Dibalik ranking universitas yang tinggi

Pendahuluan
Beberapa ide dari negara sahabat - ada beberapa hal yang menarik sebagai hasil lawatan kami di beberapa negeri. Mungkin sebagian ide ini dapat diterapkan di institusi perguruan tinggi di Indonesia. Akan tetapi, mungkin pula sebagian tidak sesuai dengan "kultur" yang saat ini ada. Peringatan: tulisan ini mungkin membuat panas, tapi sekali lagi ini adalah proses bisnis perguruan tinggi di negeri-negeri orang.
Secara cepat, ide-ide itu terdiri dari (A) rotasi pimpinan, pengajar antar perguruan tinggi dan klasifikasi perguruan tinggi, (B) fokus anggaran pada prestasi tridarma: penelitian (publikasi, impact dan sitasinya), pengabdian masyarakat (komunitas, UKM, masyarakat luas), dan pengajaran, (C) sistem akademik yang ketat dan interkoneksitas berbasis IT, (D) internasionalisasi standar pelayanan dan bahasa untuk tenaga kependidikan/staf adminiatratif, dan (E) kerjasama lintas PT dalam kluster yang sama.

A. Rotasi pimpinan, pengajar antar perguruan tinggi dan klasifikasi perguruan tinggi.
Dalam beberapa sistem khususnya di Universitas milik negara, Vice Councellor (VC) adalah eksekutif tertinggi yang menangani tugas harian di PT. VC di universitas-universitas ini memiliki beban yang berat, yaitu terus meningkatkan kredibilitas akademik PT di tingkat nasional dan internasional. Maka, VC secara langsung bertanggung jawab terhadap key performance indicators (KPI) yang ditetapkan, seperti: jumlah publikasi dan sitasinya, jumlah mahasiswa asing, ketepatan waktu lulus (graduation on time), selain kepatuhan terhadap pelaporan keuangan (financial compliance). Dalam kluster "prestasi", VC yang ditempatkan adalah orang-orang terbaik. Secara nasional, VC dan pengajar dapat dirotasi, sehingga basis kinerja mereka dapat diklusterisasi.
Visi Internasionalisasi, berarti menginternasionalkan pengajarnya juga. Salah satu upaya yang dilakukan adalah membuat beberapa universitas model dengan 100% tenaga pengajar berkualifikasi S3 dan memiliki kultur publikasi yang kuat. Bagi sebuah universitas, mengejar 2000 publikasi setahun akan mudah dicapai dengan 1000 pengajar yang produktif, dibandingkan universitas yang hanya memiliki 20-50 pengajar produktif dalam publikasi.
Tak salah memang, pada akhirnya akan ada dua kelas universitas: "Vocational & Teaching University" dan "Research University" berdasarkan produktivitas riset para tenaga pengajarnya. Kelas pertama adalah "Vocational & Teaching University" bermakna, tujuan universitas ini adalah menyediakan SDM yang unggul dari sisi pemanfaatan teknologi, pemecahan masalah, kerjasama, analisis dan keterampilan teknis yang dibutuhkan dunia kerja. Fokus tenaga pengajar di universitas kelas pertama ini mentransfer teknologi yang ada di pasar untuk digunakan generasi selanjutnya, melatih kemampuan mendefinisikan masalah, menyelesaikan masalah, dan menyiapkan SDM yang secara keterampilan teknis dapat diserap oleh industri.
Kelas kedua adalah "Research University", yang bermakna tujuan universitas ini adalah menciptakan teknologi masa depan, inovasi, serta mendorong ekonomi melalui pemberdayaan teknologi dan teori-teori baru. Fokus tenaga pengajar di kelas universitas ini adalah riset dan pengabdian masyarakat, sekaligus menjadi tempat berlatihnya SDM-SDM muda dalam fokus tersebut.

B. Fokus anggaran pada prestasi tridarma
Visi tanpa program adalah angan-angan. Alokasi waktu, sumberdaya, dan tenaga mencapai visi tridharma yang unggul harus pula jelas. Dana hibah penelitian memang harus untuk sumberdaya dan capaian penelitian. Peneliti membeli bahan-bahan yang dibutuhkan melalui sistem "credit card", sehingga alokasi dan peruntukkannya dapat dipantau. Dana pengabdian masyarakat, juga harus untuk meningkatkan impact PT di masyarakat. Parameter perlu jelas. Misal, riset dan pengabdian seharga 50 juta, intangible outputnya juga senilai 50 jt.
Seorang pimpinan universitas yang mengemban tridarma di depan harus memberikan contoh, atau bahasa Ki Hajar Dewantara: ing ngarso sung tulodo. Seorang pimpinan tetap harus peduli pada pengajaran, riset, dan pengabdian masyarakat. Untuk itu, pimpinan harus mengalokasikan kebutuhan tridarma secara formal pada setiap tahun anggaran sebagai perwujudan tanggungjawab dan kepedulian terhadap tridarma yang diemban oleh universitasnya.
Untuk penganggaran, cara paling mudah dalam memperlihatkan kepedulian terhadap output pengajaran, publikasi, dan pengabdian masyarakat adalah memberikan sistem reward yang lebih mengutamakan pada penilaian output tridarma, ketimbang pada jabatan. Untuk tenaga non pengajar, parameternya adalah luaran berupa seberapa banyak percepatan atau pekerjaan tepat waktu birokratis dalam mendukung output pengajaran, publikasi, dan pengabdian masyarakat.

