Kalau pengalaman saya begitu, mengapa orang lain perlu berbeda?

Dulu, sewaktu aq diterima jadi pegawai negeri, dan harus mengikuti prajabatan (tapi harus bayar sendiri..), ada seorang pejabat mengatakan: "itu biasa kok, kami dulu juga begitu". Pejabat yang lainnya mengatakan "saya sudah hampir 40 tahun mengabdi di sini, dan memang seperti itu".

Setelah lama difikir-fikir, melakukan affirmasi (mungkin bukan kali ya?) dengan cara seperti ini hanyalah melakukan justifikasi dari sebuah sistem yang kurang tepat untuk dipertahankan. Sering sekali seseorang mencoba meletakkan kacamatanya pada orang lain, hanya dikarenakan orang lain juga berbuat demikian. Sama halnya dengan politikus yang mengatakan "saya melakukan ini karena yang lain juga demikian". Teori "mengikuti arus" memang banyak digunakan di negaraku, namun yang ingin diikuti adalah mengikuti arus yang mengenakkan. Apabila buntut-buntutnya sang pemimpin ditangkap karena melakukan kesalahan, para bawahan yang melakukan kesalahan yang sama akan berkata "saya terpaksa, saya tidak berdaya, dan saya tidak bisa melawan kehendak pimpinan). Atau dengan kata lain "mencoba melawan arus atau berbelok dari arus yang sebelumnya diikuti".

Aq mengalami berkali-kali, dan mungkin orang lain juga merasakan hal yang sama dari diriku. Pertanyaannya apakah ini salah ?

Trully, this is a tricky question. Menjawab pertanyaan ini aq harus kembali berupaya untuk jujur terhadap motivasi murniku. Tidak berbohong terhadap diri sendiri, karena semakin berbohong akan semakin merasakan "there is something wrong". Sesuatu yang tidak bisa dibereskan hanya dengan sekedar beribadah, tetapi juga berupaya untuk membersihkan hati dari kecenderungan untuk membohongi orang lain.

Lho kok demikian? Menurut saya, dikarenakan setiap manusia cenderung untuk punya keinginan yang semuanya baik menurut pandangannya, apabila tidak berhasil menggapai sesuatu maka akan berupaya melakukan tiga hal: menutupi ketidakmampuan dengan mengatakan banyak orang lain yang bernasib sama, ada yang mampu tetapi dengan cara yang curang, atau tidak mampu mencapai impiannya karena takdir tuhan. Upaya pembohongan terhadap kemampuan potensial yang sama pada setiap manusia, menyebabkan dia berfikir apabila dia tidak mampu, maka yang lain juga (harus) tidak mampu.
Oleh karena itu, apabila ada seseorang yang hendak merubah sesuatu yang dia tidak mampu merubahnya, maka dia akan menularkan 'penyakitnya' tersebut pada orang itu. Setidaknya, itu adalah salah satu opiniku, mengapa tidak banyak perubahan yang dapat diharapkan.

Di sebuah mailing list, aq sudah cukup lelah mengatakan, bahwa perubahan yang tidak diusahakan (dengan maksimal) tidak perlu diharapkan untuk terjadi. Perubahan tidak perlu menunggu kesadaran orang lain untuk melakukannya. Seperti halnya, seorang pelajar tidak mau disalahkan karena kurang sopan menurut norma sosial ditempat tersebut, hanya dikarenakan melihat contoh yang sama dari gurunya.

Inilah yang sebenarnya terjadi, mengharapkan orang lain berubah (dan merasa mampu berubah setelah orang lain berubah). Tidak juga, banyak kasus terjadi, seseorang yang mengeluh karena kepanasan di kantor, dan berkata seandainya kantornya ada AC maka akan betah di kantor. Ketika "perubahan" tersebut datang, tetap saja tidak rajin masuk kantor. Sifat manusia, setidaknya yang aq pahami, tidak akan berubah karena lingkungan eksternalnya berubah, kecuali perubahan tersebut menyentuh kelangsungan hidupnya.

Oleh karena itu, dalam pemikiranku yang sangat subjektif ini, aq harus memerika motivasiku kembali, apakah aq sudah jujur terhadap diriku sendiri, sehingga dengan kemampuan tersebut, aq mampu mengubah pengalaman pahit bagi diriku menjadi pengalaman manis bagi orang lain. Setidaknya, orang lain tidak perlu merasakan hal yang pernah aq rasakan.

"However, the motivation to make the world better by being alive is much-much stronger than being a martyr" [Kenshin Himura, Samurai X]

Comments

Popular posts from this blog

Nilai gizi pada jagung dan turunannya

Kembali ke akar: Penggalan Cerita dari Muara Ancalong

Membangun Universitas (3): Menjabarkan Pola Ilmiah Pokok