Youtube menjelajah ranah politik

Metode kampanye tradisional dimana calon bertemu dengan konstituen sudah semakin diperkaya dengan berbagai macam variasi. Di tahun 2001, seiring dengan otonomi daerah, kampanye menggunakan media televisi mulai menjadi opsi. Beragam jargon dan janji muluk dapat disebar menggunakan media elektronik ini yang mampu dijangkau masyarakat luas.
Tahun 2007, sebuah gebrakan baru dimulai di Australia, dengan murahnya fasilitas membuat video,semua orang dapat menjadi lawan debat ataupun mendukung calon mereka menggunakan youtube.
Secara khusus, debat mulai berpindah dari media publik yang harus menggunakan dana yang besar, menjadi bersifat personal. Utopia bahwa tidak mungkin memuaskan semua pihak, tampaknya akan berusaha diminimalisir dengan menerima saran dan kritik individual menggunakan video respons yang dimiliki youtube. Fasilitas terakhir inilah yang memungkinkan terciptanya debat yang runut dan dapat balas membalas.
Akankah pola ini diadopsi di Indonesia ?
Tampaknya selama akses internet belum secepat dan semurah di luar negeri, debat publik menggunakan ruang maya belum akn berkembang. Konstituen masih banyak yang "offline" sehingga tidak efektif mengadakan debat yang hanya akan dilihat segelintir orang. Tetapi, secara teknologi, hal ini dengan mudah diatasi, misalnya dengan membuat youtube-like website, setelah temanster dan komunitas sekolah (ksi) cukup sukses memimik friendster.
Adalah melakukan edukasi agar konstituen semakin sering "online" yang menjadi tantangan berat. Secara teknis, tidak ada masalah, namun secara budaya, mengemukakan pendapat individual masih menjadi kendala.
Dua kendala yang perlu direduksi ialah kendala mahalnya biaya internet dan ketakutan mengemukakan pendapat pribadi.
Apabila keduanya sudah mampu diatasi, saya yakin kita akan melihat bahwa bangsa ini akan semakin kreatif, semakin tidak bergantung pada pemerintah, dan semakin maju dalam pola pikirnya. Lho ?
Mudahnya, apabila seseorang berani mengemukakan pendapat pribadinya, berarti dia punya prinsip, punya rasa percaya diri, tidak malu untuk berbeda, dan menyadari bahwa tiap-tiap orang memiliki pendapatnya masing-masing.
Jadi... akankah trend politik Indonesia maju dengan teknologi video to video seperti yang dilakukan saat ini di Australia ? Ataukah, seperti biasanya, bangsa kita menemukan cara baru yang jauh "lebih efektif" ketimbang negara tetangganya ?

Comments

Popular posts from this blog

Nilai gizi pada jagung dan turunannya

Kembali ke akar: Penggalan Cerita dari Muara Ancalong

Membangun Universitas (3): Menjabarkan Pola Ilmiah Pokok