Membangun Universitas (6): Memulai Riset dari Bawah

Peran dosen yang semakin meningkat

Kehadiran Permen Ristekdikti 20 tahun 2017 telah menimbulkan pro dan kontra di dunia perguruan tinggi. Penghargaan yang tidak seberapa (menurut dosen) harus dicapai dengan kinerja di atas rata-rata, yaitu (1) minimal tiga jurnal nasional terakreditasi atau satu jurnal internasional atau satu paten untuk lektor kepala, (2) minimal tiga jurnal internasional atau satu jurnal internasional bereputasi atau satu paten untuk guru besar, dan ditambah (3) satu buku  untuk  kedua jenjang fungsional dosen tersebut.

Pada kenyataannya, dosen merupakan ujung tombak pendidikan tinggi. Saking pentingnya peran dosen, tiap-tiap insan diberi beban tiga pengabdian (tridharma), yaitu (1) penyebar luasan ilmu pengetahuan (pengajaran), (2) pengkajian dan pendalaman ilmu pengetahuan (penelitian), dan (3) peningkatan ekonomi masyarakat melalui perbaikan-perbaikan di tingkat konseptual, praktek, dan pengembangan kualitas produk (pengabdian masyarakat).


Permasalahan klise produktivitas dosen

Tidak jarang dosen harus menjalani semua ini dengan berbagai keterbatasan, sekalipun tuntutan kinerja dibuat seakan-akan ibarat pungguk merindukan langit. Sebagian besar dosen pada umumnya berjibaku antara dapur dan idealisme. Sementara sebagian kecil menjalani peran lain di masyarakat seperti menjadi lokomotor pembangunan nasional dan daerah, selebritis konferensi, koran, dan media elektronik, maupun tim sukses bayangan para politikus. Semuanya menjadi mungkin tatkala melihat posisi insan terdidik strata dua dan tiga yang jumlahnya hanya persen atau bahkan permil dibandingkan populasi yang dilayaninya.

Terkait dengan peran dosen di dalam pengembangan dan pendalaman keilmuan, dosen sering kali memiliki hambatan sarana-prasarana, peraturan yang kurang bersahabat, waktu untuk mengerjakan penelitian, maupun waktu untuk ber-sabatical (berdiam diri dalam upaya mengumpulkan, mencerna, dan merangkum ide).

Idealisme sering kali harus kalah dengan realita. Sebagai contoh, saat mereka menempuh jenjang studi strata tiga, dosen beruntung bersentuhan dengan teknologi tinggi, alat canggih, dan lingkungan yang sangat ramah terhadap pengembangan pengetahuan. Saat kembali ke dunia nyata, semua itu seperti kembali ke ruang kosong tanpa isi. Kata para senior, masih beruntung dapat ruang kosong, dibandingkan himpunan kosong (meja dan kursi untuk duduk pun tiada). Tidak sedikit dosen yang kemudian belajar lari dari idealisme meneliti, apalagi rata-rata beban mengajar cukup tinggi. Akhirnya, jabatan struktural yang menjadi incaran. Kejadian ini berlangsung terus-menerus, sehingga gairah meneliti kian pudar.

Memulai riset

Adalah angin perubahan yang dibawa Kemenristekdikti untuk memberikan hibah-hibah penelitian yang semakin banyak. Penjenjangan hibah penelitian pun semakin dibenahi, sehingga dosen dapat mempelajari skema penelitian yang sesuai dari level yang paling dasar. Hibah, sekalipun dikeluhkan sebagain dosen karena jumlahnya yang kurang, adalah jembatan yang perlu dibangun untuk terus melangkah terus dalam pengembangan keilmuan profesional.


(sumber: gatech.edu)

Untuk mengikuti angin perubahan, diperlukan upaya memulai riset dari bawah. Ini artinya mendesain riset dari dasar, sesuai dengan kekuatan dan peluang yang ada saat ini. Ada baiknya riset didesain dengan satu idealisme jangka panjang dengan target yang jelas. Target pencapaian akademik tentunya adalah jenjang guru besar. Target pengembangan profesional adalah keahlian spesifik dan identitas grup riset yang jelas. Target penyebarluasan ilmu adalah untuk menjadi payung bagi tugas-tugas akhir mahasiswa yang ingin berkecimpung di bidang yang sama. Target ekonomi adalah menghasilkan produk yang berkelanjutan untuk dimanfaatkan masyarakat ataupun industri.

