Kehausan akan membaca

Secara tidak kusadari, waktu yang kupergunakan untuk membaca setiap harinya bisa mencapai lebih dari 6 jam. Apa saja sih yang dibaca? Seperti halnya makanan dan minuman, bacaan juga perlu memiliki variasi. Bidang ketertarikanku, Mikrobiologi, memegang porsi tertinggi, diikuti dengan informasi seputar Linux dan dunia komputer. Berikutnya ternyata email dan surat kabar. Sebagai yang keempat, aq menempatkan buku-buku pengembangan diri dan spritiual. Komik, adalah variasi terakhir dari menu bacaanku.
Membaca, bagiku merupakan sebuah cara untuk memperoleh wawasan. Bahkan dari beberapa komik, misalnya saja Donald Duck, ada banyak pengetahuan yang bisa diperoleh. Paman Gober menimbang uang adalah contoh yang sering ditemukan di komik tersebut. Ternyata, di beberapa negara, uang yang dicetak (dari logam) memiliki berat tertentu dan tidak pernah berubah selama puluhan tahun. Atau kata Timbuktu yang letaknya di "Selatan" kota Bebek, ternyata merupakan nama sebuah Gurun di Afrika, Tomboctou.
Komik lain yang sampai sekarang aq sukai adalah Samurai X, karena banyak filosofi kehidupan termuat disana. Opini penulis yang sangat-sangat mempengaruhiku adalah "Apabila Anda ingin berguna bagi orang lain, tetaplah hidup dan lakukan sesuatu dengan cara yang benar".
Berpindah dari komik ke akses terhadap bacaan. Di Sydney, ada beberapa even bursa buku dalam setahun. Tidak sama dengan di negeriku, di kota ini, penyelenggaraan bursa buku bukan dilakukan oleh toko buku, melainkan oleh sekelompok relawan pencinta buku. Lalu dari mana buku-buku tersebut. Inilah yang menggetarkan hati, buku-buku itu merupakan buku sumbangan ! Entah berapa ratus ribu buku yang mampu dikumpulkan setiap tahunnya untuk kemudian dijual kembali. Text books yang harganya selangit dapat diperleh dalam kisaran seratusan ribu di acara seperti ini. Jadi, masalah sumber buku, tidak pernah mengemuka di ibukota New South Wales ini.
Kadang-kadang ada pertanyaan yang sampai kepadaku, dengan koleksi seperti itu, kapan waktu membacanya ? Hmm, setelah merapikan kamar dalam waktu sebulan dua bulan belakangan, aq baru sadar bahwa yang berantakan bukan baju, oleh-oleh, ataupun makanan, melainkan buku. Satu waktu yang aq pasti habiskan untuk membaca buku adalah menjelang tidur. Sudah menjadi kebiasaan bagiku untuk membaca beberapa lembar (terkadang 1 buku) sebelum tidur.
Sudah merasa cukup? Sepertinya kehausan akan membaca ibarat minum air garam, semakin diminum semakin haus. Kalau bukan membaca pengetahuan yang seseuai dengan bidang ilmu, maka aq pasti akan menghabiskan waktu santaiku dengan membaca cerita-cerita, atau buku-buku pengetahuan umum.
Mengakui membaca sebagai hobi? tidak juga sih. Bagiku membaca is already a part of my life. Bagaimana dengan dirimu?

Comments

tari said…
hi Anton...ini tari, teman Aya n Dase..
ingat ga, tahun baru cina kemarin..

btw, aku ada info, di uniku ada winter class ttg biological computational. sapa tau berminat. plz visit:

http://bioinformatics.org.au/ws/

keep writing ya...especially ttg photography...btw, selamat yah..fotonya masuk di koran Sydney , mo comment tapi aku ga ikutan multiply...
satu kata : KEREEEENNNN !!! ^_^
Sqvalkic said…
Masi inget kok..
btw, sangat berminat dan murah.Sayangnya aq mau pulang tanggal 1 Juli. Mepet gitu persiapannya.
Aya Nurdin said…
Kalo aya, urutan pertama tuh buku2 psikologi, trus diikuti novelnya barbara cratland ama manga jepang terakhir baru buku2 kesehatan dan keperawatan.
Suka banget ngoleksi buku, tapi kadang belum punya waktu tuk ngebaca semua, palin banter chapter pertama atau bagian yg menarik aja, hehehe...
Wah mas anton mo pulang ya? Enak dong, ketemu family, salam ma keluarga ya^_^

Popular posts from this blog

Nilai gizi pada jagung dan turunannya

Kembali ke akar: Penggalan Cerita dari Muara Ancalong

Membangun Universitas (3): Menjabarkan Pola Ilmiah Pokok