Timbangan

Iseng-iseng Mertuaku mencoba menimbang mangga yang ia beli di pasar hari ini. Ternyata dari 1 kg yang ditimbang di pasar, ketika ditimbang kembali di rumah, terdapat selisih 150 gr lebih ringan.

Sudah jamak rasanya berita tentang tidak tepatnya timbangan di pasar tradisional. Hingga saat ini, marak diantara pedagang untuk mengambil keuntungan tidak legal dengan cara mengurangi berat timbangan dagangannya. Sebagai contoh, apabila kita membeli daging di pasar (yang selain mutunya dipertanyakan, juga acapkali lebih mahal dibanding di super mall) seberat 1 kg, maka sebenarnya berat riil-nya paling-paling berkisar 900 gram, atau didiskon 10%.


Gambar diperoleh dari kapanlagi.com

Allah berfirman tentang celakanya para pedagang yang mengurangi timbangan. Menyukat adalah istilah yang digunakan dalam kitab suci. Diriwayatkan pula, pedagang yang curang memiliki dua standar, saat membeli maka menggunakan ukuran yang lebih berat dari takaran yang digunakan saat menjual.

Celakanya, perilaku ini semakin menjadi-jadi, misalnya dengan disogoknya para pentera timbangan, sehingga timbangan bodong pun tetap beroperasi. Para pedagang hewan potong misalnya, melakukan penggelontoran air ke dalam hewan hidup sebelum dipotong, sehingga berat hewannya bisa meningkat hingga 15%. Sebuah tindakan yang curang, karena yang 15% itu bukan berwujud daging, melainkan air!

Tentu saja perilaku ini diharamkan. Begitu pula pedagang yang mengurangi timbangan 10-15% kepada pelanggannya, keuntungan 10-15% itu diperoleh dengan cara-cara yang haram.

Termasuk di dalam masalah “timbangan”, adalah terjadinya pemalsuan kualitas. Sering kali kita melihat bagian produk pertanian tertentu yang jelek diletakkan sebisa mungkin tidak dapat terlihat mata saat membeli, sehingga besar kemungkinan pembeli yang tidak jeli akan mengambil produk yang rusak. Pencampuran barang kualitas baik dengan yang buruk sering dilakukan untuk produk yang susah dikira-kira mutunya secara kasat mata. Beras misalnya, bagaimana menghitung persen beras pecah versus beras kepala oleh pelanggan, tanpa dibantu alatnya? Akibatnya, pedagang pun mengambil keuntungan yang haram sifatnya dari mencampur barang berkualitas tinggi dengan yang berkualitas rendah.

Adulterasi, adalah istilah keren pemalsuan kualitas. Tidak hanya terjadi di produk biji-bijian, juga terjadi di produk susu. Sebuah modus baru, mencampur pakan dengan melamin, sehingga kualitas nitrogen susu meningkat. Susu dengan kadar nitrogen tinggi mengindikasikan kualitas protein yang baik dan harganya juga tinggi. Padahal, nitrogen tersebut diperoleh dari tercampurnya melamin dalam susu.

Pertanyaan yang paling mendasar adalah, apabila mental kaum “bawah”, atau masyarakat pada umumnya begitu mudahnya memalsukan kualitas, meringankan timbangan, merugikan orang lain dan mengambil untung dengan cara-cara yang haram, bukankah berarti mereka juga akan mengangkat pemimpin-pemimpin yang setipe?


Jadi…

Jangan heran kalau korupsi tetap menjadi-jadi. Cara-caranya pun semakin keren dan susah ditangkap mata serta dibuktikan. Boleh jadi ini adalah azab kolektif, karena dari sendi kehidupan terbawah pun, di pasar tradisional, masyarakat kita terbiasa untuk mengambil keuntungan yang haram, merugikan orang lain.

Comments

Popular posts from this blog

Nilai gizi pada jagung dan turunannya

Kembali ke akar: Penggalan Cerita dari Muara Ancalong

Membangun Universitas (3): Menjabarkan Pola Ilmiah Pokok