Mengembangkan Sistem Inovasi Daerah secara Tematik (bagian ke-2)

Sistem Inovasi Daerah merupakan suatu peta jalan inovasi yang dikembangkan dan didukung oleh semua elemen yang berada di statu daerah. Tentunya peta jalan ini bersifat "tematik", sejalan dengan kepentingan para pemangku kepentingan (RPJM, kegiatan ekonomi riil, fokus riset, dsb), dan  berkelanjutan.

Pemangku Kepentingan

Melanjutkan tulisan sebelumnya, tentang membangun sebuah Sistem Inovasi Daerah, kali ini saya ingin bercerita tentang bagaimana upaya sinkronisasi kegiatan dari keempat pemangku kepentingan inovasi yang terdiri dari Akademisi (Academics), Bisnis/Industri (Business), Pemerintah (Government), dan Komunitas (Community) dalam upaya mencapai sinergi pengembangan inovasi.
Keempat pemangku kepentingan utama ini memiliki peran-peran yang saling tidak terpisahkan dalam meningkatkan daya saing bangsa.  Sisi Akademisi berperan sebagai pendukung riset, inovasi, pengembangan kapasitas sumber daya manusia, dan pelaksana inkubasi dalam tataran prototipe produk-produk industri kreatif (hilirisasi hasil-hasil penelitian).  
Dukungan dari Akademisi sebaiknya dimanfaatkan oleh Bisnis/Industri dengan cara memanfaatkan prototipe-prototipe yang dihasilkan sambil memberi umpan balik akan performa produksi kepada Akademisi. Demikian, Bisnis/Industri mampu mengembangkan produknya untuk selalu pada siklus produktivitas dan marketing tertinggi yang kemudian terus-menerus dikembangkan secara berkelanjutan dan terdiversifikasi.
Pemerintah diharapkan membantu pelaksanaan pengembangan inovasi dalam bidang yang menjadi tugas pokok dan fungsinya, yaitu regulasi, peraturan, kebijakan, dan penyediaan stimulus-stimulus bagi keberlangsungan inovasi tersebut.  Pemangku kepentingan yang lain adalah komunitas yang memberikan daya dorong dari sisi inkubasi bisnis dan penyediaan iklim usage (motivasi) yang mendukung bagi terciptanya industri kecil/menengah/besar berbasis inovasi.  

Menuju terciptanya Sistem Inovasi yang tematik

Setiap daerah pasti memiliki kekhasan yang didorong menjadi penciri bagi perkembangan ekonominya. Akan halnya dengan Kalimantan Timur yang sangat kuat dengan empat nuansa pembangunan sesuai dengan RPJMD terakhir, yaitu bidang Agroindustri dan turunannya, Pengembangan Kawasan (Ekonomi) Terpadi, Pengembangan Infrastruktur, dan perhatian kepada Keberlangsungan Ekologis.  Dalam hal ini, Kalimantan Timur berperan untuk mendukung upaya global mencapai parameter-parameter Pembangunan yang Berkelanjutan (Sustainable Development Goals). Ini sejalan dengan upaya pemerintah propinsi dalam mendukung empat fokus integrasi pembangunan nasional yaitu di bidang Energi, Ketahanan Pangan, Maritim, dan Teknologi Informasi.

Apabila dijabarkan lebih lanjut, pengembangan ekonomi di Kalimantan Timur sudah harus meninggalkan kebergantungan pada sumber daya alam dan mulai menuju pada pola pengembangan ekonomi berbasis efisiensi. Salah satu indikator pola pengembangan ekonomi berbasis efisiensi adalah basis pengembangan inovasi di industri kecil/menengah/besar baik sektor produk maupun jasa mendapat porsi 30-60% dalam pendapatan kotor propinsi Kalimantan Timur.  Untuk itu diperlukan upaya yang koheren antar pemangku kepentingan, sebagaimana telah dijelaskan pada bagian pertama tulisan ini. Salah satu judul yang dapat diangkat dengan merangkum semua potensi yang ada di Kalimantan Timur adalah pengembangan ekonomi bertema sentral "Eko-Industri Kreatif berbasis Sumber Daya Tropis Berkelanjutan." 


(bersambung)

Comments

Popular posts from this blog

Nilai gizi pada jagung dan turunannya

Kembali ke akar: Penggalan Cerita dari Muara Ancalong

Melanjutkan Tradisi Generasi Emas Smansa