa menempuh jalan sekolah berarti juga akan berangkat dari kenyamanan yang saat ini diterima. Akan berangkat melewati jalan-jalan kesukaran untuk tiba di perhentian sementara yang bernama gelar doktor. 
Bagi yang memandang ini adalah sebuah pencapaian prestisius, memang ini adalah sesuatu yang prestigious. Jumlah doktor di perguruan tinggi seluruh Indonesia masih jauh dari angka ratusan ribu. Tentunya, cita-cita menjadi seorang doktor menjadi sangat layak untuk dicapai. Akan tetapi, ini adalah hanya pemberentian sementara, karena setelahnya jalan untuk membangun bangsa terbentang luas. 

Belajar bahasa asing 
Tahapan sekolah di luar negeri harus dimulai dengan belajar bahasa asing, sesuai negara tujuan. Minimalnya, calon karyasiswa perlu belajar bahasa Inggris.  Dulu, universitas belum hadir dalam tahapan persiapan ini. Seiring dengan perkembangan tuntutan akan kualifikasi dosen yang lebih baik, banyak universitas menggelar program persiapan, atau dikenal dengan bridging. Ini berarti calon karyasiswa sudah dibantu oleh kolega-kolega yang terlebih dahulu merasakan sakitnya bersekolah untuk mempersiapkan diri sebaik mungkin.
Mentalitas pertama yang harus dibuang adalah kurang bersungguh-sungguh dalam belajar bahasa. Sikap ini harus ditukar, ditransformasikan, menjadi suatu pemaksaan pada diri sendiri untuk menguasai bahasa yang dituju tersebut. Selalu ingat, bahwa terminal tujuan yang hendak dicapai adalah gelar doktor, dan badai pertama ini pasti berlalu. Universitas telah membantu, dan ini berarti pengorbanan dari sisi ekonomi untuk belajar bahasa sudah berkurang.  Berapa biaya yang diinvestasikan universitas?  Salah satu penawaran yang kami peroleh adalah sekitar 4-5 juta per orang untuk 100 jam belajar. Biaya itu hanya untuk kelas bahasa saja. Padahal, universitas membantu hingga mencarikan professor yang mau membimbing, membantu mempertajam research proposal, hingga membantu mempersiapkan calon karyasiswa untuk menulis jurnal, presentasi dalam bahasa asing, hingga menghadirkan nara sumber dari berbagai universitas prospektus.

Sertifikat penguasaan bahasa asing
Mentalitas kedua yang perlu ditumbuhkan adalah, tidak ada keberhasilan tanpa pengorbanan. Apabila saat belajar bahasa, pengorbanannya mungkin hanyalah waktu dan pikiran (ataupun hilangnya peluang untuk mroyek), maka tahap pasca bridging perlu pengorbanan yang lebih banyak. Calon karyasiswa perlu berkorban untuk mengikuti tes bahasa yang diakui oleh universitas tujuan. Biaya ini tidak murah, rata-rata di atas tiga juta rupiah untuk sekali tes. Apalagi, calon karyasiswa di daerah biasanya harus pula membayar biaya perjalanan ke tempat tes.  Oleh karena itu, persiapan bahasa (bridging) yang telah didukung oleh universitas pada tahap sebelumnya harus telah mampu mendorong calon karyasiswa untuk lolos te bahasa dengan passing grade yang memadai sesuai persyaratan universitas yang dituju. Bila ini tidak terjadi? Tidak sedikit calon karyasiswa yang mengikuti kursus bahasa kembali dengan biaya yang tidak sedikit. 

