Catatan Umroh Fase Madinah

Mengikuti Sebagian Kecil Jejak Rasulullah di Kota Madinah.

Sumber: www.crystalmsuk.com



Tokoh manusia sentral dan paling utama dalam islam adalah Rasulullah Muhammad Shalallahu Alaihi Wassalam (SAW). Rasulullah tinggal di sebuah kota yang menerima beliau dengan tangan terbuka setelah fase hijrah. Kota ini dulunya bernama Yathrib. Setelah Rasul hijrah, kota tersebut disebut Madinah, sebuah nama yang diambil dari Al Qur'an [At Taubah 120]. Kota ini memiliki banyak nama diantaranya Tabah (Taibah) [Hadits Bukhari, Muslim], Ad Dar dan Iman (Darul Iman) [Al Hasyr 9], dan Al Mu'minuun. Maka Madinah, dimanapun kita menjejakkan kaki didalamnya, akan identik dengan kehidupan Rasulullah hingga wafatnya beliau. Seluruh jejak kehidupan beliau sudah terbentang semenjak memasuki kawasan Masjid Abyar Ali (Dzulhulaifah), dimana ini adalah tempat miqat Rasulullah untuk berhaji.

Suasana Madinah yang merupakan sentra produksi agraris secara kasat mata lebih ramah, mungkin ini efek dari pepohonan kurma yang rindang dan keramahan penduduknya yang sangat heterogen sejak dulu kala. Madinah yang dibangun Rasulullah adalah contoh kehidupan masyarakat madani yang wajib diteladani, misalnya keluhuran budi dari para penduduk, kedermawanan pata sahabat Rasulullah, dan ketaatan mereka akan melaksanakan perintah Allah dan Rasulullah. Utsman bin Affan, Ali bi Abi Thalib, dan para sahabat memiliki banyak sumur waqaf, adapula kebun kurma yang diwaqafkan untuk perjuangan Islam. Abdurrahman bin Auf bahkan pernah mewaqafkan seluruh hasil perniagaannya untuk Islam. Tiga orang ini adalah bagian dari sepuluh sahabat yang dijamin masuk surga oleh Rasulullah. Maka, sudah selayaknya kita bertanya pada diri sendiri: seberapa madani kehidupan keluarga kita? Dan, seberapa dermawan kita untuk kemajuan agama Islam? Sudah berapa banyak waqaf yang keluar dari penghasilan kita sendiri ataupun dari organisasi yang kita pimpin?

Ada puluhan ribu sahabat, tabi'it, dan tabi'it tabi'in yang wafat di Madinah, sebagaimana juga di Mekkah. Beliau-beliau ini adalah generasi terbaik ummat islam, generasi awal yang paling banyak berkorban untuk kemajuan Islam. Maka sudah sepantasnya saat mengunjungi pemakaman Baqi, selain mengucapkan salam bagi penduduknya, kita juga bertausiyah untuk diri sendiri, dimana tempat kita dalam perjuangan Islam? Sudah pantaskah kita dimuliakan Allah, sebagaimana para penduduk Baqi?

Kita pun melihat semangat para 'scholars' di Masjid Nabawi, yang bahkan sampai tertidur di depan mushaf. Beliau-beliau ini menghafal dan membaca huruf demi huruf, tanda baca demi tanda baca, memperbaiki bacaan, terus menerus mengkaji Al Qur'an sebagai sumber utama pengetahuan. Bukankah satu frasa seperti "an tufaniduun" (Yusuf 94) telah didefinisikan sebagai kelemahan ingatan akibat usia dan telah menjadi kajian dalam ribuan artikel ilmiah seperti demensia, Alzheimer's disease, Parkinsons' disease dst. Maka, alangkah baiknya untuk melandaskan kajian semua disiplin ilmu kita pada Qur'an. Bukankah puncak segala ilmu adalah asma' (penamaan/istilah yang disertai pemaknaan/definisinya) sebagaimana yang diajarkan Allah kepada Adam AS? Sesungguhnya sebenar-benarnya kepandaian adalah saat kita mampu mengenal diri kita dan Allah melalui perantaraan Qur'an dan semesta ilmu pengetahuan. Maka sudah sedalam dan sesering apakah interaksi kita dengan Al Qur'an?

