Jangan takut rayakan lebaran dengan santan

Selamat Hari Raya Idul Fitri, Maap Lahir Batin.
Jangan takut untuk makan yang berkuah santan, karena banyak riset membuktikan bahwa makanan bersantan ternyata merupakan diet yang tidak menyebabkan penyakit jantung koroner dan tidak menyebabkan obesitas.

Indonesia merupakan salah satu produsen terbesar coconut oil (dan palm oil), dimana ekspor keduanya merupakan jantung perekonomian Indonesia yang sustainable dari sektor agraris.

Mungkin banyak yang belum tahu bahwa sejak negara-negara industri juga menghasilkan seeds oil (minyak dari biji-bijian: seperti sunflower, corn) dan animals oil (beef-tallow, pig-lard), perang menguasai pasar versus tropical oils (palm based) telah lama dikibarkan. Diantara yang menjadi skandal adalah peranan ilmuwan-ilmuwan negara industri "melacurkan" hasil penelitian mereka untuk membuat minyak biji-bijian terlihat superior dari minyak asal tropis (dan mediteranian oil: olive).

Caranya ada banyak:

Minyak kelapa dan sawit buruk bagi kesehatan -- tidak juga!

Pencitraan bahwa minyak-minyak tropis (palm based -- including coconut oil) berdampak buruk terhadap kesehatan sudah berlangsung puluhan tahun. Notorious claim yang paling sering digunakan adalah kandungan saturated fats yang tinggi ~50%. Lama sekali klaim ini sempat beredar (termasuk salah satu tulisan di artikel detik.com sehari sebelum Lebaran tahun ini) dan pada akhirnya ilmuwan-ilmuwan dari negara produsen minyak tropis (dengan adanya asosiasi palm oil producers) berhasil melakukan retaliation of opinions. Klaim ini sekarang tidak valid lagi, karena ternyata saturated fats tidak seburuk yang dicitrakan. Malah, dalam masyarakat tropis yang dietnya masih berbasis minyak asal kelapa, hampir tidak didapati hubungan langsung antara peningkatan kolesterol (in fact malah menurunkan kadar kolesterol jahat!), penyakit kardiovaskuler (pembunuh manusia no. 1), diabetes, dan obesitas dengan konsumsi tinggi minyak. Sebaliknya minyak biji-bijian ternyata tidak stabil apabila digunakan pada suhu penggorengan tinggi (not suitable for deep frying oil), sementara animals oil (tallow and lard) kepentok masalah lain: halal dan vegetarian! Banyak akhirnya fast food asal negara-negara Industri menggunakan palm oil kembali, sedang minyak kelapa sendiri semakin mantap posisinya di dunia farmasi. Intinya, perang opini ini pada akhirnya dimenangkan oleh coconut and palm oil, penjualan minyak tropis semakin meningkat.

Minyak kelapa dan sawit merusak lingkungan -- apa iya?

Setelah banyak negara dan industri pangan diseluruh dunia kembali menggunakan coconut and palm oil (bagus bagi ekonomi bangsa kita), sekarang negara-negara industri menggencarkan perang melawan tropical oil (utamanya palm oil)dari sisi lingkungan. Argumentasi yang mendasari adalah:
  1. monoculture palm oil akan merusak diversitas karena dilakukan dengan cara membuka hutan yang mengakibatkan punahnya flora dan fauna.
  2. monoculture palm oil berada pada posisi negatif dari total carbon balance, sehingga menaikkan overall carbon emission dari suatu negara.
Dampak ekonomi dari RSPO ini semakin terasa: Burger Kings misalnya telah menolak/memutus kontrak pembelian palm oil dari Indonesia karena tidak bersertifikat sustainable (roundtable sustainable palm oil initiatives). Inilah wilayah perang opini baru:
  1. Apakah kita termakan (secara mentah-mentah) bahwa palm oil kita harus disertifikasi, dimana proses sertifikasinya tidak mudah dan pada akhirnya (apabila diterapkan secar sempurna) harga dari palm oil tidak mungkin ekonomis dan bersaing dengan seeds oil?
  2. Adakah kita juga harus mengkampanyekan sustainable seeds oil, betapa ternyata monoculture seeds oil juga sama merusak lingkungannya dengan palm oil?
Tentunya kita tidak perlu 20 tahun untuk melakukan rebuttal (sekali lagi).

Demikian kilasan pengetahuan yang mendasari ucapan berlebaran saya.
Sekali lagi: jangan takut makan makanan bersantan, karena tidak terbukti menyebabkan penyakit jantung koroner dan obesitas!

Update 13/12/10:
Mengamati hasi publikasi seputar coconut oil (dan virgin coconut oil), semakin banyak ilmuwan yang berhasil membuktikan aspek kesehatan dari minyak tropis ini (silakan lihat daftarnya).

Comments

Popular posts from this blog

Nilai gizi pada jagung dan turunannya

Kembali ke akar: Penggalan Cerita dari Muara Ancalong

Melanjutkan Tradisi Generasi Emas Smansa