Letter of Acceptance
Kesiapan berkorban dari sisi waktu, tenaga, pikiran, dan ekonomi tidak berhenti sampai mendapatkan hasil skor TOEFL-IBT/TOEFL-PBT/IELTS atau sertifikat bahasa lainnya. Bukan pula berhenti sampai mendapatkan LoA profesor atau dalam bahasa lain referensi profesor. Melainkan, calon karyasiswa perlu untuk melengkapi semua persyaratan yang dicantumkan dalam admission resmi universitasi yang dituju, misalnya mengirimkan dokumen admission dan biaya admission termasuk apabila harus hadir di universitas tujuan untuk mengikuti admission test. Apakah universitas dapat membantu di tingkat ini? Tergantung dari keadaan universitas. Umumnya, banyak universitas membantu sekedarnya, seperti bantuan terbatas biaya perjalanan. Tapi ini pun jangan diharapkan, calon karyasiswa sekali lagi diuji ketangguhan dan kesungguhannya dengan cara berkorban. Pada tahapan ini biasanya rekomendasi professor sudah dipegang, begitu pula hasil tes bahasa, sehingga untuk melangkah mundur pun sayang.  Bagi sebagian kasus, beasiswa malah sudah hampir di tangan. There is no looking back, tidak perlu melihat lagi ke belakang.
Tahapan ini ujungnya adalah kebahagiaan yang amat sangat (walaupun sementara), yaitu keluarnya hasil admission test yang menyatakan calon karyasiswa  berhak untuk menjadi kandidat PhD di universitas tujuan di luar negeri. Kebahagiaan ini bagai meneguk air saat berbuka di hari pertama berpuasa di musim panas. Lega karena satu tahap yang sangat penting telah terlampaui, sekaligus cemas bahwa masih ada “29 hari penuh pengorbanan” yang harus dilalui, dan itu telah terbentang di depan mata.

Beasiswa
Bagi kebanyakan calon karyasiswa, mendapat LoA adalah langkah awal mengajukan beasiswa kepada Sponsor. Disini negara hadir membantu pencapaian cita-cita calon karyasiswa. Ribuan tempat siap diisi dengan berbagai skema, tentunya dengan prasyarat yang tidak bisa ditawar: memiliki LoA unconditional dan hasil tes bahasa yang sesuai. Apabila kedua persyaratan tersebut dimiliki, calon karyasiswa berhak mendapatkan beasiswa.  Jadi, pengertian beasiswa disini tidak termasuk admission test, kursus bahasa, tes bahasa, kursus menulis research proposal, ataupun status research assistant, wajib matrikulasi, wajib foundation study. Beasiswa diberikan untuk calon karyasiswa yang benar-benar siap langsung masuk program doktoral. 

Paspor, Visa, dan Surat Tugas Belajar
Persiapan keberangkatan adalah tahap dimana tabungan calon karyasiswa akan terkuras habis-habisan, bahkan berhutang. Disini, perjalanan bolak-balik ke Jakarta mengurus persyaratan baik paspor dinas, surat Sekkab, visa, tes kesehatan, wawancara, dan seterusnya sudah menjadi satu rutinitas. Beruntung bagi calon karya siswa yang universitas asalnya dapat hadir di sebagian kegiatan tersebut, misalnya membantu pengurusan paspor dinas dan surat Sekkab. Akan tetapi, perlu diingat, bahwa kita hidup di Indonesia, dimana birokrasi yang cepat tanpa kehadiran fisik itu masih di alam utopia. 

Bersekolah di luar negeri
Keberangkatan ke luar negeri adalah saat paling membahagiakan sekaligus menyedihkan. Bahagia karena sebentar lagi cita-cita bersekolah doktoral itu akan terlaksana, sedih karena sementara semua kenyamanan harus ditinggalkan. Mentalitas yang harus dibangun sejak tahap ini adalah selalu ingat tujuan akhir dan percaya bahwa Allah itu akan menolong orang-orang yang sabar dan berjuang menuntut ilmu. 

Sampai tahap ini tulisan ini selesai, tetap semangat !


Comments

Popular posts from this blog

Nilai gizi pada jagung dan turunannya

Kembali ke akar: Penggalan Cerita dari Muara Ancalong

Melanjutkan Tradisi Generasi Emas Smansa