Saat ini, Madinah diziarahi ummat Islam dari berbagai penjuru dunia. Ada yang berbekal duniawi cukup, sehingga mampu menginap di pondok-pondok (hotel) mewah ataupun sederhana; tapi ada pula yang berbekal duniawi sekedarnya, sehingga harus tidur di Masjid Nabawi.  Ada yang punya bekal hingga berbulan-bulan atau bertahun-tahun; tapi tidak sedikit yang bekalnya habis saat tiba di Madinah. Ada yang hanya menyisihkan sedikit dari  rizkinya untuk tiba di Madinah; tapi banyak pula yang harus menyiapkan kepergian mereka puluhan tahun sebelumnya untuk tiket dan bekal sekedarnya. Semuanya bertujuan untuk memuliakan Allah dan Rasulnya. Semua berdiri bershaf-shaf saat shalat, berdzikir, dan berdoa tiada beda. Semua dilayani dengan ramah oleh penduduk Madinah. Selama tidak ada hal negatif atau menyimpang, para asykar membiarkan kita semua untuk beraktivitas di lingkungan Masjid Nabawi tanpa ada pembedaan. Semangat berfikir positif dalam pelayanan ini perlu diambil sebagai contoh teladan keseharian kita dalam berinteraksi dengan semua orang. Maka sudahkah kita teladani energi positif dan pelayanan indiskriminatif dalam interaksi keseharian kita?

Insya Allah kerinduan akan Rasulullah dan kota Madinah yang saat ini telah kita tinggalkan akan membawa sibgah ruhaniyah yang dalam untuk menciptakan kehidupan yang madani, menjadi lebih dermawan, memberikan kontribusi terbaik, dan menyajikan pelayanan prima untuk Islam dan ummat Islam.

Mengambil Semangat Perjuangan Rasulullah.

Sumber: Ashiiq E-Rasool


Islam bukanlah agama yang berkembang tanpa perjuangan. Bahkah islam adalah agama yang terus menerus harus kita perjuangkan hingga akhir hayat.  Ada beberapa semangat yang dapat disimak dari kisah-kisah perjuangan Rasulullah:

Nikmat akan berislam dimulai dari keyakinan yang harus dipupuk dengan perjuangan  segenap tenaga, harta, waktu, jiwa dan raga. Bahwa pasti ada rintangan dalam perjuangan menegakkan kalimat Allah. Untuk itu, Ummat Islam harus siap dan waspada setiap saat dari gangguan dan ancaman yang dapat meruntuhkan kehidupan madani berlandaskan Qur'an dan sunnah Rasulullah.

Ketinggian akhlaq adalah sesuatu yang harus diperjuangkan untuk diteladani setiap pribadi muslim, karena Rasulullah tidak dirindukan karena bacaan Qur'annya atau karena fisik pribadinya, atau karena kepandaiannya, atau karena kemenangan-kemenangan pepeerangannya. Rindu kepada Rasulullah muncul karena implementasi akhlaq Qur'ani beliau. Tiada satupun ummat Islam akhir zaman yang tidak merasa terayomi oleh Rasulullah, padahal beliau sudah berjarak kurang lebih 160 generasi dari kita saat ini. 

Perjuangan Rasul adalah untuk menegakkan bahwa tiada ilah selain Allah, yang patut disembah, diagungkan, dimintai pertolongan, dimohonkan ampun, dan dimintai pengharapan. Maka barang siapa yang berharap bercengkrama dengan Allah di akhirat kelak, berjuanglah untuk beramal salih terhadap sesama dan bertauhid secara utuh kepada Allah (ayat terakhir Al Kahfi).

Kesilauan akan dunia akan meruntuhkan kemenangan perjuangan yang sudah di depan mata. Apabila orientasi berubah menjadi hanya orientasi dunia (remunerasi, target, pencapaian, kpi, bonus, pangkat, dst), maka sadarlah selagi saat masih dekat deviasi itu terjadi. Jika berjuang dengan ikhlas karena Allah, maka urusan dunia (remunerasi, target, pencapaian, kpi, bonus, pangkat, dst) pasti akan ditolong Allah dalam pencapaiannya. Ada Allah yang mengatur dunia, karena Dia yang memiliki dunia. Perjuangan (bekerja mencari nafkah dengan cara yang benar dan jujur, mengajarkan ilmu, mengangkat ekonomi ummat, dan memberdayakan masyarakat) yang dilakukan dengan niat karena Allah (divine), teguh berprinsip (adamant), tegar (firm), tulus (sincere) dan tidak gampang menyerah (steadfast) adalah bagaikan memupuk pohon-pohon kurma unggul yang akan berkualitas super dan berbuah hebat. Berjuang bersama dengan Allah, maka semua akan Allah cukupkan.  Tidak ada perkembangan yang melompat (quantum growth) tanpa perjuangan yang dilandasi ridho Allah dan bertujuan untuk menegakkan syi'ar agama Islam. 

