Balas Dendam yang Diwariskan

Dulu, saya punya seorang rekan. Kebetulan dia sudah cukup lama malang melintang di satu bidang yang juga saya minati. Tentu saja pengalamannya adalah hal yang menarik untuk dipelajari. Namun, berteman juga berarti tidak sekedar bertukar pikiran atau mendapatkan manfaat ilmu, melainkan juga mendapatkan pengetahuan psikologis. Diantara beberapa aspek yang dalam hati saya pertanyakan adalah, dia ingin saya tidak terlalu dekat dengan 'musuh'-nya.

Kejadian ini tidak satu-dua kali saya alami, tetapi cukup sering. Berkenalan cukup lama dengan seseorang berisiko mengenal kelemahan orang itu, termasuk mengenal orang-orang yang kurang disukainya. Secara langsung ataupun tidak, "teman-teman" kita tadi akan memberikan opini dan "berupaya" mengarahkan opini kita untuk memandang jelek orang lain yang bermasalah dengan mereka. Padahal kita kurang mengenal orang yang dimaksud.

Upaya membelokkan opini bisa dilakukan dengan beberapa cara, termasuk dengan indoktrinasi. Teknik menanamkan perasaan benci atas sekelompok orang lain yang bukan golongannya tampaknya menjadi pemicu kerusuhan yang tak kunjung padam di lingkungan kita. Simak saja kasus terakhir tentang tawuran masal "mahasiswa" a.k.a preman beralmamater di sebuah kota besar di kawasan Indonesia Timur.

Orang tua pun demikian, sadar atau tidak sadar, melakukan hal yang sama kepada keturunan mereka. Misal saja, orang tua kita tidak setuju dengan cara-cara yang ditempuh oleh orang lain, yang menurut mereka melintasi norma-norma yang berlaku. Sekalipun mungkin belum dikategorikan kriminil (atau beruntung tidak tertangkap tangan?), cerita tersebut disampaikan pula kepada sang anak. Akibatnya, anak pun berpandangan negatif terhadap orang tersebut, padahal ia belum tahu karakter sebenarnya dari orang yang dimaksud. Kebencian/perasaan buruk telah diwariskan.

Dalam tataran ekstrim, seseorang yang mendendam merasa perlu membalaskannya. Keburukan dibalas dengan keburukan. Apabila dia tidak berhasil membalas, maka keturunannya diindoktrinasi agar membalaskannya. Dan ini banyak kita lihat di film-film Asia, maupun di sinetron lokal kita.

Bibit-bibit perpecahan demikian sudah saatnya distop. Beberapa cara yang pantas dicoba adalah:
- berupaya keras untuk tidak bercerita atau melebih-lebihkan, memanjang-manjangkan keburukan orang kepada orang lain.
- apabila tidak bisa dihindari, upayakan dilakukan dengan anonim; yaitu menceritakan perilaku yang buruk tanpa menyebut nama pelakunya.
- menerima keburukan orang lain sebagai bagian bahwa tiada manusia yang sempurna.

Dalam tataran tertentu, kita perlu menegur agar keburukan tidak terus terjadi. Memberikan hikmah dapat dilakukan dengan anonim. Disisi yang berlawanan, menceritakan keburukan dengan menyebut nama hanya akan memperpanjang permasalahan dan memindahkan kebencian dari seseorang pada orang lain, termasuk keturunan dan junior-juniornya.

Sanggupkah untuk memutus mata rantai pewarisan itu?

Comments

Popular posts from this blog

Nilai gizi pada jagung dan turunannya

Kembali ke akar: Penggalan Cerita dari Muara Ancalong

Melanjutkan Tradisi Generasi Emas Smansa