Saatnya Penelitian Tidak Sekedar Berluaran Publikasi Scopus-minded

Kemungkinan besar tentang akan berakhirnya rezim publikasi Scopus-minded adalah keniscayaan di waktu dekat. Selain biaya ratusan ribu dolar yang dikeluarkan per tahun, dampaknya belum terlalu dinikmati masyarakat. Beberapa pihak sudah mulai nyaring menyuarakan perubahan paradigma kewajiban publikasi di Scopus-listed jurnals sebagai arus utama kinerja dosen menjadi pencapaian yang lebih memiliki arti (meaningful achievement).

Publikasi memang menjadi sebuah buah dari penelitian yang dieksekusi dengan baik, tapi sudah seharusnya bukan menjadi hal yang utama. Hasil penelitian sebaiknya lebih applicable di masyarakat. Ada dampak yang diperoleh masyarakat dalam arti luas.

Salah satu kelemahan rezim publikasi Scopus-minded adalah barier bahasa yang rakyat miliki. Rakyat yang tidak terbiasa membaca publikasi ilmiah akan terkena triple burdens: (1) kekurangmampuan membaca ulasan ilmiah, (2) kendala bahasa, dan  (3) paid wall, apabila artikel jurnal yang dipublikasikan bersifat tidak open access. Oleh karena itu, bila hasil penelitia adalah artikel ilmiah, publikasi hasil penelitian akan lebih bijak lagi diutamakan untuk meningkatkan kualitas jurnal-jurnal di Indonesia, dipublikasikan dalam bahasa sendiri, dan dapat diakses dengan lebih baik oleh orang Indonesia.

Perubahan arah output penelitian diperlukan untuk meningkatkan impact dari penelitian itu sendiri. Contohnya: implementasi keilmuan yang diperoleh dari penelitian fundamental dan penerapan metode/proses/aplikasi industri.

Sebagai ilustrasi, hasil penelitian fundamental perlu dinikmati masyakat ilmiah dalam bentuk pengajaran teoritis, pengembangan sains, dan pengujian teorema dengan berbagai sudut pandang. Ini berarti, mengaplikasikan hasil penelitian fundamental memiliki dampak fundamental juga sebagaimana cita yang diinginkan dari sifat penelitian yang dilakukan.

Ilustrasi lain di penelitian terapan adalah diterapkannya prinsip-prinsip yang telah dikaji secara lebih luas. Produk Terapan dapat selanjutnya dieksploitasi oleh masyarakat untuk meningkatkan perekonomian rakyat. Produk terapan berupa metode atau proses baru diharapkan diimplementasikan dan terus disempurnakan.

Oleh karena itu, desain penelitian sudah selayaknya menganut prinsip 1+1 atau 2+1, dimana 1 atau 2 tahun pengembangan diikuti dengan minimal 1 tahun implementasi. Kewajiban output dapat digeser utamanya dari jurnal menjadi literatur-literatur tepat guna yang dapat diakses, ataupun paten-paten yang dapat diimplementasikan dengan lebih mudah oleh publik.

Ada tiga hal yang dapat dirangkum dari wacana pendek ini:
(1) output publikasi di jurnal-jurnal yang Scopus-minded bukan selalu jadi capaian wajib, tapi sebagai capaian tambahan.
(2) output penelitian lebih baik diarahkan kepada implementasi, yaitu tahun terakhir dari penelitian haruslah bersifat implementatif dengan melibatkan stakeholders yang lebih luas spt. komunitas ilmiah ataupun masyarakat secara umum.
(3) paradigma skema yang memisahkan penelitian dan pengabdian masyarakat sebaiknya perlu ditinjau, karena salah satu penikmat hasil penelitian yang paling dekat adalah rakyat Indonesia, seperti pemerintah (dalam wujud policy brief), industri, dan komunitas ilmiah.

Comments

Popular posts from this blog

Nilai gizi pada jagung dan turunannya

Kembali ke akar: Penggalan Cerita dari Muara Ancalong

Membangun Universitas (3): Menjabarkan Pola Ilmiah Pokok