Pemakaman Baqi, tempat puluhan ribu shahabat, tabi'it, tabi'it tabi'in. Sumber: Kadz17 @Deviantart


Perjuangan tidak selalu berhasil, kadang terhenti dan berbalik menjadi kegagalan saat langkah tinggal sedikit, saat secara logika semua sudah dihitung dengan matang, atau saat lawan sudah nyaris menyerah. Disini adalah titik balik introspeksi akan ketulusan, ketidakmampuan, dan kelemahan diri kita. Bahwa Allah adalah Al Aziz, Al Qahar, Al Jabbar, Al Mutakabbir, Al Khafidh, Al Muhsi, Al Qawiyyu. Pembuat skenario terhebat adalah Allah. Maka disaat itu kita harus sadar, bahwa kita  ini makhluk. Sebagai makhluk, ingatlah akan Allah, ingatlah Allah, berserah diri kepada Allah akan ketentuannya setelah ikhtiar yang maksimal. Akan lebih indah dan mudah mengingat Allah, bertaubat kepada-nya, memohon dengan asma-asma-Nya yang Lembut, Damai, Sejahtera, Maha Pemberi, dan Maha Pemurah pada saat ini; ketimbang baru tersadar saat nafas sudah ditenggorokan dan kaki-kaki kita saling tertautan dengan kesedihan dan kesadaran bahwa kita akan segera berlepas dari dunia yang dicintai ini. Kesadaran ini akan menyebabkan kita beranjak cepat (mi'raj) menuju tujuan-tujuan yang kita kehendaki, karena orientasi kita adalah keridhoan Allah. 

Perjuangan tersulit Rasulullah adalah mewariskan generasi hebat di jalan Allah, karea itu beliau selalu khawatir akan ummatnya hingga nafas terakhir. Maka keberimbangan antara bekerja, berusaha dengan menyiapkan generasi penerus harus dilakukan. Apabila Rasul dan sahabatnya adalah manusia generasi terbaik, maka mereka semua sudah wafat ribuan tahun silam, baik secara syahid maupun wajar. Jarak kita dengan generasi ini kurang lebih 160 keturunan, maka ingatlah suatu saat sehebat, sepandai, secantik, sepintar, seagung, sekuat apapun manusia, pasti wafat. Urusan dunia akan segera digantikan oleh generasi berikutnya. Seberapa siapkah generasi tersebut untuk meneruskan panji-panji Rasulullah di semua bidang yang kita tekuni? Mana kader yang sudah disiapkan, transfer ilmu pengetahuan, transfer pemahaman aqidah yang lurus, transfer jiwa pengorbanan Rasulullah yang sudah kita 'ijasah'-kan kepada generasi-generasi ini? Oleh karena itu, semangat perjuangan terakhir yang perlu diteladani adalah semangat perjuangan yang diwariskan (sustained legacy).


Raudah

Raudah adalah petak kecil ditandai dengan karpet hijau dan beberapa pilar putih. Lokasi ini begitu diperebutkan untuk ditempati, untuk dijadikan tempat berdoa yang disebutkan mustajab. Maka bila ada kesempatan ke Masjid Nabawi, datangilah untuk berdoa dengan sungguh-sungguh, dengan penuh keyakinan akan dikabulkan Allah SWT.

Sumber: Google.com


Ada satu cara unik untuk ke Raudah, walaupun cara dapat berbeda satu dan lainnya. Cara tersebut adalah dengan menunggu waktu shalat fardlu di sekitar Raudlah sekitar 45 menit s.d. 1 jam sebelum azan berkumandang.  Jika Allah berkehendak, insya Allah kita akan 'dikurung' di wilayah Raudah cukup lama (1 s.d. 1 1/2 jam), dan tidak berdesak-desakan. Masuk dari pintu kedua setelah pintu antrian Raudlah, dan dapatkan shalat sunnat dua atau tiga pilar di belakang pilar antrian ke raudah.   Manfaatnya ada dua: tidak mengantri, saat pembatas antrian dibuka, maka akan ada cukup tempat kosong ke arah kiri depan (di bawah atau dekat mimbar imam).

Izin kami untuk memaknai raudah, taman syurga yang terletak di antara mimbar Nabi dan rumah Saidah Aisyah (Rumah Rasulullah Rasulullah):

Berniat ke Masjid Nabawi yang paling dianjurkan adalah mengajarkan dan menerima ilmu Agama. Pahala yang dicatat adalah pahala seorang mujahid, sampai dengan langkah kembalinya ke kediaman. Maka, Raudah mana lagi yang lebih nikmat dibanding menjadi dicatat sebagai mujahid di Masjid Rasul.

