Membangun Universitas (3): Menjabarkan Pola Ilmiah Pokok

Sebuah Universitas yang maju biasanya memiliki keunggulan atau keunikan tertentu bila dibandingkan dengan universitas yang lain. Keunggulan tersebut dijabarkan dalam Pola Ilmiah Pokok (PIP) dan Rencana Induk Penelitian (RIP).

Prof. Idrus Patrussi dari Universitas Hasanuddin mendefinisikan PIP sebagai orientasi pemikiran strategis dalam pendidikan di Universitas bagi pengembangan Tri Darmanya (pengajaran atau pembelajaran, pengembangan dan penelitian, dan pengabdian pada masyarakat) berdasarkan kompetensi yang diunggulkan oleh suatu perguruan tinggi.

Universitas Mulawarman, setidaknya sebagaimana yang tercantum di dokumen Rencana Strategis tahun 2001 atau kurang lebih 16 tahun silam, telah menyatakan bahwa PIP universitas adalah Hutan Tropika Basah dan Lingkungannya (HTB+L). Pemaknaan akan HTB+L ini perlu untuk diperluas mengingat situasi, semangat pembangunan regional, perkembangan kampus, gugus-gugus keilmuan yang berkembang di universitas telah berubah dibandingkan dengan kondisi saat PIP tersebut ditetapkan.

Menurut Dr. Suyadi, sumber daya alam (SDA) hutan merupakan mother of development pada saat PIP HTB+L ini ditetapkan. Saat ini status hutan tropis masih ada, tetapi suasananya telah berbeda. Perlu diberikan tambahan pemahaman akan HTB+L sehingga lebih dapat diterima oleh semua fakultas. Dalam pemaknaannya, HTB+L dapat dimanfaatkan oleh fakultas-fakultas yang tidak secara langsung memiliki hubungan “kajian ilmiah” dengan HTB+L. Namun, keterkaitan antara fakultas-fakultas lain dengan HTB+L adalah dari sisi sosial-kultural, ekonomi, humaniora, dst yang berciri khas pada HTB+L. Saat ini hutan bukan lagi merupakan mother of development di Kalimantan, sehingga perlu diambil pandangan ilmiah terhadap kondisi aktual HTB+L. Dalam hal ini, HTB+L perlu dirawat dan diusahakan, dan bukan lagi taken for granted sebagaimana tahun-tahun awal pembangunan (1970an). HTB+L menentukan ketersediaan SDA lain, misalnya air. Carrying capacity dari air untuk pembangunan di kawasan Kalimantan Timur bergantung dari pada HTB+L.

Menurut pandangan Prof. Lambang Subagyo, HTB+L juga perlu memuat aspek geohidrologi. Selain itu, pemahaman luaran PIP perlu dilakukan dengan proses adaptasi sesuai dengan fakultas masing-masing. Suatu fakultas dapat bercirikan SDA, sosio-kultural-humaniora, atau geografis-geohidrologi. Keunikan tersebut harus muncul di dalam naskah akademik dan definisi HTB+L yang akan dirumuskan. Lebih lanjut, universitas yang berwawasan internasional akan lebih mengarah pada keunikan yang diangkat dalam HTB+L. Dimana diharapkan universitas dapat mengekspose keunikan akan PIP HTB+L dalam bentuk tridarma PT, utamanya dalam bentuk tulisan-tulisan yang dapat diakses secara luas. Penciri internasional adalah adanya Pusat kajian/UPS yang berkaitan dengan HTB+L semisal gambut, orang hutan, dsb. Keunggulan akan HTB+L ini diharapkan menjadi ciri internasionalisasi yang dimiliki universitas, dalam hal ini adalah Unmul.

