Era Normal Baru Pendidikan Tinggi

Bicara tentang 4.0, kampus merdeka, IT _Fusion_, _embedded learning_, dan segudang jargon lain, semua itu sekarang memang benar-benar  sedang terjadi. Pemicunya tak lain pandemi COVID-19.  Siapa mengira pendidikan harus kembali berbasis keluarga, dilaksanakan dari rumah ke rumah, dan _method of delivery_ menjadi _streamlined_,  _singular_, yakni berbasis virtual. Pandemi yang seakan belum terlihat ujungnya ini akan memaksa universitas, akademi, dan sekolah tradisional untuk beradaptasi.

Sebelum memulai apa-apa saja yang akan berubah, perlu diingat: semua prediksi mengandung kecacatan akan  Prediksi yang baik bukanlah yang sekedar tepat, tetapi memberikan ancang-ancang akan kebijakan yang perlu diambil di masa dekat. Nah, apa saja prediksi tentang pendidikan di era normal baru ini?

Ada empat poin perubahan sektor pendidikan di era normal baru: (1) otomasi meningkat, kebutuhan staf pendukung berkurang, (2) menguatnya riset - walau peluang semakin selektif, (3) dosen/guru multi talenta, (4) pembelajar mandiri akan bertahan, sisanya akan masuk sektor non-formal.

Seiring kebutuhan, pendidikan era normal baru tidak bergantung pada tatap muka fisik (TMF), tetapi porsi tatap muka virtual (TMV) akan meningkat drastis. Secara otomatis, sistem akan dibuat menunjang hal tersebut, misalnya: (a) _secure digital signature_, (b) sistem registrasi, pemberkasan, surat-menyurat, presensi, verifikasi, dan sertifikasi elektronik, (c) _artificial intelligence_ (AI) _assisted learning_. Dampaknya: kebutuhan akan staf pendukung dapat dipangkas 50 s.d. 60%. Tentu ini adalah ancaman bagi kelompok pekerja staf pendukung. Tapi peluang bagi mereka yang mau beradaptasi menjadi _maintainer_, operator, dan QC _inspector_ dari sistem-sistem tersebut.

Kebutuhan riset dengan hasil yang benar-benar diperlukan masyarakat akan meningkat drastis. Misalnya: topik riset akan terkonsentrasi di _policy based research_, kemandirian pangan, stabilitas ekonomi, bahan baku farmasi dan pangan fungsional, IT, AI, sarana penunjang TMV, material maju, nanofikasi, produksi, dan otomasi.  Riset-riset trivial yang berorientasi hanya publikasi atau laporan akan hilang dengan sendirinya akibat minimnya pendanaan. Sisi sebaliknya, pengabdian masyarakat akan meningkat karena hasil-hasil riset yang diterapkan atau _social engineering_ itulah yang dicari masyarakat.

Manusia yang bertahan bukan yang terkuat dan terpandai, tapi yang selalu beradaptasi. Kebutuhan "pengajar" akan berkurang, karena "materi dan pengajar" tersedia secara daring. Pembelajar secara natural akan belajar dari pengajar yang menjelaskan dengan cara paling mudah dimengerti. Pengajar yang tidak "daring" akan kehilangan kesempatan -dus- akan tersisihkan dalam beberapa masa ke depan. Lebih lanjut, AI akan menggantikan peran pengajar. Pengajar dengan talenta tunggal - kecuali yang sangat menguasai ilmunya - akan tersingkirkan akibat pembelajar yang lebih memilih mereka yang memiliki pemahaman lebih baik dan mampu menjelaskan dengan cara lebih mudah dimengerti. Pengajar yang terancam tersingkirkan adalah mereka yang tidak berubah, tidak menyempatkan diri untuk belajar. Contoh perubahannya adalah menjadi peneliti yang  produktif, penulis materi dan konsep pembelajaran, atau mempelajari kemampuan multidisiplin. Era normal baru yang dibawa COVID-19 ini memang sungguh mengubah wajah dan postur pendidikan.

