Catatan Umroh Fase Makkah

Ka'bah adalah rumah bagi hati kaum muslimin


Sumber: Haramaininfo on Youtube


Muslim mana yang tidak menyukai untuk menuju Makkah, shalat di Masjidil Haram, menunaikan umrah dan haji. Setiap hati muslim rasa-rasanya akan selalu terngiang akan kehadiran Baitullah, sekalipun belum pernah melihat sebelumnya. Maka, beruntung sekali muslim-muslim yang telah mendapatkan panggilan ilahiyah untuk datang ke Baitullah dalam umrah maupun haji. 
Menyaksikan Baitullah secara langsung untuk pertama kali merupakan momen yang mengharukan, sangat berbeda dibandingkan melihat di TV. Setidaknya kami jadi mengerti bahwa sesekali imam Al Haram memandang ke Baitullah saat sedang shalat fardhu. Ternyata perasaan tersebut barulah difahami ketika kami melihat sendiri dan merasakan betapa nikmatnya shalat dengan melihat Baitullah secara langsung. Tak terasa air mata yang kesekian terus menetes, rasa tenang melingkupi jiwa dan menghilangkan kelelahan fisik selama perjalanan yang ditempuh. 
Baitullah esensinya adalah sebuah rumah yang terbuat dari batu hitam, ini adalah pusat bagi ummat Islam, dimana bukan rumah batunya yang dinantikan, melain Pemilik Rumahnya yang kita hadapi. Maka esensi rumah batu hitam tersebut bukan pada bentuk kesederhanaan quadrangle-nya, bukan pada kain kiswah berlapis emas yang melingkupinya, bukan pada batu syurga (hajar aswad) yang menempel di salah satu sisinya, rukun yamani, hijir ismail, maqam Ibrahim atau talang air yang terbuat dari emas. Esensi Baitullah bukan pula pada besar dan luasnya Masjidil Haram yang mengelilinginya ataupun ratusan-ribu jamaah muslimin yang shalat, tawaf, dan berdoa di hadapannya.  
Esensi Baitullah lebih dari sekedar sebuah rumah tempat beribadah kepada Sang Maha Pencipta yang sangat dirindukan. Baitullah adalah sebuah ibarat tempat berkumpulnya kaum muslimin di surga yaitu Baitul Makmur. Di Baitullah sungguh sangat hebat terasa perjalanan ruhani (mi'rajul qalbi) bercengkrama dengan Sang Khaliq. Ini adalah Baitullah, tempat iman ditambatkan di tingkat yang tinggi dengan berbagai tempat mustajab untuk berdoa.  Baitullah dalam pandangan kami adalah salah satu tempat dimana dosa diakui dan dimohonkan ampun dengan sungguh-sungguh, sekaligus tempat hati dibersihkan dengan tazkiyatun nafsi dalam setiap langkah dan helaan nafas. Memandang Baitullah dengan segenap lingukungan disekitarnya akan membuat kita bertafakkur akan sumber kehidupan melalui simbolisme air zamzam yang dikucurkan dan mampu mencukupi kebutuhan para jama'ah. Masjidil Haram. Baitullah merupakan tempat otak ditraining dengan zikir dan istighfar dari kilasan dan spontanitas fikiran yang muncul. Baitullah adalah tempat dimana kesabaran dan keimanan ditempa secara fisik, mental, dan spiritual.
Maka, nikmat iman mana lagi yang akan kita dustakan? Inilah pusat peribadatan kepada Allah dengan semurni-murninya tauhid. Katakan wahai manusia, siapa Dia, melainkan Allah SWT yang Tunggal. Dia adalah Tempat Harapan-Keluh Kesah-Kerinduan-Kecintaan digantungkan. Dia adalah Tuhan Sekalian Alam yang Esa, tidak punya keturunan, saudara, ataupun memiliki orang tua. Sungguh, di Baitullah inilah kami melihat dengan sebenar-benarnya melihat bahwa Engkau adalah Zat Yang Pantas Disembah, tidak ada satupun yang menandingi-menyamai-menyerupai Allah SWT.
Tiga hari lebih bersama-sama ratusan ribu ummat muslim di Baitullah, bertawaf mengelilinginya, dan bersegera shalat fardhu pada waktunya, rasanya cukup membuat hati ini terpatri, bahwa kita akan segera datang kembali. Maka air mata mengucur deras saat tawaf perpisahan (wada'), karena kita akan segera mengorbit menjauh dari Baitullah. Tentunya, perpisahan yang kita harapkan hanya sementara. Baitullah ini telah mengikat erat hati kita untuk berjanji kembali ke pusat esensi kehidupan, yaitu mengabdi dan beribadah hanya pada Allah. Semoga Allah memudahkan kita semua untuk tiba dan selalu kembali dalam menumpahkan kerinduan akan Baitullah.

