Softskill (lagi)

Berikut cuplikan diskusi hangat dari sebuah milis keteknologian pangan:

> Ada matakuliah kewiraswastaan, saya kira salah
> satu untuk meningkatkan soft-skill. praktikum terpadu (saya dengar),
> juga sudah menitikberatkan aspek ini.

> > Bekerja di dunia apapun kemampuan-kemampuan interpersonal, team building dan
lain-lain mutlak diperlukan.


Untuk soft-skill saya setuju dengan teman-teman disini. Ada setidaknya 4 hal
utama yang harus dibangun:

karakter - komunikasi - kredibilitas - loyalitas

1. Kejujuran adalah karakter.
2. Menepati janji/komitmen sekalipun mungkin kelihatannya merugikan adalah
komunikasi yang paling efektif.
3. Memberikan hasil adalah kredibilitas.
4. Tidak bergosip adalah loyalitas.

> Padahal soft skill itu bisa didapatkan sendiri ketika menjadi menjadi mahasiwa
(my humbel opinion), jika mahasiwanya sadar dan tergerak untuk meningkatkan
soft-skill-nya.

Konon di School of Medicine UWS Sydney dipraktekkan sistem tugas 100% PBL. Jadi
mereka dilatih belajar berkelompok, saling presentasi dan diarahkan oleh satu
mentor (PhD student). Di TPG/ITP karena praktikumnya berkelompok, sebenarnya
jiwa teamwork-nya sudah terbangun.

Cuma bedanya, masing-masing individu belum dilatih untuk berani berpendapat
(sekalipun salah/sepele).

Ada dua hal kecil yang mungkin bisa kita terapkan di bangku kuliah:
(1) mendukung apapun pendapat yang dikeluarkan mahasiswa (Dosen eksplisit
memberikan apresiasi atas keberanian berpendapat). Menegur yang mentertawakan
pendapat orang lain supaya mereka berani menemukan keunikannya.

(2) mengarahkan mereka belajar berkelompok, tetapi hasilnya tetap ditulis
masing-masing. Artinya problem dipecahkan bersama, tetapi tugas dikumpulkan
individual dan tidak boleh co-pas (copy-paste). Tujuannya untuk melatih mereka,
bahwa di dunia nyata, "satu masalah tidak dipecahkan dengan cara seragam".

Comments

Popular posts from this blog

Nilai gizi pada jagung dan turunannya

Kembali ke akar: Penggalan Cerita dari Muara Ancalong

Melanjutkan Tradisi Generasi Emas Smansa