C. Sistem akademik yang ketat dan interkoneksitas berbasis IT.
Secara nasional, sistem akademik mau tidak mau harus mengakui adanya jurang input mahasiswa antara yang sangat capable (sangat terasah) dan yang belum capable (belum terasah). Untuk itu penjurusan dan program persiapan bersama perlu dilakukan di tingkat pertama perkuliahan. Tujuannya adalah pemetaan minat dan bakat mahasiswa, yang secara umum terbagi menjadi enam kelompok: peminatan kultur dan seni, linguistik dan bahasa, riset, kepemimpinan, keterampilan teknis, dan kepandaian fisik atau atletik. Penjurusan dilakukan selain berdasarkan nilai akademik, juga berdasarkan minat yang dimiliki. Maka, setiap mahasiswa akan mendapatkan kesempatan yang sama dalam mengembangkan "given strength" yang setiap individunya berbeda.
Otomatis, model perkuliahan mayor-minor atau lintas prodi perlu diberlakukan dengan kewajiban mengambil core unit minimal 60%. Sistem IT menjadi tulang punggung dari model perkuliahan ini. Adanya tracking kemampuan akademik dan minat juga memberikan kesempatan tertentu untuk mahasiswa yang di tingkat tiga. Kesempatan itu misalnya terdiri dari pertukaran mahasiswa atau pola perkuliahan industri tingkat nasional (national exposure), konversi prestasi nasional dan internasional ke dalam poin transkrip, konversi output seperti publikasi tingkat nasional terakreditasi/internasional yang diakui sebagai pengganti ujian akhir.
Sistem akademik yang ketat dan interkoneksi IT juga berarti single-sign on dan database mahasiswa nasional secara perlahan harus dibenahi. Nomor Induk Mahasiswa berlaku nasional sebagaimana nomor KTP/SIM.

D. Internasionalisasi standar pelayanan dan bahasa untuk tenaga kependidikan/staf adminiatratif
Tidak ada universitas berskala internasional yang pelayanannya belum menggunakan bilingual. Peningkatan kapasitas tenaga kependidikan atau administratif khususnya dalam standar pelayanan dari sisi ketepatan waktu, sistem, dan bahasa pun harus dikembangkan, sehingga layak disebut berstandar internasional. Pertama yang dapat dilakukan adalah penyiapan generasi baru tenaga kependidikan baik yang diangkat sebagai non PNS dan honorer. Rekrutmen harus dibuat terbuka (pengumuman terbuka) dan harus mampu melewati "passing grade" tertentu dengan sistem ujian "computer assisted test".
Kedua, perlu ada upaya peningkatan staf kependidikan yang telah ada serta menghindari penolakan atau resistensi untuk berkembang. Sistem reward dan punishment dalam bentuk insentif diberikan/ditahan serta refreshing course yang terjadwal perlu untuk distandardisasi antar universitas.

E. Kerjasama lintas PT dalam kluster yang sama 
Tidak ada saru universitas yang memiliki semua keahlian atau fasilitas yang dibutuhkan. Sistem klusterisasi universitas perlu dijembatani lebih lanjut dengan pencangkokan model-model kerjasama lintas universitas yang terus-menerus. Paradigmanya, kolega adalah teman berkembang, rantai terlemah dari satu kluster adalah anggota institusi yang terlemah. Untuk itu, sistem harus menjamin bahwa kolega sesama institusi di kluster saling bantu untuk mencapai hasil yang optimal.

Penutup
Sekali lagi, ide-ide dalam tulisan ini mungkin menohok cukup kuat terhadap kultur PT yang ada saat ini. Apa boleh buat, untuk mengejar kompetensi dan kompetisi nasional, kita perlu mengakui ketertinggalan, lantas bangun dan berupaya ekstra keras dalam memajukan pendidikan PT di negara ini. *Catatan ini ditulis 23-24 Desember 2019 di Penang dan Kuala Lumpur, disempurnakan 22 Januari di langit Jakarta-Balikpapan.

Comments

Popular posts from this blog

Nilai gizi pada jagung dan turunannya

Kembali ke akar: Penggalan Cerita dari Muara Ancalong

Membangun Universitas (3): Menjabarkan Pola Ilmiah Pokok