Salah satu upaya mencari raudah adalah ikut sesi Qur'an untuk pengunjung (Qur'an for Visitor) ba'da magrib, di sekitar lokasi pilar 461, masuk dari pintu Quba. Jika beruntung, Anda akan ditahsin oleh seorang syaikh yang insya Allah bersanad ke Rasulullah. Raudah mana lagi yang lebih indah dari ditahsin bacaan Qur'an bersanad yang sampai ke Rasulullah?

Berpuasa di Senin/Kamis dan menyiapkan buka puasa di Masjid Nabawi. Walaupun ini belum sempat kami lakukan, apakah terbayang betapa indah telaga surga yang kita dapatkan saat mampu berbagi di Masjid Nabawi?
 
Saat secara zahir, Raudah begitu mengantri dan kita hanya mendapat secuil tempat berdiri, maka di tempat itu, sampaikan shalawat kepada Nabi dengan shalawat-shalawat yang dibenarkan secara syar'i (misal: do'a di tahiyat akhir) Rasulullah ada di samping kiri kita, Abu Bakar di belakang kiri beliau, Umar di belakang kiri Abu Bakar.  Sampaikan shalawat terbaik di tempat dimana Rasulullah sering ditemui ketika hidupnya. Maka, kita akan larut seakan-akan Rasulullah melihat kita dan menjawab shalawat kita. Koneksi batiniah inilah yang mengisi relung-relung kerinduan akan Rasulullah, manusia teladan yang membimbing kita ke surga Allah.

Cara terbaik meminta syafaat saat di Raudah adalah 'terkurung' disana Ba'da subuh hingga syuruq. Bacalah Al Qur'an secara perlahan tapi tertib (bertartil) seindah mungkin dan sebaik mungkin (bertajwid). Maka, syafaat mana lagi yang paling diharapkan dari manusia mulia yang mengajarkan Qur'an pertama kali.... Inilah Raudah yang sangat indah.

Bila beruntung, maka kita akan bershalat di antara pilar terdekat dengan mimbar Rasul. Nikmati shalat duha atau tahajjud sesuai sunnahnya dengan bacaan yang tidak perlu dipajangkan. Kemudian, berikan kesempatan kepada yang lain untuk ikut menikmatinya. Raudah mana lagi yang lebih baik dari memberikan tempat terbaik yang kita dapat kepada orang yang menginginkannya? Bukankah Allah berpesan untuk bersedekah dengan sedekah terbaik (dalam hal ini sedekah alokasi waktu kepada orang lain, waktu yang sudah kita perjuangkan) adalah jalan mendapatkan pahala kebaikan tertinggi (QS 3:92) ?

Apabila antrian menuju Raudah terlalu panjang, maka jangan lupa untuk berdzikir, membaca Qur'an, bershalawat kepada Nabi, berdoa di sepanjang antrian. Tidak perlu berkecil hati (khususnya yang wanita), apabila karpet hijau sebagai penanda Raudah tidak sampai. Insya Allah niat yang kuat (namun waktu tidak mengizinkan), doa kita sama diijabahnya oleh Allah. Tips terbaik untuk menggapai Raudah adalah bantu mereka yang lemah, lindungi dan ayomi mereka dalam antrian. Berikan tempat dan waktu yang cukup untuk mereka berdoa. Insya Allah pertolongan Allah itu nyata adanya. Mengutamakan orang lain akan menjadikan kita diutamakan oleh Allah. Hadiah langsung dari Allah di tempat tersebut sungguh tidak terduga-duga. 

***

Lorong depan makam Sayyidina Rasulullah, Abu Bakar, dan Umar. Sumber: Google.com

Allahumma salli `ala Muhammad wa`ala ali Muhammad, kama sallayta `ala Ibrahim wa’ali Ibrahim wabarik `ala Muhammad wa`ala ali Muhammad, kama barakta `ala Ibrahim wa’ali Ibrahim, innaka hamidun majid. 

Ya Allah, berilah shalawat kepada Muhammad dan keluarga Muhammad, sebagaimana Engkau telah memberi shalawat kepada Ibrahim dan keluarga Ibrahim. Dan berilah berkah kepada Muhammad dan keluarga Muhammad, sebagaimana Engkau memberi berkah kepada Ibrahim dan keluarga Ibrahim. Sesungguhnya Engkau Maha terpuji lagi Maha Mulia.

Comments

Popular posts from this blog

Nilai gizi pada jagung dan turunannya

Kembali ke akar: Penggalan Cerita dari Muara Ancalong

Melanjutkan Tradisi Generasi Emas Smansa