Karena FSF, Amerika menjadi miskin?

Dua buah tulisan yang dimuat dalam kolom opini penulis undangan PCMedia edisi 03/2009 dan 04/2009 memuat tentang Free Software yang dituding menjadi salah satu penyebab Amerika jatuh miskin.

Beberapa hal yang tidak sejalan dalam opini-opini tersebut diantaranya:
1. Kenyataan bahwa Amerika jatuh karena mereka kehilangan daya saing (competitiveness) bukan knowledge.
Daya saing, di era Industri dan bisnis mungkin salah satunya dibangun karena Industri tersebut memiliki pengetahuan lebih (riset/closed-source/propiertary knowledge) yang dilindungi hukum semisal paten, resep rahasia, dan sejenisnya. Tapi patenpun ada masa kedaluarsanya, 20 tahun kemudian.
Competitiveness bukan tumbuh dari sebuah knowledge, melainkan proses penemuan kreatif pengetahuan-pengetahuan baru yang terus menerus. Sebabnya? ada banyak cara mencapai satu hal. Sekali level pengetahuan tercapai, maka kita harus menapak ke tingkatan pengetahuan yang lebih tinggi.
2. Amerika jatuh karena defisit, dimana tingkat konsumsinya lebih besar dibandingkan kapasitas produksinya. Ibarat besar pasak daripada tiang, seberapapun kaya sebuah negara dan bangsa, apabila terus menerapkan pola belanja melebihi pendapatan, maka tinggal tunggu saja waktu kejatuhannya.

Baik, itu adalah alasan kejatuhan ekonomi Amerika. Sekarang apa hubungannya dengan FSF, open source dan sebagainya.

Lisensi yang diterapkan FSF untuk hasil karya piranti lunak memang mencengangkan. Bahwa karya seseorang boleh diubah, digandakan, didistribusikan (baik di jual kembali atau diberikan begitu saja), dengan catatan siapapun yang mengubahnya harus menyediakan kode perubahannya untuk orang lain. Sekilas ini merupakan sebuah "perampasan" hasil keringat yang berupa piranti lunak.
Konsep FSF dibangun atas dua pondasi: for the greater good dan liberalis murni. Lagi-lagi, ini mungkin bertentangan dengan konsep bisnis konvensional. Bagaimana mungkin produk hasil keringat yang sudah memakan waktu, tenaga, dan biaya dilepas begitu saja dengan lisensi FSF?

Itu adalah logika bisnisnya. Tentunya Amerika prominen sebagai produsen piranti lunak, dan semua perusahaan terbesar TI bermarkas disana. Bagaimana konsekuensinya?

1. Dikenal dan biaya pengembangan menurun
SUN membuka source Java, sebuah bahasa program yang luar biasa besar dan kompleks, dengan jargon utama yaitu: sekali koding, jalan diperangkat keras/sistem operasi apapun. Development cost dari Java apabila tetap dalam kondisi closed-source membebani pendapatan SUN. Sebagai pencipta dan pengembang Java, SUN mendapatkan keuntungan ganda: bahasa yang semakin populer, terjangkau, dan semakin stabil tanpa biaya yang terlampau besar.

Jadi, keuntungan dari sisi bisnis yang pertama adalah: nama (popularitas) dan penyusutan biaya pengembangan yang signifikan. Pendapatan? SUN memperoleh banyak pendapatan dari maintenance, implementasi, dan setup-system perusahaan-perusahaan yang menggunakan Java dan membutuhkan kemampuan profesional dalam supporting system mereka. Bagaimana saham SUN ? Sekalipun di era krisis, SUN masih bertahan kuat.

Update 13/12/10:
Sun sudah dibeli oleh Oracle.

2. Memperoleh teman dari seluruh penjuru dunia (dengan gratis!), biaya rekrutmen berkurang.

Prinsip ekonomi mengatakan, banyak teman banyak rejeki. Inilah dunia shared-knowledge. Semakin bagus kemampuan seseorang di dunia global ini, maka dia bisa bekerja dimanapun, kapanpun, untuk siapapun. Lisensi-lisensi yang dikeluarkan FSF (yang salah satu prinsipnya open source) memberikan kesempatan review yang luas bagi perusahaan untuk mendapatkan resource yang diinginkan tanpa beban biaya rekrut yang besar.

Open source menjanjikan setiap orang yang mampu menghasilkan inovasi berkualitas untuk terus berkembang, bekarya, dan ajang pembuktian diri untuk dilirik perusahaan. Ini keuntungan yang cukup penting bagi perusahaan.

3. Meningkatnya kemakmuran di tempat lain, respek bisnis, dan membuka ladang usaha baru.

Sudah aksioma, bila hendak menjual, carilah orang yang mampu membeli. Satu negara yang tingkat kemakmurannya jauh melebihi negara lainnya rentan banyak hal: keserakahan, perilaku monopolistik, dan menurunnya produktivitas. Disisi Industri pun pasar menjadi terbatas.

Dengan open source (berlisensi dari salah satu produk FSF), kemakmuran dalam jangka panjang bisa diciptakan di tempat lain. Sebabnya: Open Source melatih orang yang terbiasa membajak menjadi menghargai karya orang lain, melatih pergerakan bisnis dalam standar yang disepakati bersama. Yang terpenting, melatih transparansi dan ketaatan pada hukum. Dimana ada standar dan peningkatan ketaatan pada hukum, disanalah ada peluang bisnis.

Normatif?

Ya, lisensi-lisensi produk FSF memberikan paradigma bahwa pengetahuan bukan lagi tangan terkuat menggapai kemakmuran (sendirian), tetapi menjadi produktif, inovatif, dan tetap kompetitif adalah inti dari menggapai kemakmuran itu.
FSF merubah pola bahwa satu penemuan untuk kemakmuran hingga ke anak-cucu, bukan merupakan hal yang bijaksana. Kemakmuran (sendirian) tidak akan bertahan tanpa membuat orang lain menjadi makmur (sehingga tetap mampu menggunakan jasa kita). Inilah yang disebut konsep "for the greater good".

Comments

Popular posts from this blog

Nilai gizi pada jagung dan turunannya

Kembali ke akar: Penggalan Cerita dari Muara Ancalong

Melanjutkan Tradisi Generasi Emas Smansa