Membangun Universitas (4): Transformasi semangat untuk meneliti kepada mahasiswa

Pengantar

Negara yang maju adalah negara yang menguasai teknologi. Menguasai teknologi artinya memiliki produktivitas riset yang luar biasa, sedangkan riset adalah luaran dari institusi perguruan tinggi atau institusi yang memiliki sarana penelitian unggulan. Fuad Rakhman, seorang dosen UGM, pada tahun 2013 menulis tentang beratnya tantangan reformasi universitas di Indonesia.  Singkatnya, beliau menulis ada empat tantangan: (1) rendahnya kesejahteraan dosen, sehingga dosen lebih sering di luar untuk menutupi kebutuhan hidup keluarganya, (2) implikasi tanggung jawab meneliti berpindah ke mahasiswa, (3) insentif lebih besar di pengajaran karena tuntutan pengajaran yang besar, (4) kesulitan universitas dalam memberikan "punishment" bahkan pemecatan untuk elemen yang lebih menyukai keributan ketimbang berkarya.

Kecenderungan kami pun dulu seperti itu. Saat itu, sebagai pendatang baru dengan idealisme tinggi, kekurangan demi kekurangan lah yang terlihat. Tapi setelah itu, ada fase dimana membangun universitas merupakan tanggung jawab semua pihak. Universitas adalah aset bangsa, dan periode ini adalah periode tumbuh (developing), masih jauh dari periode mempertahankan (established). Riset Glenda Kruss tahun 2015 menyatakan bahwa terlepas dari rumit dan kompleksnya usaha transformasi sebagai institusi riset dan pelopor perubahan, universitas adalah gerbang bagi pembangunan bangsa.

Angin Perubahan menuju Universitas Berbasis Riset

"Stagnant universities are expensive and ineffectual monuments to a status quo which is more likely to be a status quo ante, yesterday’s world preserved in aspic

"Institusi Pendidikan Tinggi yang tidak berkembang akan menjadi monumen mahal dan tidak efektif, sebuah ketiadaan perubahan untuk ketiadaan perubahan, bagai dunia lampau yang disimpan dalam gel pengawet" ~ terjemah bebas
  
Dahrendorf di dalam Brennan et al 2004.

Langkah pertama Kemristekdikti meniupkan angin perubahan, itu adalah adanya beban meneliti dan membina masyarakat yang melekat. Beban ini semakin meningkat seiring meningginya jabatan akademik (fungsional) dosen. Sebagai contoh, seorang dosen dengan jabatan fungsional profesor wajib menghasilan publikasi internasional setiap tahun dan menghasilkan buku setiap tiga tahun. 

Langkah pertama ini dibarengi dengan meningkatnya skema-skema hibah Kemristekdikti, baik dari model skema maupun jumlah dana. Otomatis, dana yang beredar per individu dosen sekarang lebih banyak di penelitian. Dosen yang kurang meneliti, dana yang dikelolanya akan menjadi terbatas. Sementara dosen yang menekuni penelitian dan pengabdian masyarakat, dana yang dikelolanya akan semakin meningkat sesuai rekam jejak, kompetensi, reputasi, dan kemampuan pengelolaannya.

Langkah kedua pemerintah adalah menetapkan standar nasional perguruan tinggi dengan memberikan bobot pada penelitian, pengabdian masyarakat baik oleh kontribusi dosen maupun mahasiswa. Suatu program studi, tidak akan pernah mencapai akreditasi unggul (A) apabila tidak membenahi aspek penelitian dan pengabdian masyarakat yang dilakukan dosen dan mahasiswanya.

Disini poin transformasi minat dan semangat meneliti untuk mahasiswa perlu untuk dibangun. Menurut Prof. Ali Gufron Mukti, Dirjen SDID saat ini, dosen diharapkan mengubah pola kerjanya dari berorientasi jabatan struktural menjadi berorientasi pada pencapaian gelar akademik tertinggi (Guru Besar atau lebih dikenal dengan Profesor). Tentunya rambu-rambu yang dipasang jelas: kontribusi di bidang penelitian dan pengabdian masyarakat harus tampak. Dosen yang diinginkan Kemristekdikti adalah tipikal pemimpin akademik: memimpin riset, mendorong semangat kolegial, dan meningkatkan kapasitas SDM yang menjadi tanggung jawabnya (mahasiswa). 

Semangat ini tampaknya juga dapat diamati di Universitas Arizona ataupun Universitas Birmingham dalam upayanya menuju universitas berstandar internasional, yaitu: pada aspek produktivitas dan kualitas

Pada aspek produktivitas, terdiri dari:
  1. Jumlah lulusan;
  2. Jumlah lulusan yang dipekerjakan atau diterima dalam program pascasarjana di bidang yang relevan;
  3. Jumlah publikasi (atau karya kreatif, yang sesuai dengan bidang);
  4. Kontrak hibah dibandingkan dengan produktivitas yang sama dari rekan kerja;
  5. Kuantitas pengetahuan translasi yang dihasilkan yang diukur dengan hak paten, lisensi, start up atau tindakan lain yang sesuai.

