Kembali ke akar: Penggalan Cerita dari Muara Ancalong

(bagian 1)

Sejauh burung mengepak sayap
Sejauh kaki dunia telah dijejak
Tanah leluhur kembali dihadap
Kembali ke akar bagi sang anak


Diceritakan oleh: 
Anton Rahmadi putera pertama dari anak bungsu keluarga Ali Tey/Wira Ali/Khatib Ley, Muara Ancalong

Diawali sebuah undangan pernikahan Sdr Azhari Rahmadani, keponakan dari Bapak Gazali (Jali), kakak sepupu dari pihak bapak, kami sekeluarga memutuskan untuk menjenguk tanah leluhur di Desa Kelinjau, Kecamatan Muara Ancalong, Kabupaten Kutai Timur, Kalimantan Timur. Tidak kurang 15 mobil yang berisi para keluarga berdatangan dari Samarinda, Berau, Balikpapan, Tenggarong, Kota Bangun, Sei Meriam dan lainnya untuk menghadiri acara ini.

Perjalanan


Perjalanan ke Muara Ancalong dapat ditempuh melalui jalur poros Tenggarong Seberang dilanjutkan ke a rah Sebulu, sebelum akhirnya mengambil rute melintas kawasan  Hutan Tanaman Industri (HTI) Surya Hutani Jaya (SHJ) dan Perkebunan Kelapa Sawit Cahaya Anugrah Plantation (CAP). Setelah menempuh 2 jam perjalanan dari Sebulu, kami tiba di simpang SDC Batu Ampar, untuk mengambil lajur ke kiri, ke arah Kecamatan Muara Bengkal. Perjalanan berlanjut sekitar 1,5 jam dari simpang tersebut untuk tiba di Kecamatan Muara Ancalong. Jalur yang dilalui adalah jalan tanah yang dikeraskan dengan batu pecah, sebagai jalur utama pengangkutan kayu dari HTI ke site pengolahan pulp.


Jalur menuju Muara Ancalong melewati kebun sawit masyarakat di Desa Benua Baru, Muara Bengkal, 2014

Asal muasal Desa Kelinjau

Desa Kelinjau Hilir dan Hulu saat ini berusia lebih dari 110 tahun (ref) sebenarnya merupakan desa pindahan dan pecahan dari desa lain bernama Kampung Benua Lawas, di Ancalong (anca = sesajian, long = sungai atau dataran di tepi sungai yang dihuni). Akar suku dari penduduk Ancalong adalah suku Pantun yang merupakan induk dari suku-suku di sekitar Muara Kaman, Long Mesangat, Muara Bengkal, Muara Ancalong, Senyiur, hingga Muara Wahau. Suku Pantun dianggap sebagai salah satu suku tertua bisa dilacak hingga Kudungga, pendiri kerajaan Kutai pertama (ref1., ref2). Sebagian penduduk menganut agama Islam yang menyebar sebagai akulturasi budaya dengan Suku Wajo dari Bugis, Suku Banjar dari Kalimantan Selatan dan suku Minangkabau dari Sumatera. Suku-suku yang menganut agama baru ini kemudian disebut sebagai suku-suku Haloq (ref). Pemberian nama Dayak dan pembedaan dengan suku Kutai sendiri baru dikenal setelah era penjajahan Belanda (ref), sebagai bagian dari politik memecah-belah (divide et empera).

Desa kelinjau Hilir dari atas Jembatan Kelinjau, 2014

Warga suku Haloq (sekarang: Kutai) Kampung Benua Lawas ini pindah sebagai upaya menghapus kenangan masa lalu perang antar suku diperkirakan terjadi sekitar 130-120 tahun lalu dengan dua buah desa di kawasan Long Segar dan Long Noran (Kecamatan Telen, Kutai Timur). Salah satu bentuk kenangan yang diberikan atas peristiwa ini adalah nama Desa Ngayau di tepi sungai Ngayau (asal kata: Ayau, Kayau, Mengayau yang secara literal berarti memenggal kepala). Kampung tersebut lantas pindah ke muara sungai, sehingga disebut Muara Ancalong. Adapun perang antar suku akibat kayau-mengayau lambat laun punah karena pengaruh Kerajaan Kutai Kertanegara (kutai Islam) yang semakin kuat, dan adanya perjanjian-perjanjian antar suku seperti  Tumbang Anoi di Kalimantan Barat dan Tengah (ref) dan Sepinggan di Balikpapan, Kalimantan Timur (ref)

Sebagaian wilayah Desa Ngayau dan Kecamatan Muara Ancalong, seperti daerah Bonto Asu, yang meliputi puluhan hektar tempat tanah leluhur kami berladang, beralih status menjadi hutan di era kepemimpinan Bupati Isran Noor (ref), sebagaimana diceritakan oleh Busu' Jafar anak dari Haji Hasan, sepupu kakek kami.  Upaya merekonstruksi sejarah memiliki tantangan yang cukup besar, mengingat secara alamiah, daerah aliran sungai di daerah hulu Mahakam akan berpindah karena pembentukan delta, sungai mati (gelumbang), jalur baru (terusan), dan anak-anak sungai (luah) yang berpindah tempat secara alamiah. Sebagai bukti, kawasan makam para datuk kami di seberang sungai Kelinjau (disebut juga sungai Telen) sudah runtuh menjadi sungai, sementara kawasan berpasir berpindah secara lambat-laun ke bagian lebih hilir dari Desa Kelinjau.

Tantangan Melestarikan Sejarah

Menceritakan sejarah secara lengkap dan runut juga bukan merupakan tradisi suku Kutai, sehingga pengetahuan biasanya putus setelah beberapa generasi.  Tradisi lisan ini juga diamati pada rendahnya pengetahuan akan obat-obatan alamiah yang diturunkan dari generasi ke generasi sejak tercatat di era penjajahan Belanda (ref). Proses pengetahuan yang turun temurun mendapat tantangan disaat era bapak-bapak kami yang mulai merantau mencari kehidupan di Samarinda dan sekitarnya. Transfer pengetahuan menjadi terputus, untuk itu diperlukan sebuah upaya pencatatan secara sistematis.  Adalah kami, para dingsanak yang berusaha menggali kembali penggalan-penggalan cerita masa lalu untuk dituliskan dan diceritakan sebagai peninggalan (legacy) kepada generasi masa depan.

Saat ini, tradisi sungai di hulu Mahakam mendapat tantangan berat akibat rusaknya ekosistem sungai dan perairan air tawar seperti danau dan rawa, sebagaian habis tertimbun atau kering karena menjelma menjadi perkebunan kelapa sawit ataupun debit yang semakin kecil karena serapan air yang semakin sedikit sebagai akibat hutan yang habis ditebang.

  Bangkai kapal di bantaran sungai Kelinjau sebagai tanda beralihnya era transportasi sungai ke darat, 2014.

(bersambung ke bagian 2)

Comments

Popular posts from this blog

Nilai gizi pada jagung dan turunannya

Melanjutkan Tradisi Generasi Emas Smansa