NAPE dan DNA pada terapi obesitas/kegemukan

Saat ini para peneliti masih sibuk dengan mencara gen-gen yang berkaitan dengan penyebab munculnya berbagai penyakit degeneratif. Beberapa publikasi diantaranya adalah faktor rusaknya simpul-simpul DNA pada penderita tumor, alzheimer, hingga cacat mental (down syndrome) telah dipostulasikan.

Akan tetapi, kesimpulan-kesimpulan tersebut belum bersifat final. Masih perlu puluhan tahun lagi sebelum penyakit degeneratif seperti ini dapat disembuhkan, baik dengan cara membuat obat spesifik ditargetkan atas gen tertentu, bahkan mungkin melakukan reparasi gen yang rusak.

Sekarang lagi ngetren jamannya gen. Semua keringat ditujukan untuk mencari faktor genetis dari berbagai persoalan, termasuk kegemukan/obesitas. Apa yang didapat?

Gambar: news.Yahoo.com
Science Daily memberitakan sebuah penelitian yang berkenaan dengan kegemukan dan gen. Untuk menghentikan kegemukan, dapat dikirimkan false signal yang diterjemahkan sebagai "kenyang" oleh otak, sehingga tikus percobaan stop mencari makan. Komponen itu bernama NAPE, sebuah senyawa yang dilepaskan usus setelah banyak mencerna lemak makanan. NAPE dikirim ke otak dan kemudian memberikan sinyal kenyang. Inilah yang menjadi dasar terapi/diet kegemukan.

Menariknya, N-acylphosphatidylethanolamine atau NAPE banyak ditemukan di tumbuh-tumbuhan yang sedang bergerminasi (berkecambah). Biji Kapas dan kentang misalnya.

Back to obesitas, Para peneliti tentunya mencari, komponen DNA apa yang fungsinya mendekode sinyal NAPE sehingga timbul sensasi kenyang tersebut. Sampai saat ini hasilnya masih minim. Lagi pula, banyak yang mengkritisi, bahwa diet NAPE belum terbukti ampuh dalam jangka panjang, karena tubuh bisa saja kehilangan sensitifitasnya terhadap senyawa ini.

Selain itu, NAPE juga belum mampu mencegah rasa lapar terhadap karbohidrat dan protein. Jadi ia bukan solusi yang all-in, melainkan baru spesifik terhadap lemak.

Berita terkait:
1. News @ Yahoo.com

Update:
Komponen lain yang berpengaruh terhadap pola makan adalah: malonyl CoA. Berikut petikannya:

The study focused on malonyl CoA, a molecule suspected of being one of the critical nutrients influencing hypothalamic regulation of eating behavior. Previous studies had shown that hypothalamic levels of malonyl CoA increase markedly after meals and are suppressed by fasting.
diperoleh dari tautan ini.

Comments

Popular posts from this blog

Nilai gizi pada jagung dan turunannya

Kembali ke akar: Penggalan Cerita dari Muara Ancalong

Melanjutkan Tradisi Generasi Emas Smansa