Pembelajar pun demikian. Untuk kali pertama, paradigma _learning with your own speed_ nyaris 100% berlaku. Pembelajar yang menyerah pada keadaan, tak mungkin maju.  Hanya mereka-mereka yang benar-benar mau belajar, yang akan bertahan. Coba saja usaha untuk hadir di kelas daring. Berapa jauh pembelajar berjalan mencari sinyal untuk berinternet di negeri ini?  Bagai mana sikap pembelajar? Tertidur di kasur, mendengarkan di kamar mandi, atau duduk tertib menyimak sembari membuka referensi lain dari internet untuk memperkaya materi yang diajarkan? Seberapa tertib pembelajar menyelesaikan tugas-tugas mandiri?

Empat yang di atas adalah tantangan, sekaligus ancaman bagi civitas akademika: staf pendukung, guru dan dosen, dan pembelajar.

Lantas, apa sikap bertahan hidup dan transformasi yang diprediksi akan diambil institusi pendidikan? (1) efisiensi, (2) kolaborasi, (3) peningkatan kompetensi, (4) penguatan institusi.

Langkah pertama tentunya efisiensi -- bukan tak mungkin penerimaan dari biaya pendidikan akan jauh berkurang, secara otomatis penghematan akan dilakukan. Sektor yang akan dipangkas duluan adalah transportasi untuk kepentingan koordinasi. Sektor berikutnya adalah kegiatan yg bersifat miskin luaran. Setelah kedua sektor ini tak dapat lagi dihemat, maka pilihan logis bertahan hidup adalah _negative growth_  staf kurang produktif. Sekali lagi, staf yang bertahan adalah mereka yang bekerja keras dan mampu beradaptasi.

Langkah kedua adalah kolaborasi. Dana kerjasama, bantuan, donasi eksternal, dan riset yang terbatas menyebabkan banyak kegiatan harus dikolaborasikan. Satu kegiatan yang menghasilkan multi-output dan multi-_impact_. Kolaborasi dan konsorsium akan menjadi ujung tombak. Dan konsorsium yang baik adalah yang mampu beradaptasi serta _deliver_.

Peningkatan kompetensi adalah sebuah keharusan. Setiap individu semakin memiliki tanggung jawab terhadap dirinya, tidak dapat lagi berlindung dibalik kerja kolektif atau menyalahkan keterbatasan fasilitas. Setiap orang memiliki waktu yang sama, 24 jam. Pilihan-pilihan akan perubahan lah yang menentukan perbedaannya. Yakin bahwa saat ini pimpinan makin mengetahui sesiapa pengajar, periset, dan staf pendukung yang memang dapat diandalkan. Tanpa ada perubahan sikap dan kompentensi, maka pelan-pelan staf maupun pengajar yang tak mampu beradaptasi akan tersingkir. Perubahan tak perlu dimusuhi, karena era normal baru akibat COVID-19 telah di depan mata.

Terakhir adalah penguatan institusi. Contoh yang dilakukan adalah perkuatan sarana riset, pengabdian masyarakat, sertifikasi fasilitas, sertifikasi layanan, investasi di bidang IT, otomasi, dan penguasaan teknologi yang spesifik serta berguna.

Pertanyaannya ada dua, satu mengandung variabel bebas, yang lain memiliki variabel tak bebas.
Apakah pandemi COVID-19 ini cepat berakhir, sehingga pendidikan tak perlu masuk era normal baru?
Sudah siapkah kami, Anda, kita, untuk masuk era normal baru yang dipicu oleh pandemi ini?

Comments

Popular posts from this blog

Nilai gizi pada jagung dan turunannya

Kembali ke akar: Penggalan Cerita dari Muara Ancalong

Menempatkan Gagasan Ibnu Khaldun tentang Pembagian Tenaga Kerja di dalam Ekonomi Modern