Dari pendapat-pendapat tersebut, rumusan PIP HTB+L diperluas menjadi: Kumpulan mega-diversitas biotik dan abiotik dalam wujud umum hutan yang berada di kepulauan yang dikelilingi oleh lautan dan selat yang terdapat di sekitar garis khatulistiwa dengan suhu dan kelembaban rata-rata yang tinggi dan curah hujan yang signifikan, dengan aspek-aspek yang dibangun di sekitar atau di dalam HTB sebagai sumber-sumber kearifan lokal, keberlanjutan, dengan memiliki keterikatan antara satu sama lain, seperti: geohidrologi, diversitas alam, ekonomi, kesehatan, lingkungan, sosial, budaya, hukum, pendidikan, keteknikan dan humaniora.

PIP HTB+L bersifat unik dilihat dari aspek (1) geografis (lempeng bumi), (2) topografis (bentang alam), (3) iklim, (4) mega-diversitas biotik dan abiotik, (5) budaya, Bahasa, adat istiadat, dan (6) interaksi sosial (lokal, nasional, internasional).

Konsep pengembangan HTB+L adalah mengacu pada prinsip berkearifan lokal, berkelanjutan, dan integratif. Dimana Menurut Prof. Mustofa Agung Sardjono, terdapat empat dimensi penting dalam prinsip-prinsip tersebut, yaitu (1) Integritas Ekologis, (2) Efisiensi Ekonomi, (3) Identitas Kultural, (4) Ekuitas Sosial. Berlandaskan pada panduan Unesco (1991), dimensi-dimensi ini kemudian dijabarkan dan dikembangkan sesuai dengan prinsip-prinsip yang dianut.

Dimensi integritas ekologis dimaknai sebagai: 

  1. Menjaga carrying capacity dari Bumi 
  2. Intensifikasi pemanfaatan sumber daya dengan kerusakan minimal pada bumi 
  3. Pembatasan penggunaan sumber daya tidak terbarukan dan polusi 
  4. Konservasi sumber daya terbarukan 
  5. Daur ulang (recycling
  6. Substitusi sumber daya tidak terbarukan/berbahaya dengan terbarukan/tidak berbahaya 
  7. Pengurangan limbah 
  8. Teknologi yang mendukung efisiensi pemanfaatan sumber daya 
  9. Pertanian dan Agro-forestri berkelanjutan 

Dimensi efisiensi ekonomi dimaknai sebagai:

  1. Investasi sektor privat dan publik yang stabil 
  2. Efisiensi alokasi dan manajemen sumber daya 
  3. Peningkatan produktivitas per satuan sumber daya 
  4. Inovasi dalam produk dan proses produksi 
  5. Perhatian pada dampak kerusakan lingkungan 


Dimensi identitas kultural dimaknai sebagai:

  1. Modernisasi yang berkearifan lokal 
  2. Perubahan kultural yang gradual 
  3. Penerapan konsep normatif yang sesuai 
  4. Pengembangan masyarakat secara menyeluruh 
  5. Pemanfaatan ekosistem biotik dan abiotik yang bijaksana (produktif, efektif, dan efisien) 


Dimensi ekuitas sosial dimaknai sebagai:

  1. Pertumbuhan yang stabil 
  2. Pemenuhan kebutuhan dan hak asasi dasar 
  3. Distribusi pendapatan dan aset yang berimbang 
  4. Peningkatan kualitas kehidupan (entitlements
  5. Pengurangan jurang standar kehidupan antara yang memiliki akses/mampu dan tidak memiliki akses/tidak mampu 


Sementara, ranah kontribusi perguruan tinggi dalam pelaksanaan tridarmanya adalah pada ranah (1) Dasar (Basic), (2) Terapan (Applied), (3) Adaptasi dan Difusi Teknologi, dan (4) Pengembangan Kapasitas (Capacity Development).

(bersambung)

Comments

Popular posts from this blog

Nilai gizi pada jagung dan turunannya

Kembali ke akar: Penggalan Cerita dari Muara Ancalong

Melanjutkan Tradisi Generasi Emas Smansa