Tawaf adalah kehidupan


Live Tawaf and Sa'i at Masjidil Haram (HaramainInfo on Youtube)


Esensi tawaf adalah kehidupan. Saat kita menggunakan ihram, kita seakan melunturkan semua kemewahan dunia, semua yang dapat menyebabkan kita menjadi sombong, angkuh, merasa lebih baik, merasa lebih saleh, merasa lebih atas manusia yang lain.
Saat kita mengucapkan talbiyah, maka sungguh kita menjawab panggilan Nabi Allah Ibrahim AS yang disampaikan Allah langsung ke sanubari ini. Disaat itu, hati-hati yang kotor ini semakin gelisah dan mulai pasrah akan ketetapan Allah, mulai bersiap untuk berjumpa dengan  Sang Maha Kuasa dan Sang Maha Pemberi Ampun di Baitullah.
Tidak ada satupun yang ingin menjumpai Al Khaliq dalam keadaan kotor, maka simbolisme wudlu adalah menjaga fisik, biologis, mental, dan spiritual kita untuk terjaga dan siap menemui Al Khaliq.
Saat kita memasuki pintu tawaf dan melihat Baitullah yang dirindukan, maka bergetar hati dan jiwa kita, ingin segera larut dalam pusaran kehidupan tawaf.
Hidup dimulai dengan nama Allah yang Maha Besar, dan juga akan diakhiri dengan nama Allah yang maha besar.
Maka disetiap putaran, tiga perempat langkah kita adalah berzikir, seperempat lainnya adalah memohon kebaikan di dunia maupun di akhirat. 
Hidup itu ada yang berat, ada yang ringan. Persis seperti tawaf, ada sudut yang padat sekali, ada juga sisi yang longgar. Maka, ingatlah bahwa sesudah kesulitan ada kemudahan.
Hidup itu ada yang berjalan cepat, ada yang berjalan lambat. Persis seperti tawaf, ada langkah yang dapat dipercepat, ada langkah yang diperlambat dengan kewaspadaan. Maka ingatlah bahwa pertolongan dan penjagaan Allah itu nyata adanya.
Hidup itu ada yang terseret arus, terdorong arus, terdesak arus, terjepit arus, terbujuk rayuan, tersemangati oleh obsesi dengan berbagai latar belakang. Persis seperti tawaf, ada tempat-tempat yang diperjuangkan untuk dapat dinikmati, untuk dapat dikagumi, untuk dapat disentuh, dishalati, dicium, dan dikagumi. Maka ingatlah, tidak ada keberhasilan tanpa pengorbanan. Sungguh, kewaspadaan fisik, kemampuan menahan diri tidak melanggar hak sesama muslim, dan keyakinan pada pertolongan dan kesempatan yang diberikan Allah adalah nyata dialami selama tawaf.
Hidup itu ada awal ada akhir, tidak peduli seberapa berat-ringannya kehidupan, cepat-lambatnya aktivitas kehidupan. Persis seperti tawaf. Aktivitas ini dapat dijeda oleh shalat wajib, menyentuh multazam, mencium hajar aswad, menyentuh rukun yamani, shalat sunnat di hijir ismail dan diakhiri setelah tujuh putaran lengkap. Manusia datang silih berganti, diuji dengan arus kehidupan yang bobot satu dan lainnya berbeda. Maka hanya kepada Allah-lah kita bertawakkal.
Kehidupan sebagaimana pusaran tawaf terus bergerak tanpa henti, kecuali saat iqomah ditegakkan,  Pada akhirnya kita akan berpisah dengan dunia, sebagaimana ruh ditiupkan begitu pula ruh dipisahkan. Maka hanya Allah-lah yang kekal abadi dan hanya Dia-lah yang patut disembah.
Semua manusia mendambakan mati dalam kebaikan, dalam keimanan yang tinggi kepada Allah. Simbolisme meminum zam-zam dan shalat sunnat tawaf adalah istirahat sejenak dalam ketenangan, kedamaian, keikhlasan akan taqdir-Nya sebelum perjalanan menuju akhirat dimulakan. Maka air telaga zam-zam yang dingin adalah ibarat kesejukan yang dialami saat di barzah.

Sa'i adalah penghormatan peran perempuan dan penghargaan atas kehidupan.