Memulai riset dari bawah, artinya mendesain riset sesuai keadaan sarana-prasarana lokal dan membangun jaringan akses sarana-prasarana kolaboratif. Ini berarti pengembangan pengetahuan harus dibarengi pengembangan jejaring. Dosen tidak dapat egois untuk menguasai alat-alat canggih yang dibeli dari uang rakyat hanya untuk tim risetnya sendiri. Di pihak lain, dosen juga sebaiknya tidak menyerah apabila alat-alat tersebut tidak dapat diakses. Memulai riset tidak selalu bergantung terhadap akses alat-alat canggih. Riset terapan kelas wahid, biasanya memiliki ketergantungan terhadap alat yang rendah karena jejaring yang sudah luas dan bersifat implementatif antara hasil laboratorium dan dunia nyata. Kecuali mungkin riset-riset dasar, macam penemuan elemen Bosson.

Mengembangkan riset dari bawah artinya belajar bertanggung jawab terhadap hasil riset. Sebagai contoh, tepat waktu dalam laporan-laporan hibah. Ini termasuk mendesain riset yang publishable baik dalam wujud studi literatur, proceeding, buku, monograf, maupun jurnal ilmiah. Lainnya adalah mengerjakan riset sesuai rancangan jadwal yang disusun.

Mengembangkan riset dari bawah berarti belajar mandiri. Saat pulang dari pendidikan strata dua atau tiga, mungkin dosen tingkatannya adalah belajar merangkak dengan sistem penelitian yang harus diakui belum friendly dan lebih banyak merepotkan. Sebagai contoh, dosen perlu menyisihkan sebagian gaji atau hasil mengamen untuk memodali penelitian. Merangkak memulai penelitian dengan parameter yang sangat sederhana, jauh dari yang dikerjakan saat duduk di bangku studi strata dua atau tiga. Termasuk, merangkak belajar menyusun proposal riset yang layak dibiayai.

Mengembangkan riset dari bawah artinya menjalin pertemanan jangka panjang dengan mereka yang memiliki passion yang sama. Seiring waktu, kemunculan dosen di ajang konferensi, mengenal kolega yang seprofesi, mengenal bahasa-bahasa yang sering dipergunakan, dan akhirnya mengetahui proses penelitian yang lebih baik. Biasanya, semakin besar atau penting suatu riset, semakin besar pula elemen kolaborasinya.  Menjadi periset ibarat belajar bermasyarakat, tentunya di dunia ilmiah.


(sumber: blueoceanglobatech.com)


Tips dari sesama pembelajar

Kalau ditanya, dimana kami saat ini? Tidak lebih seorang yang sedang belajar menjadi peneliti, sedang belajar merangkak dari bawah. Beberapa tips yang dirasakan bermanfaat saat menjalani proses belajar tersebut hingga saat ini adalah:

  1. Ide mendahului reputasi. Ide adalah landasan bergerak yang paling dasar dan realistis. Ide adalah awal sebuah jalan panjang dunia riset.
  2. Memulai dari sarana-prasana yang ada atau yang dapat diakses.
  3. Belajar bertanggung jawab terhadap luaran riset dengan mengumpulkan kewajiban secara tepat waktu. Termasuk didalamnya adalah publikasi, sesederhana apapum bentuk publikasi tersebut (monograf, buku ajar, jurnal tidak terakreditasi, prosiding terindeks, hingga akhirnya jurnal internasional bereputasi ataupun draft HKI/paten)
  4. Belajar menyisihkan modal untuk riset jangka panjang dengan mengumpulkan bahan, standar, peralatan sederhana, maupun ide yang mampu menunjang riset dalam jangka panjang.
  5. Belajar untuk memulai terlebih dahulu, bahkan sebelum proposal hibah dikirimkan. Setidaknya, ini menunjukkan passion meneliti yang sudah mulai terbentuk.
  6. Belajar menerima situasi bahwa peraturan hadir karena pengalaman. Untuk itu penting kiranya peran kolektif bersama menciptakan pengalaman yang lebih baik untuk menghadirkan peraturan penelitian yang lebih menyenangkan.


Pesan bijak yang masih terngiang adalah dari pada mengutuk keadaan, lebih baik mengerjakan apa yang dapat dikerjakan sesuai keadaan di tempat kerja masing-masing. Mari bersama-sama ber-tridharma, mari bersama-sama meneliti.

Comments

Popular posts from this blog

Nilai gizi pada jagung dan turunannya

Kembali ke akar: Penggalan Cerita dari Muara Ancalong

Melanjutkan Tradisi Generasi Emas Smansa