Pada aspek kualitas, terdiri dari:
  1. Peringkat nasional dan internasional program (jika tersedia);
  2. Penghargaan fakultas yang kompetitif untuk pengajaran,
  3. Penelitian dan pelayanan;
  4. Penghargaan kompetitif kepada siswa;
  5. Dampak penelitian yang diukur dengan kutipan (atau tindakan lain yang sesuai dengan bidang).


Transformasi Mahasiswa sebagai "Tentara Akademik"

Produktivitas mahasiswa adalah produktivitas perguruan tinggi. (gambar: Intel.com)


Memulai riset adalah satu langkah awal. Mengorganisasikan riset adalah langkah lanjutan. "Tentara akademik" yang bernama mahasiswa perlu diarahkan, didorong, dimotivasi, disupervisi dan didanai penelitiannya agar menghasilkan luaran yang berkualitas. Tentunya orientasi utama adalah menghasilkan SDM yang berguna dengan kemampuan: (1) analisis (membaca keadaan/data, mengidentifikasi masalah, merumuskan masalah), (2) mencari solusi (memilih teknologi yang sesuai dan dapat dilakukan, membuktikan bahwa masalah tersebut dapat diselesaikan dengan teknologi yang dipilih), dan (3) menyimpulkan (melihat perbedaan sebelum dan sesudah intervensi teknologi, mendefinisikan keterbatasan, memberikan inspirasi pengembangan lanjutan).

Tulisan ini disusun berdasarkan pengalaman didaktis selama kurun waktu empat tahun terakhir. Transformasi mahasiswa sebagai "Tentara Akademik" di institusi pendidikan tinggi yang masih dalam tahap berubah orientasi dari pengajaran ke penelitian dan pengabdian masyarakat dapat dilakukan dalam beberapa tahapan, yaitu: (1) transformasi minat, (2) transformasi membangun kebanggaan, (3) transformasi membangun semangat, (4) transformasi membangun kepercayaan, dan transformasi penemuan jati diri. 

Tahap Transformasi Minat Meneliti

Mengarahkan minat melakukan penelitian berkualitas dapat dilakukan dengan memberikan penghargaan materil maupun imateril, tentunya sesuai dengan kemampuan dosen/supervisi. Memberikan upaya penghargaan materil dapat berupa: (1) mengikutsertakan mahasiswa sebagai peneliti pelaksana/enumerator dimana penelitian tersebut menjadi bagian dari skripsi sang mahasiswa ataupun menggaji mahasiswa, (3) membayari biaya seminar atau analisis, (4) mendorong upaya pembiayaan skripsi mahasiswa melalui program-program hibah, (5) memberikan reward bagi penelitian terbaik untuk kurun waktu satu tahun.
Penghargaan imateril contohnya adalah (1) memberikan pengertian bahwa penelitian dengan output publikasi yang berkualitas akan membantu mahasiswa yang berniat studi lanjut, (2) mahasiswa memiliki hubungan industrial yang luas (terutama bila penelitiannya dibiayai pihak ketiga), (3) penelitian kolektif yang berkualitas akan membangun semngat dan mental kerja kolektif dan kemampuan adaptasi  dan analisis yang dibutuhkan pengguna lulusan (singkatnya: mudah diterima bekerja). 

Tahap Membangun Kebanggaan Meneliti

Sesungguhnya mengelola penelitian sama beratnya dengan mengelola usaha komersil. Pengelolaan riset berarti pengelolaan SDM. Mahasiswa mulai diberikan semangat meneliti dengan memberi contoh-contoh pihak lain yang telah berhasil menempuh jalan hidup peneliti berkualitas. Upaya ini akan lebih mudah seiring dengan waktu, dimana contoh-contoh keberhasilan diambil dari lingkungan yang lebih dekat.

Mahasiswa perlu diberikan contoh-contoh yang membanggakan, misalnya output penelitian kakak kelas mereka yang sudah tembus di tingkat jurnal nasional terakreditasi yang terkenal lama dan susah, jurnal internasional bereputasi, buku, monograf, dan bentuk-bentuk penghargaan lain semisal hasil riset memenangi lomba tingkat regional, nasional, dan internasional.

Tahap Membangun Semangat Meneliti

Tidak ada topik penelitian yang sulit apabila dikerjakan dengan tekun. Sebaliknya tidak ada topik penelitian yang mudah apabila tidak dikerjakan. Kami yakin bahwa semua dosen memahami perilaku mahasiswa yang semangatnya belum stabil. Untuk itu, riset mahasiwa perlu dikerjakan minimal secara tandem (berpasangan). Keuntungan mengerjakan riset dalam tim adalah: (1) cakupan data yang diperoleh lebih luas, (2) ada teman senasib untuk diskusi dan curah perhatian, (3) komitmen kerja yang lebih baik, sehingga waktu lulus lebih singkat. 