Sumber: Abby Perryman @Thinglink


Perjalanan ke Tanah Suci adalah sebuah pembelajaran dosis tinggi akan makna dan hakikat kehidupan manusia di dunia. Sa'i merupakan salah satu pembelajaran yang langsung diajarkan oleh Rasulullah secara turun-temurun hingga saat kita melaksanakan ritual tersebut. Sa'i adalah meletakan pengharapan, ketiadaputusasaan, dan keyakinan akan pertolongan Allah pada beban tertinggi yang mungkin diberikan kepada seorang wanita di muka bumi ini. Karena, tiada satupun rasanya manusia (tidak hanya wanita) yang sanggup berfikiran positif tatkala ditinggal sendiri dengan bayi yang masih lemah di suatu lembah tandus, berhawa ekstrim (panas dan dingin), tiada bertanda kehidupan, dan tanpa perbekalan yang cukup. Inilah salah satu dosis tertinggi kepercayaan kepada perintah Allah yang diajarkan melalui Sa'i. Siti Hajar melaluinya dengan keteguhan yang melebihi karang di lautan, sehingga tiada satupun kaum beriman yang tidak mengenali keluarga Ibrahim di Makkah, yang dari silsilah keturunannya dimuliakan dengan datangnya Nabiullah Muhammad SAW. Maka esensi Sa'i  yang pertama perlu dicatat adalah memuliakan perjuangan wanita muslimah. Tidak ada satupun agama yang menghargai perjuangan perempuan demikian tinggi selain Islam. 
Esensi berikutnya adalah bahwa jangankan manusia, setiap mahluk hidup (dabbah) di kolong langit ini dijamin rezeki dan hidupnya oleh Allah. Oleh karena itu, dalam interaksi dengan manusia, baik masih dalam kandungan hingga sudah renta, setiap nyawa wajib dihargai dan diupayakan semaksimal mungkin pemenuhan hak-hak kehidupannya hingga pertolongan dan qadar Allah berlaku atasnya. 
Dari pelajaran Sa'i ini, penempatan seseorang dimanapun adalah takdir Allah yang perlu diterima dan disyukuri. Akan ada hikmah dan kebaikan-kebaikan yang diberikan Allah secara bertambah-tambah apabila kita mampu mensyukuri hal tersebut. Sesuatu amanah yang kita percayai datang dari Allah di suatu tempat perlu diemban dengan sebaik-baiknya, walau terkadang terasa memberatkan pada awalnya. Oleh karena itu, menyelenggarakan kebaikan-kebaikan atas sesuatu yang diperintahkan Allah dalam amanat berkarya, bekerja, dan berinteraksi di suatu daerah penempatan itu bernilai tinggi disisi Allah dibanding cinta terhadap kemudahan dunia, anak, dan seterusnya, 
Esensi penting lainnya adalah dalam keluarga, suami dan istri harus saling mempercayai satu dan lainnya, saling percaya bahwa satu dan lainnya tidak akan mengerjakan sesuatu yang dilarang Allah. Karena dari sinilah sumber keluarga teladan dibentuk, yaitu dari orang tua yang saleh dan salehah.
Pelajaran akan berlari-larinya Siti Hajar sebanyak tujuh kali untuk berusaha mencari air ataupun pertolongan kafilah yang mungkin berlalu, sekalipun kecil peluangnya, adalah contoh yang perlu diteladani. Man jadda wa jadda. Barang siapa yang berupaya di jalan Allah, maka ikhtiar merupakan doa dari dimensi fisik, biologis, dan mental yang terbaik. Maka keyakinan dan ketawakkalan akan menggenapi doa dari dimensi spiritual. Allah selalu punya rencana yang terbaik bagi setiap hambanya, maka percaya akan takdir Allah adalah sebuah ketawakkalan tertinggi setelah ikhtiar yang maksimal.
Allah adalah Maha Menyayangi mahluk-Nya. Kasih dan Sayang-Nya meliputi segala sesuatu di muka bumi, dimanapun kita berada. Fase Sa'i adalah terapi 'kembali ke nol' dalam dimensi fisik, biologis, dan metal yang melepas semua kesombongan materi, kedangkalan fikiran, kekuatan fisik yang terbatas, dan berbagai keakuan mahluk menuju kepasrahan total, sehingga kita akan berkata: tiada kekuatan fisik melainkan dari Allah, tiada kesehatan melainkan dari Allah, tiada rezeki dan materi melainkan pemberian Allah. Energi dan fikiran positif kembali pada Allah di tingkat tertinggi ini bukan sesuatu yang 'taken for granted' atau begitu saja tercipta. Inilah latihan kehidupan terhebat yang dicontohkan keluarga Ibrahim yang diajarkan oleh Rasulullah SAW di fase akhir pendakwahan Islam beliau. 

***

Allahumma salli `ala Muhammad wa`ala ali Muhammad, kama sallayta `ala Ibrahim wa’ali Ibrahim wabarik `ala Muhammad wa`ala ali Muhammad, kama barakta `ala Ibrahim wa’ali Ibrahim, innaka hamidun majid. 

Ya Allah, berilah shalawat kepada Muhammad dan keluarga Muhammad, sebagaimana Engkau telah memberi shalawat kepada Ibrahim dan keluarga Ibrahim. Dan berilah berkah kepada Muhammad dan keluarga Muhammad, sebagaimana Engkau memberi berkah kepada Ibrahim dan keluarga Ibrahim. Sesungguhnya Engkau Maha terpuji lagi Maha Mulia.

Comments

Popular posts from this blog

Nilai gizi pada jagung dan turunannya

Kembali ke akar: Penggalan Cerita dari Muara Ancalong

Melanjutkan Tradisi Generasi Emas Smansa