Tempo Survey: 10 Besar PT di Indonesia

Dari PDIT Tempo, didapatkan hasil survey peringkat perguruan tinggi berdasarkan penilaian industri
1. UI 2. ITB 3. UGM
4. IPB 5. ITS 6. UNAIR
7. TRISAKTI-Jkt
8. UNPAD
9. ADMAJAYA-Jkt
10. UNDIP

Berikut adalah kriteria yang diinginkan oleh industri dari lulusan perguruan tinggi di Indonesia:
1. Mau bekerja keras
2. Kepercayaan diri tinggi
3. Mempunyai Visi kedepan
4. Bisa bekerja dalam Tim
5. Memiliki kepercayaan matang
6. Mampu berpikir analitis
7. Mudah beradaptasi
8. Mampu bekerja dalam tekanan
9. Cakap berbahasa Inggris
10. Mampu mengorganisasi pekerjaan

Sepertinya 'status quo' ini sudah berlangsung selama beberapa dasawarsa, namun belum tampak ada pergeseran yang berarti. Entah karena industri yang memang terpusat di satu atau dua pulau saja di Indonesia, atau memang karena iklim persaingan yang belum lazim ditemukan di universitas-universitas yang lain. Survey ini sangat menarik untuk dikritisi, namun juga dijadikan input yang berguna bagi universitas lainnya yang belum menduduki ranking.
Menjadi yang "terbaik" adalah impian semua universitas, namun hal tersebut terkendala dengan kemampuan masing-masing universitas untuk memanajemen kemampuan dan potensi yang dimiliki. Tidak usah berkecil hati bagi yang memiliki resource terbatas, ada baiknya memaksimalkan kemampuan dan meningkatkan kualitas pengajaran dijadikan sebagai kunci suksesnya, bukan sekedar meratapi ketidakberdayaan dalam persaingan.
Menjadi yang serba terbatas memang kenyataan yang harus dihadapi, tapi.. sekali lagi cerita lama membuktikan, yang menang bukanlah yang memiliki resource, tetapi yang mampu menjadikan potensial sebagai kinetis. Kembali kalau berbicara mengenai fasilitas, sebuah universitas di India bisa menjadi tiga terbaik di dunia karena mampu menciptakan iklim yang sangat kondusif bagi kemajuan pengetahuan, memacu mahasiswa untuk berkarya (bukan berdemo atau berpacaran saja).
Saya bercerita sekali lagi saat sempat masuk ke sebuah sekolah swasta yang "tidak ada apa-apanya" dalam kurun waktu 3 tahun mampu menjadi juara nasional selama beberapa tahun berturut-turut dengan siswa yang berbeda-beda. Kebanggaan untuk menjadi siswa sekolah tersebut menjadikan input semakin baik, dan otomatis mempermudah mengasah mereka untuk melampaui pencapain kakak-kakak kelasnya.
Faktor utama sebenarnya bukan 10 permintaan industri di atas, melainkan sebuah itikad untuk memajukan universitas, melebihi keinginan individu untuk sekedar menjadikan universitas sebagai ajang mencari nafkah. Pola fikir pengelola sangat berpengaruh, berkorban keuntungan 3% misalnya untuk menyediakan fasilitas jurnal dan perpustakaan yang mendukung riset-riset yang lebih besar akan segera terbayar dalam jangka waktu 3-5 tahun. Tapi, keberanian untuk memulainya memang menjadi tanda tanya besar, apalagi apabila 3% tersebut bisa diupayakan sebagai "keuntungan" sesaat.
Yang saya tahu, penyediaan fasilitas internet dan searching bagi mahasiswa akan sangat membantu mengenalkan dunia luar, memberikan wawasan tambahan, dan memperluas relasi. Bagaimana bisa percaya diri, kalau penguasaan terhadap keilmuan, siapa tokoh sebuah ilmu, dan seberapa jauh perkembangan pengetahuan tidak diketahui.
Satu faktor lagi yang perlu diperbaiki adalah kemampuan analisis. Menyalahkan sistem adalah hal yang mudah, tetapi tidak mudah untuk menyadarkan diri pribadi bahwa kontribusi masing-masing individu terhadap kemampuan berfikir analitis masih sangat kurang. Kemampuan fokus terhadap sebuah masalah, sebagaimana kemampuan untuk mengembangkan sebuah solusi yang logis dan runut terhadap masalah tersebut memerlukan pengajaran dengan porsi yang lebih banyak dibandingkan mendoktrin teori-teori dari transparansi usang ke ingatan seseorang.
Terakhir, tanggung jawab pendidik bukan hanya sekedar menyalahkan, melainkan juga memberikan jalan. Kredo bahwa guru adalah orang yang lebih banyak tahu harus dibuang, karena seorang ahli hanya ahli dibidangnya, banyak sekali yang masih tidak diketahui dari dunia ini bagi dirinya. Dengan demikian, tidak ada rasa sombong keilmuan yang menyebabkan para mahasiswa malas untuk menggali ilmu dan kemudian ikut merasa sombong karena berhasil menempuh jenjang-jenjang akademis dengan memasang deretan gelar-gelar di depan dan belakang namanya.
Saya ingin berkata pada diri sendiri: "Siapkah untuk berpacu mengubah status quo tersebut?"

Comments

Popular posts from this blog

Nilai gizi pada jagung dan turunannya

Kembali ke akar: Penggalan Cerita dari Muara Ancalong

Membangun Universitas (3): Menjabarkan Pola Ilmiah Pokok