Membangun semangat meneliti yang stabil harus dibarengi dengan penerapan disiplin terhadap timeline dan supervisi periodik oleh dosen. Mahasiwa diharapkan memiliki perkembangan minimal dua minggu sekali. Bila stagnan dalqm periode satu bulan, dosen perlu dengan segera memanggil para mahasiswa untuk menanyakan sebab-sebabnya.

Membangun semangat meneliti berarti juga membantu penyelesaian masalah non-teknis semisal akses internet yang baik, ruang lab yang nyaman untuk mereka bekerja dan berdiskusi, hingga memiliki perangkat komputasi cadangan bila perangkat kerja mahasiswa mengalami kerusakan. Terkadang, penyelesaian masalah non-teknis termasuk memberikan keleluasaan mahasiswa untuk mengatur waktu kerja oleh sebab mereka pun mencari pekerjaan sampingan di luar. 

Tahap Membangun Kepercayaan kepada Mahasiswa

Ini adalah tahapan yang paling berat. Produksi data amat bergantung pada seberapa upaya dosen untuk melatih mahasiswa dan seberapa kepercayaan dosen terhadap data yang dihasilkan.  Dosen, sebagai peneliti utama, tidak boleh lepas tangan begitu saja dalam melatih mahasiswa yang baru pertama kali meneliti. Adalah sebuah keharusan bagi dosen untuk melatih atau menyaksikan latihan yang dilakukan mahasiswa. Banyak kasus yang dialami dimana mahasiswa tidak mau disupervisi atau dilatih langsung oleh dosennya. Akan tetapi, lebih banyak lagi kasus mahasiswa yang dibiarkan tanpa dilatih oleh dosennya. 

Membangun kepercayaan mahasiswa termasuk didalamnya adalah mencantumkan nama mereka sebagai peneliti sesuai dengan kesepakatan yang diambil. Misalnya, dosen dan mahasiswa bersepakat untuk meletakkan nama dosen di awal artikel publikasi, atau sebaliknya. Etika dasar ini termasuk tidak boleh menghilangkan nama mahasiswa yang telah terlibat dalam penelitian tersebut, kecuali atas dasar kesepakatan tertulis dan dibarengi dengan penghargaan pengalihnamaan hak intelektual mereka.

Intinya membangun kepercayaan berarti mengizinkan mereka duduk sebagai kolega akademik. Dalam banyak situasi, dosen belajar dari pengalaman penelitian yang dilakukan mahasiswa. Pengalaman-pengalaman tersebut perlu dituliskan dalam skripsi, sehingga menjadi sebuah tulisan unik dan berkesan. Sebagai contoh, beberapa bimbingan kami menyampaikan kalau metode "A" kurang sesuai diterapkan untuk kasus tertentu, atau hasil analisis terhadap kombinasi "B+C+D" ternyata tidak sesuai harapan yang diinginkan. Ini adalah insight baru yang sangat berharga.

Tahap Menemukan Jati Diri

Mahasiswa kami rata-rata berasal dari wilayah yang jauh dan belum sepenuhnya percaya akan potensi yang dimiliki masing-masing. Kasus ini banyak sekali terjadi, dimana mahasiswa diperlakukan secara umum sebagai subordinat yang harus selalu memiliki kemampuan di bawah dosennya. 

Sependek perjalanan kami (membimbing sejak 2004), banyak mahasiswa memiliki potensi yang lebih baik bahkan dibandingkan dengan dosennya.  Sebagai contoh: hasil penelitian S1 kami "hanya" berujung di prosiding seminar nasional dan laporan hibah, akan tetapi hasil penelitian beberapa mahasiswa kami telah mampu tembus di jurnal nasional terakreditasi. Beberapa artikel lain bahkan dalam proses review dipersiapkan untuk tembus di jurnal internasional bereputasi berkategori A (atau Q2 Scopus!).

Beberapa alumni yang selesai dibimbing memberikan testimoni bahwa sikap disiplin dan berorientasi pada solusi yang ditumbuhkan selama mengikuti penelitian berdampak positif terhadap masa depan mereka.

Penutup

Transformasi semangat meneliti mahasiswa perlu dibangun dan ini sejalan dengan upaya membangun universitas menuju institusi pendidikan tinggi berbasis riset. Dampak langsung bagi institusi dari level rendah (PS) hingga tinggi (PT) adalah produktivitas publikasi yang naik signifikan. Tentunya upaya ini sejalan dengan upaya memaknai akreditasi unggul, menuju Pusat Unggulan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (PUI) yang diamanatkan oleh pemerintah.

Comments

Popular posts from this blog

Nilai gizi pada jagung dan turunannya

Kembali ke akar: Penggalan Cerita dari Muara Ancalong

Melanjutkan Tradisi Generasi Emas Smansa